SerambiIndonesia/

Pilkada 2017

PA Protes Apa Karya

Dewan Pimpinan Aceh Partai Aceh (DPA-PA) memprotes tindakan calon gubernur Aceh dari jalur independen

PA Protes Apa Karya

* Mualem: Jangan Suka Nyontek

BANDA ACEH - Dewan Pimpinan Aceh Partai Aceh (DPA-PA) memprotes tindakan calon gubernur Aceh dari jalur independen, Zakaria Saman (Apa Karya) yang menggunakan desain atribut alat peraga kampanye (APK) mirip dengan APK milik pasangan Muzakir Manaf-TA Khalid.

Protes PA ini disampaikan dengan cara melaporkan pasangan Zakaria Saman-T Alaidinsyah ke Panitia Pengawas Pemilihan (Panwaslih) Aceh di Banda Aceh, Rabu (30/11).

Ketua DPA Partai Aceh, Muzakir Manaf (Mualem) menjawab Serambi via telepon Kamis (1/12) mengakui tim suksesnya dari PA mengajukan protes kepada KIP Aceh dan Panwaslih.

Menurutnya, protes ini diajukan karena beberapa mantan anggota PA yang maju dari jalur perseorangan (independen), sebagai pasangan calon gubernur/wakil gubernur maupun calon bupati/wakil bupati, menggunakan corak dan warna atribut/APK-nya meniru ciri khas atribut kandidat yang diusung PA. Yakni, berupa strip/les berwarna hitam, putih, merah.

Mantan panglima GAM ini mengatakan, para kandidat yang menggunakan atribut mirip bendera PA ini dulunya adalah pengurus dan anggota PA. Tapi setelah mencalonkan diri dari jalur perseorangan, maka mereka tak boleh lagi menggunakan atribut kampanye mirip atau menyerupai gambar dan corak ciri khas Partai Aceh. Soalnya, sama dengan yang digunakan pasangan yang didukung dan diusung PA.

Menurutnya, protes pihaknya ke KIP dan Panwaslih dimaksudkan agar gambar paslon yang akan digunakan sebagai alat peraga kampanye nantinya, tidak dirusak oleh simpatisan PA di lapangan. “Kalau protes ini tidak diindahkan, maka jangan salahkan pendukung PA bila terjadi kegaduhan antarpendukung akibat pencopotan atau pengrusakan atribut kampanye. Karena kita sudah mengingatkannya,” ujar Mualem.

Karena itu, dia berharap KIP Aceh dan Panwas tegas dan komit dalam menjalankan tugas dan fungsinya sebagai penyelenggara dan pengawas pilkada. Ia juga mengingatkan para kandidat yang maju dari jalur perseorangan atau non-PA, agar tidak membuat dan memasang atribut kampanye yang menyerupai gambar dan warna milik paslon gubernur dan bupati/walko dari Partai Aceh.

“Kalau mau menang dan dikatakan agam oleh publik, harus berinovasi dan kreatiflah. Jangan suka menyontek yang dibuat kandidat lain. Di sekolah saja, guru sangat marah jika ada murid yang suka nyontek. Mau jadi pemimpin masih suka nyontek, gimana nanti setelah terpilih diberi tanggung jawab yang besar oleh rakyat,” tutur Mualem.

Panggil tim
Sementara itu, Panitia Pengawasan Pemilihan (Panwaslih) Aceh, kemarin telah memanggil kedua tim pemenangan untuk memberikan klarifikasi terkait persoalan tersebut. “Sudah kita panggil kedua tim untuk dimintai klarifikasi. Kita hanya mendengar penjelasan dari kedua pihak, dari tim pemenangan nomor urut lima kita tanya bagian mana yang serupa dengan simbol mereka. Untuk pasangan nomor urut dua juga kita tanya, dan sudah ada jawabannya tadi,” sebut Ketua Panwaslih Aceh, Samsul Bahri SE MM kepada Serambi, Rabu (30/11).

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help