Citizen Reporter
‘Republik Turki Eropa Barat’
SEBAGIAN pembaca mengangap judul di atas terlalu berlebihan. Mungkin ada juga yang menginterpretasikan
OLEH ZULKHAIRI ARAFAH FARABY, alumnus Dayah Modern Darul Ulum, mahasiswa Administrasi Bisnis, Uludag University, melaporkan dari Turki
SEBAGIAN pembaca mengangap judul di atas terlalu berlebihan. Mungkin ada juga yang menginterpretasikan dengan cara berbeda, misalnya, eksistensi negara bangsa Turki tidak berdaulat seperti Republik Turki Timur (Xianjing) di Cina atau Republik Turki Siprus Utara di Siprus. Benar, keduanya merupakan negara yang ditinggal oleh bangsa Turki, namun legitimasi negara tersebut hanya diakui oleh Republik Turki saja.
Tapi, bukan itu yang akan saya bahas, melainkan diaspora warga Republik Turki yang berakar kuat di tepi barat “Benua Biru”.
Seusai Perang Dunia II, awal tahun 1950-an Jerman membuka pintu bagi imigran yang ingin mengadu nasib di Eropa dengan stasus pekerja tamu. Perang berkepanjangan menguras jumlah penduduk di negara Hitler itu. Mau tidak mau, pemerintah menyerap tenaga kerja asing untuk membangun kembali infrastruktur Jerman pascaperang.
Barulah setelah krisis minyak tahun 1973 pemerintah mengesahkan kebijakan untuk memberikan peluang kepada imigran asal Turki menjadi warga negara Jerman secara permanen. Pemberian status warga negara diprioritaskan kepada pekerja yang sudah berkeluarga ataupun menikah dengan orang Jerman.
Jumlah warga Turki yang tinggal di Eropa Barat lebih dari 4,6 juta jiwa. Konsentrasi terbesar diaspora Turki berada di Jerman, disusul Prancis, Austria, Ingris, dan Belgia. Di negara Mercedes Benz ini sekitar 1,9 juta jiwa berpaspor Turki, belum termasuk warga Turki dengan kewarganegaraan ganda ataupun pindah kewarganegaraan Jerman. Jumlahnya mencapai 1,9 juta jiwa hingga tahun 2016.
Setelah menikmati setiap sudut Kota Wina, lawatan kami berlanjut ke kota di selatan Jerman, Munich. Ini kota terbesar ketiga di Jerman sekaligus motor penggerak ekonomi Jerman.
Di setiap sudut Hausbahnhof, saya amati, penutur bahasa Turki terlihat merasa aman dan menikmati percakapan. Sebelum berangkat ke Erasmus, teman-teman Turki memang selalu mengingatkan untuk tak malu bertanya kepada orang Turki di Eropa. Salah satu teman menambahkan bahwa dosennya di Turki pernah bercerita tentang anak didiknya yang datang ke Jerman selama tiga bulan, namun bisa tetap hidup normal walaupun ia tak mengerti bahasa Jerman dan Inggris. Ada banyak orang Turki di Jerman dengan beragam profesi. Mulai dari sopir taksi, pekerja restoran, pemain bola seperti Mesut Ozil, sampai anggota parlemen Jerman dan Uni Eropa seperti Ismail Ertug.
Di Hausbahnhof kami berpapasan dengan sepasang muda-mudi yang berbincang dalam bahasa Turki. Kami pun langsung berbalik arah untuk bertanya letak masjid terdekat. Kami diantar sampai ke lokasi terdekat dengan masjid, tapi sayang masjid itu masih tutup. Rupanya masjid di Munich tutup 45 menit setelah shalat Subuh. Maklum, waktu masih pukul 9 dan kami belum sempat mengqada shalat Subuh.
Karena waktu shalat Asar sudah tiba, kami pun bergegas kembali ke masjid yang kami kunjungi tadi. Nama masjid itu Balkan Ev. Di samping masjid ada Kantor Pusat Studi Balkan Munich. Di antara masjid dan kantor juga ada ruang berbentuk kiraathane (warung teh ala Turki dan Balkan) disesaki orang-orang Balkan yang asyik bermain remi, tavla (permainan khas Turki), dan catur. Untuk berwudhuk, jamaah harus melewati kiraathane tadi sampai terlihat pintu berwarna merah marun. Ada tiga tempat wudhuk yang tersambung ke WC. Setelah jamak Zuhur dan Asar, kami sepakat istirahat sejenak sambil menunggu azan magrib berkumandang. Tiba-tiba seorang kakek datang bertanya dalam bahasa Arab. Rupanya beliau imam Masjid Balkan Ev sejak 20 tahun silam.
Ketika imam masjid tahu kami kuliah di Turki dan berasal dari Indonesia, beliau menjadi lebih ramah. Ia memuji sikap jamaah haji Indonesia yang santun, mudah tersenyum, dan suka menolong. Beliau kini bertanya dalam bahasa Turki dengan fasih. Umat muslim dari Balkan sudah terbiasa berinteraksi dengan warga Turki, tak jarang banyak juga yang sudah mahir bahasa Turki. Terlebih Balkan dan Ustmani punya sejarah yang panjang. Intinya, Balkan dan Turki masih serumpun. Sang imam pun mempersilakan kami wudhuk di ruangnya. Waktu Magrib tiba, jamaah tak seramai harapan kami. Suara bapak-bapak di kiraathane masih terdengar jelas. Mereka tak ikut berjamaah.
Dari masjid kami menuju Alianz Arena sekaligus meet-up dengan Bang Fiddin, komandan Ikatan Masyarakat Aceh Jerman (IMAN). Ia sedang menempuh pendidikan magister di Technical University of Munich (TUM). Setelah puas berfoto, kami meluncur ke pusat kota mencari restoran halal. Bang Fiddin menawarkan restoran milik Uygur yang terkenal murah. Semua pekerja di restoran ini fasih berbahasa Turki.
Pemerintah Turki mengirim imam-imam atau pegawai dari kementerian keagamaan untuk mengurus kebutuhan rohani warganya di Eropa. Masjid di Eropa, khususnya di Jerman, berfungsi bukan hanya sebagai tempat ibadah, tapi juga pusat kegiatan sosial warga, kegiatan belajar-mengajar, dan pusat olahraga ringan. Tujuannya agar warga Turki di Jerman tidak melupakan identitas dan budaya bangsa mereka.
* Jika Anda punya informasi menarik, kirimkan naskahnya, termasuk foto dan identitas Anda ke email redaksi@serambinews.com
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/zulkhairi-arafah_20161204_104833.jpg)