SerambiIndonesia/
Home »

Opini

Opini

Ketika 4 Desember Dilupakan

TULISAN ini hanyalah catatan kecil untuk mengenang hari bersejarah dalam pergerakan Aceh Merdeka

Ketika 4 Desember Dilupakan
SERAMBINEWS.COM/TAUFIK ZASS
Mantan Panglima GAM Wilayah Lhok Tapaktuan, Tgk Abral Muda sedang memberi sambutan pada Aceh pada Hari Ulang Tahun/Milad GAM ke 40 tahun yang berlangsung di Kantor Pemenangan Irwandi-Nova, Kota Fajar, Kecamatan Kluet Utara, Kabupaten Aceh Selatan, Minggu (4/12). 

Oleh Zarkasyi Yusuf

TULISAN ini hanyalah catatan kecil untuk mengenang hari bersejarah dalam pergerakan Aceh Merdeka, hari ulang tahun Aceh Merdeka yang pernah diproklamirkan Hasan Tiro 40 tahun silam. Tentu menyisakan sejumlah kenangan dalam hati setiap orang, terutama kenangan pilu akibat konflik yang telah merengut nyawa manusia dan menyisakan yatim dan janda. Saya sendiri punya banyak kenangan dengan hari 4 Desember, terutama dengan (Allah yarham) Ayah saya, namun itu semua kini menjadi lembaran kenangan, biarlah ia terukir menjadi untai sejarah, semoga Allah ampunkan dosa-dosa mereka yang telah tiada.

Jika diibaratkan, 4 Desember bagaikan cerita bersambung yang setiap episodenya punya fokus tersendiri, mulai dari dinanti-nantikan dalam kecemasan hingga dilupakan. Hal positifnya adalah bahwa sejarah telah mencatat pergerakan menyelamatkan bangsa dunia dan akhirat adalah hal mulia. Kala itu mereka memulainya dengan pergerakan bersenjata melepaskan diri dari ketergantungan Negeri Republik Indonesia yang sering disebut dengan Pemerintah Jawa.

Namun, setelah tsunami meluluhlantahkan Aceh, episode baru dimulai. 15 Agustus 2005 pihak yang bertikai sepakat berdamai dengan menandatangani nota kesepahaman bersama yang dikenal dengan MoU Helsinki, dan mengakhiri konflik bersenjata. Sebagai implementasi dari kesepahaman yang telah ditandatangani, lahirlah Undang-Undang No.11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh (UUPA) sebagai payung hukum penyelenggaraan pemerintahan di Aceh, meskipun dalam perjalanannya masih terdapat hambatan, sehingga implementasinya belum sebagaimana mestinya.

Dua periode
Singkat cerita, sudah dua periode tampuk pemerintahan Aceh dipegang oleh orang yang terlibat langsung dalam pergerakan, merasakan langsung bagaimana tidak enaknya hidup di hutan belantara, tidur beralaskan bumi dan beratapkan langit. Setiap saat, doktrin yang disampaikan adalah berjuang menyelamatkan bangsa dunia akhirat.

Selama dua periode itu pula, banyak perkembangan yang terjadi, banyak kemajuan yang telah dilakukan. Banyak pula ketimpangan yang terjadi, bahkan mengalahkan semangat mereka yang dulu tertanam dalam sanubari yaitu mensejahterakan rakyat, bagaimana memulihkan trauma konflik, menjamin keberlangsungan hidup para janda dan yatim korban konflik, serta bagaimana meluruskan persoalan-persoalan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang pernah terjadi.

Seiring perjalanan waktu, haluan perjuangan pun telah berubah, bahkan melupakan cita-cita sakral universitas puncak Halimon yaitu merdeka. “Damai telah kita sepakati, mimpi memerdekan Aceh sudah kami lupakan. Senjata GAM sudah kita potong bersama-sama. Apalagi yang harus kami korbankan supaya turunan UUPA dapat dikeluarkan?”, demikian pernyataan Zaini Abdullah (Serambi, 9/8/2014). Meskipun merdeka telah dilupakan, tentu doktrin dulu peuseulamat bangsa donya-akhirat tidak boleh dilupakan begitu saja, sebab inti perjuangan adalah men-sejahterakan rakyat.

Isu ini selalu menjadi isi petuah panglima (Allah yarham) Tgk Abdullah Syafi’i, hana arti tanyoe pruet troe menyoe rakyat pruet deuk, hana arti tanyoe bajee goet menyoe rakyat tan disok bajee (tidak ada arti perut kita kenyang jika rakyat masih lapar, tidak ada arti kita berpakaian rapi jika rakyat telanjang). Pruet troe (perut kenyang) adalah indikator terpenuhinya pangan, bajee goet (pakaian bagus/rapi) adalah indikator terpenuhinya sandang. Dua ini, adalah indikator sederhana dari kesejahteraan rakyat.

Dalam kenyataan, mereka yang pernah terlibat pasti selalu mengingat ini, walaupun belum maksimal dalam mengimplementasikannya ketika menduduki tampuk pimpinan, ada banyak faktor yang menyebabkan ini semua terjadi. Satu hal yang pasti, janganlah melupakan usaha untuk mensejahterakan rakyat, karena itulah tujuan utama perjuangan.

Meskipun 4 Desember telah dilupakan, tidak pula berarti melupakan sisi baik dari pesan-pesan 4 Desember yang pernah menjadi hari yang dinanti-nantikan, baik itu rakyat biasa dan juga mereka yang terlibat dalam pergerakan. Dalam memperingati 4 Desember, pernah pula saya merasakan ajuran setiap meunasah untuk membaca Alquran (Surah Yaasin) dan menghentikan semua aktivitas sehari-hari.

Semua warga gampong ketika itu, diimbau untuk berkumpul di meunasah, berzikir dan membaca Alquran, serta melaksanakan kenduri ala-kadar. Lantunan Surah Yaasin menembus keheningan jalan, mengisi relung-relung hati yang harap-harap cemas, tua-muda larut dalam lantunan kalam Ilahi. Hari itu, di setiap gampong hanya terdengar bacaan Surah Yaasin.

Jangan lupakan
Meskipun 4 Desember telah dilupakan, sejatinya jangan melupakan beberapa hal berikut: Pertama, dua periode telah berlalu, apakah pesan menyejahterakan rakyat masih diingat oleh para petinggi yang pernah terlibat langsung dalam pergerakan, terutama bagi yang berhasrat menjadi calon-calon pemimpin; Kedua, rakyat itu bukan satu kelompok saja. Untuk itu, kesejahteraan rakyat tidak diwakili oleh kemewahan kelompok tertentu. Jika periode berikutnya masih dilanjutkan oleh mereka yang pernah terlibat dalam pergerakan, sejatinya benar-benar memahami bahwa kesejahteraan adalah milik bersama, bukan milik kelompok tertentu, bukan pula milik mereka yang berada pada kubu pendukung (koalisi);

Ketiga, biarlah 4 Desember menjadi “kenangan indah” yang tersimpan dalam hati masyarakat Aceh yang pernah menikmati tidak indahnya hidup dalam hiruk-pikuk konflik. Sekarang, mari kita sadari kenyataan hidup, kenyataan bahwa Aceh harus lebih baik, kehidupan rakyatnya harus diselamatkan dunia-akhirat. Untuk itu, marilah memberikan kontribusi sesuai kapasitas masing-masing dalam menjalankan misi menyelamatkan bangsadonya akhirat. Sekaranglah saatnya merealisasikan cita-cita mulia tempo doeloe dengan melahirkan program-program pro-rakyat yang mampu mewujudkan masyarakat madani dengan memperkuat penerapan syariat Islam.

Meskipun nanti 4 Desember telah hilang dalam ingatan, maka menyelamatkan bangsa dunia akhirat harus tetap tertanam dalam hati serta mewariskannya kepada generasi berikutnya. Sebab, pesan 4 Desember sebenarnya adalah upaya menyelamatkan bangsa dunia akhirat.

* Zarkasyi Yusuf, alumnus Dayah Tgk Chik di Reung-Reung, sekarang bekerja di Kanwil Kementerian Agama Provinsi Aceh. Email: kasyiaceh@gmail.com

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help