Wakaf Baitul Asyi

Baitul Asyi Diharap Semakin Berkembang

Pemerintah Aceh berterimakasih kepada Nadhir Wakaf Habib Bugak Asyi Saudi Arabia, yang telah mengelola wakaf

Baitul Asyi Diharap Semakin Berkembang

BANDA ACEH - Pemerintah Aceh berterimakasih kepada Nadhir Wakaf Habib Bugak Asyi Saudi Arabia, yang telah mengelola wakaf di Mekkah. Harta wakaf tersebut kini telah dapat dinikmati oleh masyarakat Aceh, khususnya oleh jamaah haji.

“Terimakasih kepada Bapak DR Abdullatif Muhammad Baltow dan Bapak DR Abdurrahman Abdullah Asyi yang telah mengelola Wakaf Habib Bugak Asyi di Saudi Arabia,” ujar Plt Gubernur Aceh, Soedarmo, saat Jamuan Makam Malam Bersama Rombongan Pengelola Wakaf Habib Bugak Asyi, di restoran Pendapa Gubernur Aceh, Senin (5/12).

Soedarmo berharap, pengelolaan harta wakaf tersebut ke depan bisa lebih berkembang, sehingga semakin banyak masyarakat Aceh di Mekkah yang dapat terbantu. “Alhamdulillah, sejak tahun 2006 seluruh jamaah haji asal Aceh yang mencapai 3.000 orang per tahun telah mendapatkan bantuan dari deviden wakaf tersebut,” ujar Soedarmo.

Pada musim haji 2016, setiap jamaah haji asal Aceh bisa mendapatkan 1.200 riyal untuk uang saku atau setara Rp. 4,6 juta. Tentu saja bantuan tersebut sangat membantu para jamaah Aceh yang menunaikan ibadah haji di Makkah. “Kita berharap pengelolaan itu bisa lebih profesional lagi, sehingga keberadaan wakaf Habib Bugak yang di Mekkah semakin banyak membantu para jamaah dan pelajar Aceh di Mekkah,” ujar Soedarmo lagi.

Atas nama Pemerintah Aceh, Soedarmo ikut berterimakasih kepada Pemerintah Arab Saudi. Pemerintahan setempat, ujarnya, menempatkan orang-orang profesional dan amanah dalam mengelola harta wakaf, sehingga keberadaan wakaf Haji Bugak yang ada di Arab Saudi selalu terjaga dan dapat memberi keuntungan kepada masyarakat Aceh.

Wakaf Baitul Asyi adalah wakaf dari Habib Bugak Samalanga, seorang saudagar Aceh yang membeli membeli sejumlah rumah di Mekkah pada tahun 1224 Hijriah (sekitar tahun 1800 Masehi). Rumah tersebut beliau hibahkan kepada jamaah haji atau pelajar asal Aceh yang menuntut ilmu di sana. Namun kemudian, tanah dari rumah-rumah tersebut terkena perluasan Masjidil Haram serta pembangunan hotel. Kompensasi dari tidak menginapnya JCH asal Aceh di hotel-hotel tersebutlah yang kemudian dibayarkan dalam bentuk uang wakaf Baitul Asyi. (rel/sal)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help