Opini

Iktibar Gempa Pijay

GEMPA berkekuatan 6,5 SR yang mengguncang Pidie Jaya (Pijay) dan sekitarnya pada Rabu (7/12/2016), banyak menimbulkan

Iktibar Gempa Pijay

(Contoh Kasus dalam Alquran)

Oleh Hasanuddin Yusuf Adan

GEMPA berkekuatan 6,5 SR yang mengguncang Pidie Jaya (Pijay) dan sekitarnya pada Rabu (7/12/2016), banyak menimbulkan korban jiwa dan kehancuran bangunan yang sangat dahsyat. Gempa yang terjadi menjelang Shubuh itu betul-betul mengherankan karena nilai gempa semisal itu di Aceh biasanya tidak akan berakibat fatal seperti yang terjadi di Pijay. Pengalaman gempa Aceh baru mematikan dan menghancurkan ketika kekuatan gempa berada di atas 7 SR seperti gempa menjelang tsunami 26 Desember 2004 silam yang berkekuatan 8,9 SR, namun kali ini alam bertindak beda untuk Pijay dari kebiasaan sebelumnya.

Ada analisa yang relevan dengan kenyataan bahwa gempa Pijay dapat menghancurkan ratusan bangunan, dikarenakan konstruksi bangunan yang sangat tidak sesuai dengan kondisi Aceh yang rawan gempa. Terlihatlah pada bangunan-bangunan yang sudah runtuh di Pijay hampir semuanya memakai besi kecil yang tidak sesuai dengan kapasitas bangunan yang dua dan tiga lantai. Prediksi untuk kehancuran bangunan rumah, toko, termasuk masjid karena ada prilaku yang tidak selaras dengan perintah Allah di sana.

Ada analisa bahwa Allah menghancurkan masjid selain karena faktor konstruksi yang tidak berimbang ada kebencian Allah terhadap hambaNya yang rajin membangun masjid, tetapi tidak rajin mengisi masjid, sehingga masjid terlantar dan selalu kosong dari orang-orang yang menyembah Allah.

Sementara kehancuran toko ada kaitannya dengan prilaku pemilik dan pekerja toko yang ketika sampai waktu shalat mereka tutup toko dan tidur di dalamnya bukan pergi ke masjid untuk menyembah Allah. Analisa kehancuran rumah-rumah penduduk terkait dengan kekosongan penyembah Allah dalam rumah-rumah tersebut. Banyak rumah yang tidak ada penyembah Allah di dalamnya, sehingga ada di antara mereka yang tidak pernah tersentuh oleh wudhuk di dalam rumahnya.

Rawan bencana
Aceh merupakan satu wilayah yang rawan bencana di permukaan bumi ini, ia selalu ditimpa gempa bumi, banjir bandang, dan juga tsunami. Dalam kajian ilmu pengetahuan itu semua ada sebab akibatnya, sehingga terjadi bencana. Umpamanya, terjadi gempa sebagai akibat dari sebab terlepasnya lempeng bumi, terjadinya banjir sebagai akibat dari penebangan liar (illegal logging), dan seterusnya. Namun dalam kajian keimanan semua itu ada kaitannya dengan tingkah dan perlakuan Allah Swt terhadap hambaNya yang meninggalkan perintahNya dan melaksanakan laranganNya.

Mengapa gempa Pijay itu terjadi di malam hari umpamanya, ternyata Allah sudah mengingatkan hambaNya jauh-jauh hari bahwa perihal serupa ada amarannya dalam kitab suci Alquran. “Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur?” (QS. Al-A’raf: 97). Jawabannya tentu tidak, lalu mengapa juga hamba Allah tidak menelusuri gambaran-gambaran Alquran yang sifatnya pasti, boleh jadi jawabannya karena lalai, lupa, tidak tahu, dan sebagainya. Untuk solusi terhadap semua jawaban tersebut, maka bangsa ini mesti belajar dan beramal.

Allah Swt sebenarnya sangat sayang kepada hamba-Nya yang taat dan beriman kepada-Nya, sehingga Ia menjanjikan kesejahteraan dan kesenangan kepada para hamba-Nya yang beriman dan taat. Allah Swt berfirman, “Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dulunya aman lagi tenteram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)-nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.” (QS. An-Nahlu: 112).

Pijay yang dulu di awal menjadi kabupaten --pemekaran dari Kabupaten Pidie-- terasa aman dan makmur, pengajian mingguan rutin di pendopo bupati, bantuan makmeugang dan sedekah hari raya lancar mengalir dari pendopo kepada masyarakat Pijay, masyarakatnya senang dan puas hidup di rumah-rumah yang mereka bangun dengan megah. Namun hari ini mereka terpaksa meninggalkan rumah megah tersebut untuk menumpang tidur di tenda-tenda yang dulu sangat tidak berharga bagi mereka. Kini mereka hidup hanya dengan menerima bantuan dari para relawan yang baik hati. Pemimpin mereka tidak mampu membebaskan mereka dari musibah tersebut, mengapa? Jawabannya adalah kandungan surah An-Nahlu ayat 112 tersebut di atas.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved