SerambiIndonesia/

Polda Tetap Usut soal Seragam Bintang Bulan

Kapolda Aceh, Irjen Pol Rio S Djambak melalui Kabid Humas, Kombes Pol Goenawan mengatakan, pihaknya akan

Polda Tetap Usut soal Seragam Bintang Bulan
PETUGAS memperlihatkan baju motif loreng pada sebuah kios penjahit di Pantonlabu, Kecamatan Tanah Jambo Aye, Aceh Utara, Senin (19/12). 

BANDA ACEH - Kapolda Aceh, Irjen Pol Rio S Djambak melalui Kabid Humas, Kombes Pol Goenawan mengatakan, pihaknya akan tetap mengusut kasus pemesanan dan penjahitan baju seragam berbordir bendera Bintang Bulan dan lambang Burak-Singa di Kecamatan Tanoh Jambo Aye, Aceh Utara. Meski akan ditindak secara hukum, tapi tetap dengan mengedepankan cara-cara persuasif.

Hal itu dikatakan Kombes Pol Goenawan kepada Serambi di Banda Aceh, Kamis (22/12), menanggapi pernyataan Anggota Komisi I DPRA, Azhari Cagee yang meminta kasus tersebut jangan dibawa ke ranah hukum lantaran persoalan bendera Bintang Bulan adalah persoalan politis, sebagaimana ia suarakan di Harian Serambi kemarin.

“Kita tetap akan mengusut kasus ini. Akan tetapi, kita lakukan tindakan hukum secara yuridis dan persuasif, supaya ini tidak dianggap biasa atau hal yang wajar. Pemasangan simbol mirip dengan bendera Bintang Bulan pada seragam itu telah melanggar hukum dan harus ada juga penegakan hukumnya, secara persuasif tentunya,” kata Kombes Pol Goenawan.

Sebagaimana dibertitakan sebelumnya, Senin (19/12) aparat Komando Rayon Militer (Koramil) dan Kepolisian Sektor (Polsek) Tanah Jambo Aye, Aceh Utara menyita seragam berbordir Bintang Bulan di kios Rizal Tailor di kawasan Kompleks Pasar Sayur Pantonlabu, Kecamatan Tanah Jambo Aye, Aceh Utara. Seragam itu disita karena diduga ada kaitannya dengan simbol-simbol militer Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

Goenawan menjelaskan, Polda Aceh sebagai aparat penegak hukum di wilayah hukum Polda Aceh, wajib menegakkan hukum dan mencegah mobilisasi dan propaganda terhadap simbol-simbol yang bertentangan dengan simbol-simbol NKRI. “Kita tetap menyikapi euforia Bintang Bulan ini dengan mengedepankan tindakan yang bijak dan situsional, supaya fenomena itu tidak berkembang menjadi suatu gerakan yang sulit dikendalikan,” sebutnya.

Kepada pihak-pihak tertentu dan semua masyarakat diminta untuk memahami bahwa menggunakan simbol-simbol illegal adalah tindakan melawan hukum. Maka dari itu semua pihak di Aceh, agar menunggu konsensus politik dan undang-undang yang mengatur tentang bendera Aceh dan lambang daerah Aceh secara sah dari pusat.

Goenawan juga tak menampik apa yang dikatakan oleh Anggota Komisi I DPRA, Azhari Cagee yang menyebutkan persoalan Bintang Bulan masih persoalan politis. Dan semua pihak diajak untuk tetap menghormati apa yang telah menjadi keputusan dalam UUPA. Aturan tertinggi di atasnya, lanjut Goenawan, juga harus dilihat agar keduanya tidak bertentangan.

“Kalau memang ini masih soal politis, ya kita tunggu jangan digunakan dulu, sabar dulu. Ini kan masih cooling down, pemerintah masih menimbang apakah itu bertentangan dengan aturan di atasnya apa tidak, kita tunggu dulu pengesahan atau penyetujuan dari pemerintah pusat,” pungkas Goenawan.

Sebelumnya, penyidik Polres Aceh Utara mewajibkan Afriza, pemilik Tailor Rizal bersama tiga penjahit lain yang bekerja padanya, untuk melapor ke polres setempat dua kali dalam sepekan selama tiga bulan. Sanksi yang sama diberlakukan kepada Bared, warga Simpang Ulim, Aceh Timur, karena dialah yang mengorder penjahitan baju seragam yang kontroversial itu di kios Afriza.

Mereka yang juga dikenakan wajib lapor setelah benda-benda berbau GAM itu disita aparat adalah Tarmizi (27), warga Kecamatan Madat, Aceh Timur, Ibrahim (58) dan Zulfikar (33), keduanya warga Kecamatan Tanah Jambo Aye, Aceh Utara. Ketiga mereka bekerja sebagai tukang jahit di Tailor Rizal.

“Mereka memang tidak kita tahan, karena kasus itu diselesaikan secara persuasif. Tapi mereka kita kenakan wajib lapor Senin dan Kamis ke Mapolres Aceh Utara selama tiga bulan, mulai dari sekarang,” ujar Kapolres Aceh Utara, AKBP Ahmad Untung Surianata kepada Serambi, Rabu (21/12). (dan)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help