Sabtu, 13 Juni 2026

Citizen Reporter

Mengajar di Madrasah Australia

HAMPIR dua tahun saya tinggal dan menuntut ilmu di Melbourne. Ketika hendak berangkat ke sini

Tayang:
Editor: hasyim
SRI MAWARNI RA 

SRI MAWARNI RA, mahasiswa asal Aceh di Monash University, melaporkan dari Melbourne, Australia

HAMPIR dua tahun saya tinggal dan menuntut ilmu di Melbourne. Ketika hendak berangkat ke sini, sebagian orang terdekat saya sempat berpesan, “Dek, jaga diri baik-baik ya. Di sana nanti akan berbeda. Itu negara bebas.”

Pesan tersebut saya pahami benar, mengingat Australia tidak menganut budaya ketimuran dan Islam merupakan agama minoritas di sini. Sangat berbeda dengan kampung saya, Meureudu, Pidie Jaya yang semuanya muslim. Sebelum berangkat, saya sempat bertanya dalam hati, akankah saya mendapatkan lingkungan yang bisa menjaga keislaman saya di Australia?

Satu semester telah berlalu. Segala puji bagi Allah, ternyata saya tidak mengalami kendala apa pun, khususnya dalam melaksanakan ibadah di sini. Di kampus dan di luar, fasilitas peribadatan seperti mushala dan masjid selalu tersedia. Saya bahkan kagum karena menjadi minoritas ternyata membuat muslim di sini lebih kompak dan hormat sesama.

Pada Ramadhan pertama di sini, saya dan beberapa teman menjadi sukarelawan di acara ‘Ramadhan Kids’. Acara tahunan yang diselenggarakan Monash Indonesia Islamic Society (MIIS), persatuan mahasiswa muslim Indonesia di Monash pada bulan puasa. Kegiatannya diadakan di Masjid Westall yang didirikan penduduk Indonesia, terletak di Westall, South Clayton, Melbourne. Di sinilah saya bertemu seorang muslimah yang mengajak saya bergabung untuk mengajar di “sunday school” (sekolah di hari Minggu), bernama Madrasah Westall. Madrasah ini didirikan tahun 2005 oleh Komunitas Muslim Indonesia (Indonesian Muslim Community Victoria/IMCV) untuk memenuhi kebutuhan pembelajaran Islam bagi anak-anak yang tinggal di Melbourne.

Pengajarnya terdiri atas pemuda-pemuda yang luar biasa yang rata-rata berumur 16-30 tahun. Ada yang masih menjadi siswa, mahasiswa, ada juga yang sudah bekerja. Biasanya pengajar yang masih di bawah 17 tahun hanya akan menjadi asisten pengajar, karena menurut peraturan di sini semua orang yang bekerja dengan anak-anak, baik volunteer maupun berbayar, harus punya kartu ‘Working with Children’ (WWC) sebagai legalitas profesional. Salah satu syarat mendapatkan kartu WWC tersebut haruslah berumur 17 tahun ke atas.

Jadwal belajarnya dimulai pukul 10 sampai 12 Minggu siang di Masjid Westall, 20 Rosebank Avenue, South Clayton. Murid-muridnya yang berumur 4-12 tahun ini dikelompokkan dalam beberapa kelas menurut umur dan gender mulai dari preps, pre-kids-, kids, pre-teens, dan teens. Rata-rata setiap kelas terdiri atas 4-8 siswa dengan dua-tiga pengajar.

Mengajar di Madrasah Westall mengingatkan saya dengan suasana pembelajaran TPA di Indonesia. Untuk anak-anak berumur 4-8 tahun (preps dan pre-kids) buku yang digunakan hampir sama seperti buku Iqra’; tapi namanya Ustmani Book (jilid 1 dan 2). Sedangkan untuk anak-anak dan remaja berumur 9-12 tahun, pengajaran sudah mulai mempelajari membaca dan memahami Alquran. Materi untuk pembelajaran sendiri, lebih meluas. Mulai dari membaca dan hafalan Alquran, fikih (hablumminnallah, hablumminnas), sirah nabawiyah dan shahabah, adab dengan lingkungan, dan lain-lain. Walaupun kebanyakan pengajar dan muridnya berasal atau berketurunan Indonesia, tapi bahasa pengantar yang dipakai tetaplah bahasa Inggris.

Siswa-siswa di Madrasah Westall juga dibekali dengan pengetahuan dan bimbingan dari para guru tentang bagaimana seyogyanya menjadi muslim di Australia, di mana muslim merupakan minoritas. Bagaimana mereka bisa hidup berdampingan dengan orang lain yang berbeda keyakinan dengan mereka dengan tetap menjaga iman dan Islam mereka. Madrasah Westall juga merupakan wadah bagi anak-anak untuk bertemu dan membangun pertemanan dengan saudara seiman.

Sistem pengajarannnya juga sangat unik. Seperti halnya sistem di sekolah-sekolah di Australia, pengajarannya harus menarik, menyenangkan, dan kreatif untuk menunjang antusiasme murid untuk terus belajar. Yang paling mendasar, anak-anak tidak boleh dipaksa untuk mengaji. Jadi, guru harus berusaha menumbuhkan rasa cinta kepada Islam, Allah, dan Rasulullah agar mereka mau belajar tentang islam dengan ikhlas. Jadi apabila guru ingin mengajarkan membaca buku Utsmani atau murajaah hafalan, mereka harus menanyakan kesiswanya lebih dulu seperti, “Do you want to read (apa kamu mau ngaji), A (nama siswa)?’ Jika mereka belum siap, guru akan menayakan ke siswa yang lain atau menunggu sebentar sampai aktivitas yang siswa sedang kerjakan selesai. Untuk menghindari kebosanan siswa, pengajaran disisipi dengan permainan, menggambar, membuat kerajinan tangan, origami, atau kesenian lainnya.

Bagi pengajarnya, Madrasah Westall merupakan wadah untuk terus belajar di samping mengajar anak didik. Di sini mereka berkesempatan membangun persaudaraan dan ikatan yang kuat dengan sesama pengajar, murid, orang tua murid, dan jamaah di Masjid Westall.

Bagi saya, menjadi bagian dari Madrasah Westall adalah salah satu rahmat terbesar dari Allah, karena memang “Allah merupakan sebaik-baik pemberi tempat.” (Al-mu’minun: 29).

Jika Anda punya informasi menarik, kirimkan naskahnya, termasuk foto dan identitas Anda ke email redaksi@serambinews.com

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup B - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 02:00 WIB
Canada
Kanada
1 - 1
Bosnia
Bosnia
Grup D - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 08:00 WIB
United States
Amerika Serikat
4 - 1
Paraguay
Paraguay
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved