Citizen Reporter
Pelajar Sangat Dihargai di Turki
TURKI merupakan negara yang diapit oleh dua benua. Negara ini pusat peradaban Islam terakhir sebelum pada akhirnya diubah konstitusinya
DEDY IRWANDA, Koordinator Hubungan International PPI Turki dan alumnus Pesantren Almanar Cot Irie, Aceh Besar, sedang kuliah S1 di Turki, melaporkan dari Ankara
TURKI merupakan negara yang diapit oleh dua benua. Negara ini pusat peradaban Islam terakhir sebelum pada akhirnya diubah konstitusinya menjadi negara demokrasi seperti kebanyakan negara di dunia. Kekhasan alam dan banyaknya tempat bersejarah di Turki membuat negara ini menjadi salah satu tempat favorit bagi para turis dan pelajar dari seluruh dunia.
Tepatnya 13 tahun silam, sejak Presiden Turki Receb Yayib Erdogan dilantik jadi Perdana Menteri kemudian Presiden Turki, ia telah menjadikan Turki sebagai negara yang terbuka bagi seluruh pelajar asing dari seluruh dunia.
Data terakhir yang dikeluarkan Kementerian Pendidikan Turki (MEB) menyebutkan, setengah dari penduduk Turki yang berjumlah 78 juta orang, didominasi para pelajar baik dari tingkat SD hingga perguruan tinggi. Data MEB juga menyebutkan, jumlah pelajar asing yang sedang menuntut ilmu di Turki lebih dari 5,5 juta pelajar aktif dan hampir 80.000 pelajar yang mengambil kelas jarak jauh di Turki.
Ini semua tak terlepas dari kebijakan yang diambil pemerintah saat ini, dengan menaikkan anggaran pendidikan dan memberikan kemudahan akses pendidikan kepada seluruh pelajar, baik pelajar Turki maupun pelajar asing. Pusat pembelajaran, asrama, dan akses transportasi massal dibangun di setiap tempat untuk menjangkau kehidupan masyarakat maupun pelajar di Turki.
Di beberapa kota di Turki, misalnya, di Konya, kota yang berdekatan dengan Ankara sebagai ibu kota negara, tidak mewajibkan pelajar baik lokal maupun asing untuk membayar uang transportasi seperti bus dan lain-lain. Begitu juga di beberapa kota seperti Adana dan Kayseri, pemerintah memberikan jaminan transportasi murah kepada pelajar selama dalam masa pendidikan. Mereka cukup membayar 120 TL atau setara Rp 500.000/tahun, maka sudah bisa menaiki transportasi umum untuk setahun. Biaya yang sangat murah itu sangat fantastis dibandingkan kehidupan di Turki yang sangat mahal yang bahkan biaya untuk satu liter premium di Turki mencapai 4,3 TL atau Rp 22.000 dan termasuk paling mahal di dunia. Sama halnya juga dengan kehidupan di kota saya tinggal, Ankara, sebagai ibu kota Turki.
Biaya transportasi untuk pelajar di Ankara 1,75 TL atau Rp 6.500. Ini sangat terjangkau dibandingkan dengan yang bukan pelajar 2,35 TL atau Rp 9.000.
Di sisi lain, status pelajar bagi mahasiswa asing akan sangat memudahkan mereka dalam pergaulan dengan masyarakat lokal. Karena pada hakikatnya masyarakat Turki sangat senang dengan para penuntuk ilmu, sehingga dalam kata mutiara masyarakat Turki dinyatakan: para pelajar merupakan tembok terakhir pertahanan negara Turki.
Pengalaman saya selama di Turki bahwa mereka sangat terbuka terhadap para pelajar, khususnya pelajar asing. Pernah suatu ketika saya tersesat dan tak bisa pulang ke rumah. Saya bertanya pada seorang bapak berumur sekitar 40 tahun. Akhirnya bapak tersebut bersedia mengantar saya tanpa berpikir panjang. Padahal jarak antara tempat saya tersesat dengan jarak pemberhentian bus sangat jauh. Ia bahkan membiayai transportasi saya sampai ke tempat tujuan dengan harga yang tidak sedikit.
Selain antusiasme yang besar, masyarakat Turki juga sangat terbuka dan baik pada pelajar, khususnya pelajar asing. Di beberapa apartemen dan rumah kediaman mahasiswa asing, khususnya Indonesia, masyarakat Turki datang membantu keperluann pelajar tersebut. Berupa alat-alat untuk keperluann sehari-hari. Seperti sofa, pakaian, ambal, dan peralatan makan. Bahkan tetangga di samping rumah kami selalu mengantar makanan Turki ke rumah kami.
Selain yang saya sebutkan di atas, menjadi pelajar di Turki juga menghindarkan kita dari aksi penipuan dan pemerasan dari masyarakat sekitar. Ini disebabkan tingginya penghargaan masyarakat Turki terhadap pelajar. Ini menjadi suatu nilai plus yang memungkinkan para pelajar Turki maupun pelajar asing bisa bepergian ke kota-kota dan ke tempat-tempat rekreasi tanpa harus takut ditipu.
Mudah-mudahan, kebijakan-kebijakan yang telah ditempuh Turki terkait perbaikan dalam bidang pendidikan dan betapa antusiasnya warga Turki terhadap para penuntut ilmu, bisa menjadi introspeksi bagi kita dan bagi negara kita tercinta, sehingga kita bisa bersaing menjadi negeri bermartabat, seperti yang telah nenek moyang (endatu) kita tunjukkan di masa lalu. Semoga.
Jika Anda punya informasi menarik, kirimkan naskahnya, termasuk foto dan identitas Anda ke email redaksi@serambinews.com
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/dedy-irwanda_20161230_165505.jpg)