Citizen Reporter

Pesona New York bagi Peneliti

MENGUNJUNGI New York, Amerika Serikat (AS), tentu menawarkan sejumlah keindahan dan kenyamana kota dengan yang

Pesona New York bagi Peneliti

OLEH PROF APRIDAR, Rektor Universitas Malikussaleh (Unimal) Aceh Utara, melaporkan dari New York, Amerika Serikat

MENGUNJUNGI New York, Amerika Serikat (AS), tentu menawarkan sejumlah keindahan dan kenyamana kota dengan yang dihuni 8 juta lebih penduduk. Setidaknya ada empat universitas negeri dan swasta di kota ini, yaitu Yesiva University, The Rockefeller University, Pace University, dan Fordham University.

Nama-nama kampus di New York sekilas kalah mentereng dengan Harvard atau Columbia University. Namun, sejatinya, kampus di Amerika pun sama dengan Indonesia, bekerja sama dengan semua kampus, termasuk kampus-kampus di New York bekerja sama dengan Columbia, Harvard, dan kampus top lainnya di negeri ini.

Keempat kampus itu memiliki spesifikasi tersendiri. Sebut saja, misalnya, Yesiva dan The Rockefeller serius menjadi pusat penelitian kesehatan. Bahkan, di Yesiva dibuat unit Albert Einstein College of Medicine. Di sinilah para peneliti bidang kesehatan berkutat. Mereka datang dari berbagai suku dan bangsa dunia, termasuk Asia.

Komitmen kota ini adalah membuat nyaman sejumlah pendatang, spesifik bagi kampus, membuat nyaman para peneliti dari luar negeri di kota itu, sehingga mereka fokus meneliti, menghasilkan inovasi, dan pada akhirnya dapat diaplikasikan dalam tataran kehidupan manusia.

Saya berdiskusi dengan beberapa peneliti dari Asia yang belasan tahun mendiami New York. Awalnya mereka melanjutkan studi magister dan doktoral di beberapa kampus di New York. Lalu mereka memilih bekerja di kampus itu dan akhirnya menjadi peneliti tetap di New York.

Bagi masyarakat New York, membuat nyaman pendatang sama pentingnya dengan menciptakan rasa nyaman bagi penduduk lokal. Tidak ada perbedaan soal kenyamanan ini. Termasuk soal layanan publik. Semua dibikin mudah asalkan sesuai standar prosedur yang sudah ditetapkan. Inilah konsep metropolitan ala New York.

Masyarakat New York juga tidak memaksakan kehendak adat dan kebiasaan mereka kepada pendatang. Pluralisme di sini diberlakukan, menghormati adat, kepercayaan, dan agama masyarakat pendatang. Mereka bebas mengaktualisasikan dirinya.

Jadi, tak heran, peneliti yang berada di kota ini seakan alpa akan kampung halaman. Terlalu nyaman di perantauan. Terasa seperti di rumah sendiri. Selain itu, dukungan pemerintah, kelompok bisnis dan pengusaha untuk peneliti terbilang besar, sehingga peneliti tidak direpotkan mengurus administrasi yang bertele-tele, berbelit-belit, ditambah lagi pusing mencari sumber dana penelitian.

Peneliti di sini dimudahkan urusan administrasinya dan dijamin sumber dananya, baik itu oleh pemerintah, maupun kelompok bisnis.

Dari sektor bisnis, kota ini juga menjadi rujukan yang paling sempurna untuk menguji nyali bisnis atau dengan kalimat lain. Jangan mengaku sebagai pebisnis andal bila belum mampu menaklukkan New York. Bisa disebut, kota ini menawarkan paket komplit kenyamanan bisnis dan peneliti.

Di satu sisi ini, tampaknya menjadi catatan penting bagi para kandidat calon kepala daerah di Aceh yang akan ikut kontestasi pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak pada medio Februari 2017. Komitmen pemimpin Aceh untuk mengajak kelompok usaha mendukung para peneliti sangat diperlukan. Hasil penelitian itu dapat dijadikan referensi dan rujukan membangun Aceh baru yang lebih makmur, lebih sejahtera, dan mengatasi ketertinggalannya dari provinsi lainnya di Tanah Air.

Tentu, kita berharap, ke depan, pemimpin baru Aceh mengedepankan pembangunan sumber daya manusia, sehingga generasi masa depan Aceh merupakan generasi emas yang bisa berbuat banyak untuk kemajuan Nusantara, bahkan dunia. Semoga.

* Jika Anda punya informasi menarik, kirimkan naskahnya, termasuk foto dan identitas Anda ke email redaksi@serambinews.com

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help