Opini

Merawat ‘Wisata Halal’ Aceh

SETELAH berbagai usaha dilakukan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh, seperti promosi

Merawat ‘Wisata Halal’ Aceh

Oleh Intan Destia Helmi

SETELAH berbagai usaha dilakukan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh, seperti promosi melalui media massa, media sosial, media elektronik, dan berbagai kegiatan pendukung lainnya, akhirnya Aceh memenangkan penghargaan sebagai World’s Best Airport for Halal Travelers dan World’s Best Halal Cultural Destination (http://itwabudhabi.com, 7/12/2016). Pertanyaannya adalah apakah penghargaan tersebut sesuai dengan kondisi yang ada di Aceh saat ini?

Jika berbicara tentang destinasi wisata yang ada di Aceh, berbagai tempat wisata yang umumnya berlokasi di kawasan Banda Aceh membutuhkan perhatian dari segi kebersihan, keamanan, ketertiban, dan sebagainya. Banda Aceh sebagai Centre of Everything harusnya lebih menonjolkan keotoritasannya sebagai ibu kota provinsi.

Sebut saja sungai Krueng Daroy. Sungai ini dulunya dibangun sejak zaman pemerintahan Sultan Alaidin Mahmudsyah, dan kemudian Sultan Iskandar Muda sengaja membelokkannya ke dalam istana, dan bisa digunakan sebagai tempat untuk membersihkan diri dan dapat digunakan untuk menyembuhkan orang sakit. Konon, dulu air sungai ini sangat jernih, mengalahkan kejernihan sungai Rhein di Eropa. Sayangnya, sungai yang elok ini sekarang terkadang menjadi tempat pembuangan sampah dan kejernihannya sangat berbanding terbalik dengan apa yang terjadi di masa lalu.

Kata halal itu dideskripsikan melalui berbagai segi kehidupan yang bersih, indah, nyaman, dan aman. Jika Aceh pantas mendapatkan julukan tersebut, harusnya pemerintah lebih menekankan dan mempertanggungjawabkan aspek-aspek kehalalan tersebut dalam berbagai segi kehidupan masyarakat. Harusnya ada penekanan dari pemerintah untuk lebih menciptakan kebersihan di sungai ini.

Harus dibenahi
Kita lihat lagi berbagai tempat wisata di Banda Aceh seperti Museum Tsunami yang ketertiban pelayanan dari petugasnya ini masih minim. Taman Putroe Phang yang pengunjungnya sebagian besar pasangan kaum muda yang bukan muhrim. Pantai di Banda Aceh seperti Uleelheu yang kebersihan pantainya masih kurang, dan ketertiban serta kebersihan kota yang perlu mendapat perhatian serius. Ini menjadi poin-poin penting yang harus dibenahi agar masyarakat atau pengunjung bisa merasa lebih nyaman.

Jika kita meninjau dari segi makanan yang disajikan oleh berbagai restauran yang ada di Aceh, terkhusus pada warung-warung makanan yang menyajikan makanan khas Aceh. Hingga saat ini, mereka masih menyajikan makanan yang menggunakan penguat rasa, seperti MSG dan berbagai penguat rasa lainnya. Kata “halal” bukan berarti hanya asal bukan babi maupun anjing itu halal, tetapi kata halal juga dideskripsikan sebagai makanan yang bersih dan sehat. Penggunaan penguat rasa akan memberikan citarasa bagi lidah, namun sangat tidak baik bagi kesehatan masyarakat.

Seharusnya pemerintah lebih menekankan kepada usaha-usaha yang menyajikan makanan-makanan, terutama yang melabelkan masakan khas Aceh sebagai merek/brand mereka untuk lebih menjamin kesehatan makanan yang disajikan kepada pelanggan dan turis yang berkunjung ke Aceh. Mereka tentunya bisa mengalihkan berbagai bumbu yang mereka gunakan seperti MSG untuk menguatkan rasa kepada rempah-rempah pilihan yang dapat membangkitkan citarasa, karena tentunya para usahawan harus memiliki ide-ide kreatif guna menciptakan suatu masakan yang lezat untuk pelanggannya.

Jika kita pantau keamanan di Aceh, tindak kriminalitasnya tidak jauh berbeda dengan kota-kota besar lainnya di Indonesia. Bahkan, tingkat korupsi yang terjadi di Aceh masuk dalam Top 10 di Indonesia. Apakah kehalalan tersebut dapat dilabelkan? Jika pemerintahnya saja tidak becus memberantas korupsi yang ada di Tanah Rencong ini, bagaimana masyarakat akan lebih mematuhi peraturan yang diberlakukan di Aceh? Pemerintahan yang bersih akan sangat membantu untuk mewujudkan cita-cita Aceh dalam menuju daerah yang benar-benar madani.

Kemudian kepatuhan akan lalu lintas, pengamanan lalu lintas yang harus lebih ditingkatkan, penggunaan pakaian yang berlandaskan islam seperti menggunakan jilbab dan pakaian yang menutupi bagian tubuh, dan lain-lain menjadi poin penting yang harus ditindaklanjuti untuk menuju masyarakat madani yang berorientasi kepada terwujudnya suasana halal di Bumi Aceh ini.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved