Minggu, 14 Juni 2026

Citizen Reporter

Aplikasi Arah Kiblat Banyak yang Melenceng

DALAM kesempatan ini, saya ingin membicarakan tentang Kakbah yang terdapat di dalam Masjidil Haram

Tayang:
Editor: bakri

OLEH RICKY ALFANDA, jamaah umrah asal Aceh, melaporkan dari Mekkah Al-Mukarramah, Saudi Arabia

DALAM kesempatan ini, saya ingin membicarakan tentang Kakbah yang terdapat di dalam Masjidil Haram. Kakbah menjadi kiblat bagi seluruh umat muslim yang ada di muka bumi ini saat menunaikan shalat.

Lalu, apakah yang dimaksud dengan kiblat? Secara literal, kiblat dalam bahasa Arab adalah pemusatan perhatian. Awalnya, sebelum ada kiblat, umat Islam dalam shalat boleh menghadap ke mana saja. Jadi, di satu tempat yang sama, bisa saja ada yang menghadap ke timur, barat, atau arah lain sesuka mereka.

Kemudian, ditetapkanlah kiblat mengarah ke Masjidil Aqsa di Yerusalem. Sejarah Kakbah sebagai tempat berkiblatnya ibadah shalat bagi umat Islam saat ini tentunya tidak terlepas dari peran Baginda Rasulullah saw. Setelah hijrah ke Madinah, Rasulullah ketika shalat masih menghadap ke Masjidil Aqsa. Dikarenakan sindiran kaum Yahudi kepada Rasulullah saw yang mengatakan bahwa ternyata umat Islam pun mengikuti keyakinan mereka menghadap ke Baitul Maqdis, maka sejak saat itu Nabi Muhammad saw selalu menengadahkan kepalanya ke langit berharap ada wahyu yang datang kepadanya agar umatnya bisa shalat menghadap Kakbah. Maka, ketika bulan Rajab tahun 2 Hijriah, Rasulullah shalat Zuhur di Masjid Bani Salamah dan mengimami jamaah. Dua rakaat pertama shalat Zuhur masih menghadap Baitul Maqdis, sampai akhirnya malaikat Jibril menyampaikan wahyu dalam Surah Albaqarah ayat 144 tentang pemindahan arah kiblat.

Nah, ketika wahyu tersebut turun, ketika itu juga Rasulullah dan jamaah ini baru saja menyelesaikan rakaat kedua. Kemudian pada rakaat ketiga Rasulullah saw langsung memalingkan arah kiblat mengarah ke Kakbah di Masjidil Haram, Kota Mekkah.

Jamaah haji dan umrah yang berkunjung ke Kota Madinah juga selalu dibawa atau ditunjukkan Masjid Bani Salamah ini atau yang lebih dikenal dengan Masjid Qiblatain (masjid dua kiblat).

Arah kiblat menjadi prasyarat menjalankan ibadah shalat. Di mana pun umat Islam menjalankan ritual keagamaan ini, mereka harus berkiblat ke Kakbah di Mekkah. Penentuan arah kiblat tentu tidak masalah bagi mereka yang berada di dekat Kakbah. Lalu, bagaimanakah memastikan arah kiblat tersebut jika kita berada jauh dari Mekkah?

Dulu banyak umat Islam yang berasumsi bahwa letak Kakbah di Masjidil Haram berada sesuai dengan arah matahari. Karena tidak akurat, umat Islam pun menggunakan jam matahari, kemudian ditemukan lagi jam analog hingga ditemukanlah kompas arah shalat. Pada saat ditemukan kompas ini arah kiblat sudah semakin akurat kesahihannya, sehingga ditemukan fakta bahwa banyak masjid yang ada di Indonesia dan di negara lain, bahkan di Saudi Arabia sekalipun bergeser dan tidak sesuai arahnya menunjuk ke Kakbah.

Diskusi seputar arah kiblat juga berkembang pesat. Apalagi dengan perkembangan teknologi informasi, banyak kita temui diskusi di internet yang membahas tema arah kiblat. Kemudian, aplikasi kiblat pada smartphone pada dewasa ini juga semakin banyak. Nah, apakah aplikasi arah kiblat pada smartphone ini benar-benar akurat atau tidak? Rasa penasaran itu akhirnya terjawab kami saya ajak beberapa jamaah untuk shalat di lingkaran tawaf, dekat Kakbah. Begitu kami selesaikan shalat Asar dan berdoa, kami kemudian mengajak jamaah yang membawa smartphone dengan berbagai aplikasi kiblat yang ada di dalamnya untuk berpartisipasi dalam tes ini.

Kami mengeluarkan smartphone, mengaktifkan data selulernya, dan meletakannya di lantai thawaf. Apa yang terjadi? Masya Allah, ternyata dari sepuluh aplikasi yang terdapat di dalam 10 handphone tersebut, hanya dua aplikasi yang menunjukkan arah yang benar menunjuk ke Kakbah. Selebihnya melenceng 45 derajat bahkan yang ada sampai 90 derajat. Kami semuanya terperanjat karena aplikasi yang melenceng itu sebagian besarnya adalah aplikasi yang unduhannya mencapai jutaan orang. Tentunya yang mengunduh tersebut pastilah masyarakat muslim. Jadi, apakah umat Islam telah dibohongi oleh aplikasi tersebut?

Bisa kita bayangkan selama ini jika kita menggunakan aplikasi tersebut di berbagai wilayah di bumi ini ketika akan menunaikan shalat, ternyata arah penunjuk kiblatnya salah dan jauh melenceng dari arah yang sesungguhnya.

Siapakah penciptanya? Apakah musuh-musuh Islam yang menghendaki supaya hal ini terjadi? Wallahu ‘alam. Tugas kita sebagai umat Islam di era keterbukaan informasi sekarang inilah untuk menyaring dan menguji keabsahan segala sesuatu yang ditawarkan dalam bentuk teknologi terapan. Apakah bermanfaat bagi umat ataukah tujuannya menghancurkan umat? Semoga informasi ini berguna agar masyarakat muslim, lebih di Serambi Mekkah, semakin berhati-hati dalam menggunakan teknologi dalam beribadah. Oleh karena itu, waspadalah, waspadalah.

* Jika Anda punya informasi menarik, kirimkan naskahnya, termasuk foto dan identitas Anda ke email redaksi@serambinews.com

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup B - Matchday 1
Minggu, 14 Juni 2026 | 02:00 WIB
Qatar
Qatar
1 - 1
Switzerland
Swiss
Grup C - Matchday 1
Minggu, 14 Juni 2026 | 05:00 WIB
Brazil
Brasil
1 - 1
Morocco
Maroko
Grup C - Matchday 1
Minggu, 14 Juni 2026 | 08:00 WIB
Haiti
Haiti
0 - 1
Scotland
Skotlandia
Grup D - Matchday 1
Minggu, 14 Juni 2026 | 11:00 WIB
Australia
Australia
2 - 0
Turkiye
Turki
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved