JAPFA akan Bangun Pabrik Pembibitan Ayam

PT JAPFA Confeed Indonesia (Tbk) melalui anak usahanya PT Indojaya Agrinusa akan membangun pabrik

JAPFA akan Bangun Pabrik Pembibitan Ayam
Peternak ayam potong (broiler) di Gampong Limpok, Arfiansyah memeriksa ayam peliharaannya,Senin (7/4). SERAMBI/MASYITAH RIVANI

 * Termasuk Pabrik Penetasan di Aceh

BANDA ACEH - PT JAPFA Confeed Indonesia (Tbk) melalui anak usahanya PT Indojaya Agrinusa akan membangun pabrik pembibitan ayam broiler (breeding farm) dan pabrik penetasan telur (hatchery) di Aceh. Pembangunannya direncanakan mulai tahun ini dengan total investasi mencapai Rp 100 miliar.

Vice President Head Of Operation JAPFA unit Medan, Anwar Tandiono, menyampaikan hal ini kepada Serambi seusai penandatanganan MoU Kerja Sama dengan Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Syiah Kuala, Jumat (13/1).

“Tempatnya masih kita survei, tetapi target kita tahun ini harus sudah terbangun di Aceh,” katanya didampingi Dekan FKH Unsyiah, Dr dr Muhammad Hambal, Wakil Dekan I Dr drh Sugito MSi, Wakil Dekan II Dr drh Mustafa Sabri MP, dan sejumlah pihak dari JAPFA.

Untuk pembangunan pabrik pembibitan ayam broiler, luas areal yang dibutuhkan sekitar 20 hektare, dengan kapasitas indukan (parent stok) 150.000 ekor. Sedangkan untuk pabrik penetasan, lahan yang dibutuhkan sekitar 3-4 hektare, dengan kapasitas produksi 300.000-500.000 anak ayam (day old chicken/DOC) per minggu.

Itu berarti, jumlah produksi DOC yang akan dihasilkan nanti mampu memenuhi hingga 50 persen kebutuhan anak ayam di Aceh, mengingat jumlah DOC yang dipasok dari Medan setiap bulannya mencapai 2,5 juta ekor.

Anwar menyebutkan, total biaya investasi yang dibutuhkan untuk pembangunan kedua pabrik tersebut mencapai Rp 100 miliar dengan jumlah tenaga kerja mencapai 200 orang. “Harapan kita, semua posisi mulai dari level pimpinan sampai staf pekerja itu diisi oleh tenaga kerja lokal. Intinya kita enggak main ‘impor’ lah,” ujar dia.

Keberadaan kedua pabrik ini selain akan membuka lapangan kerja, juga akan menekan biaya produksi dan memangkas ongkos transportasi, sehingga menjadikan harga DOC di Aceh menjadi lebih murah. “Di Aceh ini semua mahal, pakan mahal, DOC mahal. Kita tidak bisa berbuat apa-apa karena itu ditentukan pasar, yang bisa kita lakukan adalah menekan biaya produksi, transportasi, dan efesiensi. Mata rantai ini yang kita potong,” jelas Anwar.

Anwar juga mengakui bahwa isu keamanan memang masih menjadi kekhawatiran tersendiri dari pimpinan JAPFA di Pusat. Tetapi ia berhasil meyakinkan bahwa Aceh benar-benar aman, disamping prospek pasar yang memang cukup menjanjikan.

“Selama ini, ada sekitar Rp 70 miliar uang kami yang berputar di masyarakat Aceh per bulannya. Kontribusi kepada masyarakat ada sekitar Rp 3-4 miliar per bulan melalui program kemitraan. Jadi kenapa harus ragu,” pungkas Anwar Tandiono. (yos)

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help