Citizen Reporter
Leluasanya Umat Islam di Sydney
BERDASARKAN data sensus Australia tahun 2011, jumlah warga muslim di Australia sebanyak 476.300 orang atau setara dengan 2,2 %
RIZKI ANANDA, Master Student of Applied Linguistics
University of New South Wales, melaporkan dari Sydney, Australia
BERDASARKAN data sensus Australia tahun 2011, jumlah warga muslim di Australia sebanyak 476.300 orang atau setara dengan 2,2 % dari jumlah keseluruhan penduduk Australia.
Mengingat persentasenya yang sedikit, kita mungkin akan mengganggap bahwa umat muslim di Australia bakal sulit melakukan berbagai ibadah sebagaimana telah dianjurkan dan diwajibkan dalam Islam. Akan tetapi, pada kenyataannya masyarakat muslim di Australia bisa beribadah dengan bebas seperti yang dirasakan umat muslim di Sydney.
Penduduk muslim di Sydney dengan mudah bisa melaksanakan shalat lima waktu. Salah satu bukti kemudahannya adalah dengan adanya beberapa masjid, sehingga masyarakat muslim di Sydney bisa ikut shalat berjamaah.
Memang, pada umumnya kita sulit menemukan masjid di tempat-tempat umum, seperti pusat perbelanjaan dan restoran maupun di tempat-tempat rekreasi seperti di laut dan di taman-taman. Akan tetapi, tidak seorang pun yang melarang jika ada orang yang melaksanakan shalat di tempat tersebut. Saya bahkan sudah beberapa kali shalat berjamaah dengan beberapa teman di tempat itu bermodalkan tikar atau sajadah.
Tak hanya itu, kemudahan melaksanakan shalat fardu juga bisa dirasakan oleh penduduk muslim di tempat kerja mereka. Salah satu contohnya adalah teman saya yang selalu diizinkan melaksanakan shalat, padahal atasannya nonmuslim, bahkan tidak percaya adanya Tuhan. Kemudahan yang sama juga didapatkan oleh mahasiswa seperti di University of New South Wales (UNSW), tempat saya menimba ilmu. UNSW memiliki sebuah mushala di mana mahasiswa-mahasiswinya bisa melaksanakan shalat berjamaah.
Selain itu, universitas ini juga memfasilitasi mahasiswa gedung-gedung untuk melaksanakan shalat Tarawih berjamaah pada bulan Ramadhan, buka puasa bersama, pengajian rutin, dan mendirikan shalat Jumat dan shalat Idul Fitri dan Idul Adha.
Di samping ibadah shalat, penduduk muslim di Sydney juga bebas berpuasa. Menariknya lagi, di beberapa tempat di Sydney bagian barat, kita akan mudah menjumpai orang-orang yang berjualan makanan dan minuman untuk berbuka puasa di pinggir jalan layaknya suguhan yang sering kita lihat di Aceh saat bulan Ramadhan.
Di samping itu, bagi yang ingin mengadakan buka puasa bersama, masyarakat muslim juga mudah mendapatkan izin penyewaan gedung seperti yang dilakukan masyarakat Aceh yang tinggal di Sydney pada Ramadhan lalu. Bahkan, pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan, masjid-masjid di Sydney dipenuhi jamaah yang melakukan qiyamul lail.
Begitu juga dengan pengajian. Kita bisa mendapati pengajian-pengajian rutin yang dilakukan di masjid-masjid di Sydney, contohnya di Masjid Abu bakar yang terletak di Bankstown (salah satu suburban di Sydney bagian barat). Kitab yang mereka pelajari pun sama dengan kitab yang dipelajari di dayah-dayah di Aceh, seperti Matan Taqrib karangan Abu Suja’. Pengajian ini dipimpin syekh dari Lebanon yang bermazhab Syafi’i. Tak hanya di masjid ini, masih banyak masjid lain yang dapat izin melakukan pengajian rutin untuk kaum bapak maupun kaum ibu.
Masih banyak lagi ibadah dan kegiatan keagamaan yang bisa dilakukan dengan bebas oleh penduduk muslim di Sydney. Di antaranya doa bersama, termasuk samadiah bagi orang meninggal, seperti yang sering dilakukan masyarakat Aceh yang tinggal di Sydney, merayakan maulid Nabi Muhammad saw, takbiran keliling, dan lainnya. Oleh karena itu, meskipun Islam merupakan agama minoritas di Sydney, tapi kaum muslim di sini bisa beribadah dengan tenang, aman, dan leluasa, sesuai yang dianjurkan Allah.
Jika Anda punya informasi menarik, kirimkan naskahnya, termasuk foto dan identitas Anda ke email redaksi@serambinews.com
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/rizki-ananda_20160713_090225.jpg)