Opini

Nasib Aceh dan Pilkada 2017

PUNCAK prosesi demokrasi Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak tahap II, termasuk Aceh, akan berlangsung

Nasib Aceh dan Pilkada 2017

Oleh M. Mirza Ardi

PUNCAK prosesi demokrasi Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak tahap II, termasuk Aceh, akan berlangsung pada 15 Februari 2017 mendatang. Ini tentunya merupakan kesempatan bagi rakyat Aceh untuk mengubah nasibnya. Kesempatan untuk keluar dari pemerintahan yang lamban, salah urus, dan korup. Kesempatan untuk memilih pemimpin yang lebih baik dari yang sekarang.

Saat ini, Aceh berada di titik nadir peradaban. Kemiskinan menggerogoti masyarakat bagai kanker ganas yang tak sembuh-sembuh. Pemuda-pemudi Aceh cemas akan masa depan mereka. Di provinsi yang dihujani dana otonomi khusus (dana otsus) ini, cari kerja susahnya setengah mati. Kemelaratan hidup jugalah yang membuat jumlah anak penderita busung lapar bertambah di Aceh.

Di masa kampanye, semua pasangan calon gubernur/wakil gubernur, calon bupati/wakil bupati, dan calon wali kota/wakil wali kota, berjanji akan menuntaskan kemiskinan dan pengangguran. Untuk bisa laku, semua kandidat sepertinya begitu peduli pada nasib rakyat. Tapi dari pengalaman pilkada kemarin, ketika sudah terpilih, yang dipedulikan hanya diri dan kroninya sendiri. Berjanji belum tentu akan ditepati. Dulu ada yang berjanji akan membuat Aceh seperti Brunei Darussalam atau Singapura, yang ada Aceh menjadi provinsi nomor dua paling miskin di Sumatera.

Hasil pilkada Aceh nanti hanya akan menghasilkan tiga skenario, yaitu: Pertama, Aceh lebih baik dari sekarang; Kedua, Aceh akan sama nasibnya seperti sekarang: miskin dan salah urus, dan; Ketiga, kondisi Aceh lebih buruk dari sekarang. Rakyat Acehlah yang menentukan skenario mana yang mereka mau.

Predator anggaran
Skenario buruk terjadi jika yang terpilih nanti bukan pemimpin, melainkan predator anggaran atau dana otsus Aceh. Orang seperti ini menjadi pejabat bukan untuk melayani, tapi untuk dilayani. Bukan untuk mengabdi, tapi untuk memperkaya diri. Jabatan selama lima tahun digunakan sebaik mungkin untuk membangun bisnis pribadi. Rakyat lapar, ia kenyang. Ketika wataknya ketahuan dan tak terpilih lagi di pilkada ke depan, ia telah mampu hidup enak “tujuh turunan” berkat uang rakyat yang berhasil dikorupsi.

Dana otsus telah membuat Aceh dipenuhi oleh proyek-proyek “infrastruktur siluman”. Dalangnya ialah para kontraktor korup dan mafia politik di belakangnya. Jika yang terpilih nanti adalah gubernur atau bupati predator, pejabat ini akan melindungi para mafia proyek, karena mereka adalah kroninya. Akan ada jembatan, jalan, atau fasilitas publik dibangun dari uang rakyat dengan anggaran miliaran rupiah, tapi kualitas bangunannya seperti seharga jutaan. Hasilnya jembatan yang cepat rubuh, jalan raya yang berlubang, dan bangunan yang terbengkalai.

Edward Aspinall, professor di Australian National University, menulis paper yang berjudul From Combatan to Contractor. Di artikel akademis itu, ia menjabarkan bagaimana proyek-proyek pembangunan di Aceh pascatsunami 2004 berhasil dikuasai oleh sebagian kelompok yang tak layak memenangi tender. Caranya, mereka melakukan intimidasi dan kekerasan. Yang tak memberikan tender kepada mereka diancam bunuh.

“Ritual” ancaman kekerasan itu kembali berlanjut lima tahun sekali menjelang pemilu dan pilkada. Kalau rakyat Aceh tidak sadar akan hal ini, dan memilih para predator sebagai pemimpin, maka nasib Aceh tak ubahnya dengan negara-negara gagal di benua Afrika. Negerinya kaya raya, ditambah dana otonomi khusus, para pejabatnya hidup bergelimpangan harta, tapi rakyat jelata melarat miskinnya.

Minimnya investasi berdana raksasa tidak hanya membuat perekonomian Aceh lesu, tapi juga membuat sumber mata air ekonomi di Serambi Mekkah semakin terbatas. Sehingga dana otsus menjadi satu-satunya lahan pencarian yang bisa membuat orang mendadak kaya. Dan cara untuk bisa mengakses ke dana otsus ialah dengan menjadi politikus dan kontraktor proyek-proyek infrastruktur publik. Kebijakan anggaran jadi mainan elite politik. Akibatnya, pembangunan di Aceh keropos, yang kaya hanyalah segelintir orang, dan jumlah orang miskin makin subur.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved