Breaking News
Sabtu, 13 Juni 2026

Citizen Reporter

Offroad di Musim Dingin

MUSIM dingin tahun ini terasa lebih ekstrem dibanding tahun sebelumnya. Tak terkecuali di Turki, tepatnya di Kota

Tayang:
Editor: bakri

OLEH HAFEZ SHAHMI, Mahasiswa S1 Jurusan Teknik Lingkungan, Pamukkale University, Denizli, melaporkan dari Turki

MUSIM dingin tahun ini terasa lebih ekstrem dibanding tahun sebelumnya. Tak terkecuali di Turki, tepatnya di Kota Denizli. Cuaca yang semakin hari kurang bersahabat membuat sebagian warga lebih memilih beraktivitas di rumah pada akhir pekan.

Akan tetapi, sebagian mahasiswa, termasuk saya yang bernaung di bawah komunitas “Pamukkale Bisiklet Dernegi & Pau Pedalistler (Komunitas Sepeda Universitas Pamukkale)” memiliki cara lain untuk beraktivitas di musim dingin ini.

Komunitas kami yang bergerak di bidang olahraga outdoor seperti sepeda santai, MTB (sepeda gunung), trekking dan hiking ini dibentuk tahun 2010 dan kini telah memiliki ribuan anggota mulai dari mahasiswa hingga polisi.

Di samping mengayuh sepeda, komunitas ini juga turut serta memperkenalkan keindahan alam Kota Denizli ke berbagai penjuru negara.

Kegiatan kami kali ini adalah menjelajahi Desa Cameli dengan bersepeda gunung sekaligus melewati medan (parkur) terjal dan curam. Momen yang mengagumkan sekaligus menegangkan bagi sebagian anggota komunitas.

Cameli adalah sebuah desa sekitar 112 km di bagian selatan Kota Denizli. Desa yang dikelilingi pegunungan Toros yang terbentang melewati Provinsi Antalya hingga Provinsi Mersin ini memiliki sumber dan hasil alam terkenal akan kualitasnya seperti apel, anggur, dan pir. Mungkin inilah sebabnya mengapa komunitas pecinta olahraga outdoor lebih memilih Desa Cameli dibandingkan desa yang lain.

Tepat pukul 10 pagi, kami tiba di alun-alun Cameli. Ada beberapa komunitas sepeda profesional yang datang lebih awal dari kota lain. Walhasil kami dapat berbaur dan juga disuguhi beberapa informasi penting mengenai kondisi lapangan dan cuaca. Sungguh sangat penting dikarenakan di antara kawan komunitas ada yang masih amatir. Kegiatan yang berlangsung sehari itu dibuka oleh Wali Kota Denizli beserta Rektor Universitas Pamukkale.

Setelah sarapan dan temu sapa dengan rektor, berbagai merek sepeda baik buatan lokal maupun luar siap menjajali medan yang curam. Satu per satu peserta meninggalkan alun-alun Cameli menuju medan (parkur) yang berjarak 40 km. Sekitar 25 km melewati offroad berupa batuan dan kerikil yang terjal. Panitia juga menyediakan beberapa tim medis dan logistik makanan bilamana ada sesuatu yang akan terjadi.

Sepeda gunung yang terbuat dari aluminium ataupun bahan komposit berupa serat karbon diperkenalkan pada tahun 1970. Selain body yang ringan, ban sepeda juga memiliki kemampuan untuk mencengkeram tanah dengan kuat.

Setelah satu jam mengayuh, panitia memberikan waktu istirahat selama beberapa menit sebelum memasuki offroad yang terjal. Seperti kata peribahasa “Sambil menyelam minum air”, walaupun tubuh terasa dingin dan lelah, kami disuguhi pemandangan yang memesona dan menyegarkan pemikiran yang penat oleh aneka materi kuliah.

Keindahan alam negara Turki ini memang menakjubkan dan patut diacungi dua jempol. Ini juga berkat pemerintah dan masyarakatnya yang turut andil dalam melestarikan keindahan alam Turki.

Sambil mengayuh sepeda, saya dekati seorang anggota komunitas yang berumur 65 tahun. Walaupun mata memandang ke depan, kami berdialog dengan santai. Dia ternyata hobi berat terhadap sepeda, terutama sepeda gunung (MTB), bahkan pernah menjelajahi sampai 12 negara Eropa dengan sepeda. Dia juga menambahkan bahwa setiap helai daunan pohon terdapat kitab/bacaan yang memiliki makna tersirat. Sungguh luar biasa.

Tepat pukul 3 siang kami memasuki daerah Elmali. Di tengah hutan kami mendengar suara percikan air yang sangat deras. Dugaan kami ternyata benar bahwa di sana terdapat air terjun yang tingginya sekitar 20 meter. Anggota komunitas tidak mau melewatkan momen air terjun dengan begitu saja. Ada yang mengabadikan foto sekaligus selfie bahkan ada yang mencuci ban sepeda lantaran terkena lumpur.

Kalau sudah menjelajahi daerah seperti ini mungkin makan siang pun tidak terjadwal. Tapi ternyata di luar dugaan, panitia telah menyediakan makan siang, tepatnya di Elmali. Makan siang yang diawali dengan menu sup, salad, dan ikan bakar membuat tim peserta melupakan kelelahan sejenak.

Kegiatan bersepeda telah mencapai titik akhir. Kami kembali ke Kota Denizli dengan minibus, sedangkan sepeda MTB dimuatkan ke dalam truk. Kelelahan yang disertai dengan pengalaman tak terlupakan itu mengiringi kami kembali ke daerah masing-masing. Amboi indahnya.

* Jika Anda punya informasi menarik, kirimkan naskahnya, termasuk foto dan identitas Anda ke email redaksi@serambinews.com

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup B - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 02:00 WIB
Canada
Kanada
1 - 1
Bosnia
Bosnia
Grup D - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 08:00 WIB
United States
Amerika Serikat
4 - 1
Paraguay
Paraguay
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved