SerambiIndonesia/

Apresiasi

Ayah Ubit

Begitulah, salah satu bait lagu “Geunang Geudong” karya Ayah Ubit dizaman 1960-an

Apresiasi | Isnu Kembara, Nursyidah dan Teuku Dadek

Ramee-ramee Tajak U Gampong
Geunang Geudong Bak Bineh Rimba
Mejalo- jalo Inong Ngon Agam
Lam Geunang Nyan Meusuka Ria

Begitulah, salah satu bait lagu “Geunang Geudong” karya Ayah Ubit dizaman 1960-an dimana lagu tersebut sangat populer hingga saat ini. Ayah Ubit--nama aslinya Razali--merupakan anak dari pasangan H. Hanafiah atau lebih dikenal dengan panggilan Keurani Hanafiah dan Hj. Manieh.Ayah Ubit yang lahir pada tahun 1940, menikah dengan seorang perempuan yang berasal dari daerah Singkil, bernama Nurlian.

Keseharian Ayah Ubit hanyalah seorang pedagang kecil yang berkeliling menjajakan dagangan berupa peralatan rumah tangga, seperti dandang aluminium, panci, kuali, dan ember.

Pekerjaan ini dilakoninya setiap sore hari dengan hati yang senang, duduk di atas becak barang miliknya, Ayah Ubit pun mulai berdendang (bernyanyi) sambil memukul barang-barang dagangannya dan bahkan terkadang ia membawa serta alat musik gendang miliknya, sementara anaknya terus mengayuh sepeda becak sambil menikmati lagu-lagu sang ayah. Suara nyanyian Ayah Ubit menjadi pelaris dalam menjajakan dagangannya setiap hari. Banyak ibu rumah tangga yang tergoda dengan lirik lagu yang dinyanyikan beliau.

Menurut penuturan Amiruddin Aly, pencipta lagu Payung Kenangan asal Meulaboh, pernah pada tahun 1961 dia memperdengarkan lagu ciptaannya berjudul Tamasya kepada Ayah Ubit, yang memadukan irama Sunda dan lirik Indonesia. Inilah komentar Ayah Ubit, “Buat Lagu itu yang punya jiwa keacehan,” Amiruddin Aly meniru Ayah Ubit dan mengingat kejadia itu.

Ayah Ubit juga seorang nyentrik, beliau memberikan nama anak-anaknya seperti Hamid Mustika, Norwegia, Wahidin, Pocut Aja Syarifah Nurleili, dan Putri Arda.

Norwegia, misalnya, masih belum memahami mengapa sang ayah memberikan nama yang begitu aneh untuk didengar di telinganya sampai detik ini.Hingga sang ayah menutup mata, Norwegia belum menemukan jawabannya.

Anak pertama Ayah Ubit, Hamid Mustika, mengatakan bahwa ayahnya sering mengajaknya diatas becak sambil jualan dan mendendangkan lagu, ini sekaligus menjadi penuntun karena penglihatan beliau juga kurang awas. Dimata anak-anaknya, Ayah Ubit seorang yang begitu humoris. Terkadang beliau suka menggoda istri dan anak-anaknya melalui syair-syair lagu yang beliau tuturkan.

Masa muda Ayah Ubit dikenal sebagai anak band, maka tak heran jika Ayah Ubit mampu memainkan beberapa alat musik seperti gitar, akordeon, biola dan gendang. Pada 1979, Ayah Ubit mendapat perhatian khusus dari pemerintah daerah kabupaten Aceh Barat, berkat berita yang terus-menerus ditulis oleh Isnu Kumbara di surat kabar Aceh Post tentang kepiawaian Ayah Ubit mencipta lagu dan tentang masalah hak cipta yang tak kunjung diperolehnya. Menanggapi berita ini, Bupati Drs H Teuku Rosman saat itu memberikan piagam penghargaan dan bantuan uang tunai senilai tiga juta rupiah.

Halaman
12
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help