SerambiIndonesia/

Cerpen

Pemburu Mephistopeles

Setelah gagal menjadi penulis, Jarimundir sering tidur di tikungan jalan. Menjelang tengah malam

Pemburu Mephistopeles
cerpen 

Cerpen | Nanda Winar Sagita

Setelah gagal menjadi penulis, Jarimundir sering tidur di tikungan jalan. Menjelang tengah malam, dia selalu berteriak dan memanggil-manggil segala macam nama iblis dan setan yang pernah dikenal dalam peradaban manusia. Namun dia akhirnya sadar, hanya satu saja yang dibutuhkannya. Dia ingin bertemu Mephistopeles dan menjual jiwanya untuk diganti dengan bakat menulis yang mumpuni. Orang-orang sudah muak dengan tingkahnya. Dulu, waktu dia masih mahasiswa, matanya tidak pernah lepas dari buku. Dia juga sering mencerca kawan-kawannya yang tidak tahu nama sastrawan sekelas James Joyce dan Franz Kafka dengan cacian yang sarkastis.

Akibat dari sikap congkaknya itu, Jarimundir pernah dikeroyok oleh barisan orang-orang sakit hati. Dia hampir mati, namun tidak menyesal. Justru dengan rasa bangga yang tidak dibuat-buat, dia malah berkata: “Setidaknya selama hidup, aku sudah khatam membaca Ulysses.”
***
Jarimundir adalah anak tunggal dari pasangan yang aneh: seorang filsuf dan koki. Ibunya adalah seorang guru besar filsafat di sebuah universitas negeri ternama dan meninggal karena terserang stroke, setelah memikirkan kiat-kiat bagi perempuan agar sukses menjadi kuli bangunan, penambang batubara, dan kepala keluarga. Ayahnya adalah mantan juru masak di sebuah restoran kecil, dan kini sedang mendekam di penjara setelah dituntut oleh seorang pejabat kabupaten karena terlalu banyak membubuh garam ke dalammie goreng pesanannya. Setelah ditimpa musibah itu, Jarimundir frustrasi sehingga meninggalkan bangku kuliah dan memutuskan untuk hidup berkelana dari kota ke kota.

Selama bertualang, Jarimundir memakai dana tunjangan almarhumah ibunya dan sisa tabungan ayahnya untuk menopang hidup. Setelah uangnya habis, dia kembali ke kota asalnya dan bekerja serabutan sebagai tukang parkir di depan sebuah kedai kopi. Dia melihat berbagai macam tipe orang yang singgah di tempat itu. Mulai dari sepasang kekasih yang saling membenci, sampai tukang minta-minta yang menenteng surat tanah palsu. Dari sanalah dia mulai berkeinginan besar untuk menjadi seorang penulis. Tiap kali berangkat kerja, dia selalu membawa secarik kertas dan sebuah pulpen. Setidaknya sudah ada 26 stanza dan 49 soneta yang dikarangnya sambil menjaga kendaraan milik orang lain. Kebanyakan adalah ode yang membahas tentang motivasi yang menyulut semangat dan hakikat hidup dalam kesusahan. Coretan itu tersimpan rapi di saku celananya. Selain dirinya sendiri, hanya adasatu orang yang pernah membacanya, yaitu mantan pengarang kesohor yang bernama Kamadi.
***
Kamadi sudah lama tidak menulis. Bukan karena usiatuanya, tetapi dia merasa tidak perlu lagi menciptakan karya baru lantaran sudah menghasilkan magnum opus yang membuat namanya melejit bak pijaran api abadi.Dia sudah dianggap sebagai salah satu penyair legendaris dan jadi panutan bagi banyak orang. Pada suatu hari, Jarimundir mendatanginya untuk mengabdikan diri sebagai murid. Mulanya Kamadi menolak, tetapi setelah dipuja setinggi-tingginya, akhirnya dia luluh juga. Semua naskah puisi karangan murid barunya itu dibacanya dengan saksama. Namun ekspresinya menunjukkan ketidakpuasan.

“Puisi-puisimu jelek,” kata Kamadi. “Bahasanya tidak ada beda dengan status facebook anak-anak alay.”

“Benarkah?” Jarimundir heran. Ada rasa kecewa dalam tekanan suaranya. “Tapi sudahlah,” tambahnya,”setidaknya aku sudah menulis.”

“Jangan coba-coba mengirim karyamu ke media massa,” tambah Kamadi. “Itu hanya akan mencoreng namamu sendiri.”

Mendengar petuah pertama sekaligus yang terakhir dari gurunya itu, Jarimundir langsung menyerah danmerasa tertekan. Semangatnya runtuh seperti puing-puing kota Sodom dan Gomorah yang tak bersisa. Untuk melampiaskan rasa kecewa, semua koleksi buku miliknya dijual kiloan ke tukang loak, lantas uangnya digunakan untuk membeli anggur merah cap Orangtua di sebuah kios yang gencar menjual barang-barang ilegal. Mulai dari penghujung senja, sampai pada kokokan ayam pertama, Jarimundir memenuhi perutnya dengan minuman haram itu. Segelintir orang-orang yang masih peduli, memperingatkannya agar tidak terlalu menyiksa diri, namun dia tidak peduli. “Sudahlah,” kata salah seorang. “Nanti kau bisa mati.”

“Apakah kematianku merugikanmu?” pungkas Jarimundir. “Aku bahkan belum membuat apa-apa untuk hidupku sendiri.”

Setelah mabuk dan hampir hilang ingatan, dia lari terbirit-birit ke jalanan. Saat azan Subuh berkumandang, Jarimundir malah berteriak keras-keras mengalahkan bunyi pengeras suara yang menggaung dari masjid.Sejak hari itu, dia telah memutuskan untuk tidur di tikungan jalan, menunggu kedatangan Mephistopeles yang didambakannya. Beberapa orang teungku telah bergonta-ganti dan datang secara sukarela untuk menasihatinya, namun semuanya mengalami kegagalan yang sama.Lantaran Tuhan tidak akan mengubah nasib seseorang, Jarimundir enggan untuk mengubah nasibnya sendiri. Dia menginginkan bakat yang instan. Bakat yang fantastis untuk ukuran seorang panulis pemula. Bakat yang luar biasa sehingga bisa merangkai kata seindah sajak-sajak Dante untuk melukiskan surga dan ganasnya neraka. Bakat yang akan mengangkat derajatnya sebagai seorang pengarang besar yang akan dikenang, bahkan setelah seribu tahun kematiannya. Dia berharap orang-orang akan mengutip kalimat emasnya sebagai simbol kekerenan yang menghembuskan nafas zaman. Lebih dari semua itu, dia ingin namanya disejajarkan dengan nama sastrawan yang dipujanya. Namun yang terjadi justru tidak sesuai dengan harapan muluknya. Jarimundir terlalu pesimis. Secara teknis, dia memang tidak mengganggu ketenteraman publik, namun orang-orang tetap merasa risih.
***
“Usir dia!” kata salah seorang pendemo. “Tabiat gilanya dapat merusak akhlak anak-anak kita.”
Tidak lama setelah Jarimundir dipercayai sebagai orang gila, segerombolan massa mendatangi kantor wali kota. Mereka menuntut agar suasana kota kembali tenang seperti sedia kala. Jalan satu-satunya adalah mengusir Jarimundir. Pendemo yang terdiri atas orang-orang konservatif itu, memenuhi jalanan layaknya parade agustusan. Tidak ada yang bisa menghalangi aksi, bahkan polisi sekalipun. Malah Pak Wali Kota yang sedang menjabat ikut-ikutan bergabung ke dalam barisan itu, sehingga mereka semua bingung harus menuntut kepada siapa.

Halaman
12
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help