Cerpen

Pemburu Mephistopeles

Setelah gagal menjadi penulis, Jarimundir sering tidur di tikungan jalan. Menjelang tengah malam

Pemburu Mephistopeles
cerpen 

“Aku adalah bagian dari kalian,” katanya. “Mari kita kirim saja dia ke penjara.”
“Tapi bukankah orang gila kebal hukum, Pak?” tanya salah seorang.
“Oia, saya lupa,” jawab Pak Wali Kota seperti orang linglung, “Kalau begitu, kita memang harus mengusirnya.”

Mendengar imbauan langsung dari orang nomor satu di kota ini, massa merasa menang dan tidak perlu lagi membuang tenaga untuk berkoar-koar sampai suara mereka lenyap. Mereka langsungmendatangi Jarimundir yang pada saat itu sedang kencing di pinggir trotoar. Melihat gerombolan orang-orang mendatanginya dengan gurat wajah yang penuh amarah, dia bingung dan hendak lari. Namun beberapa orang berhasil mengejar dan mencegatnya.

“Kau harus meninggalkan kota ini,” kata Pak Wali Kota mewakili keinginan massa. “Angkut semua yang perlu kau bawa, termasuk mimpi konyolmu untuk menjadi seorang penulis itu.”

“Oke,” kata Jarimundir. “Kalau cuma menyuruhku untuk pergi dari sini, kenapa anda harus repot-repot mengumpulkan massa.”

Mendengar tanggapan santai dari Jarimundir, Pak Wali Kota mati kutu. Dia ingin menjawab dengan logis, namun kepalanya tidak punya cukup stok pembendaharaan kata. Di samping itu, semua massa yang ikut berdemo merasa terjangkit oleh virus kebodohan. Ternyata Jarimundir yang selama ini mereka anggap sebagai orang gila, tidak lebih dari orang biasa yang depresi karena tergelincir dari batas impian yang terlalu tinggi.Meskipun demikian, pada akhirnya mereka pulang dengan hati yang senang. Sementara itu, Jarimundir kembali berkelana dan tiap kali bertemu dengan tikungan, dia berharap Mephistopeles ada di sana.

Di tengah pencarian Jarimundir yang sia-sia, ternyata Kamadi baru saja menerbitkan sebuah buku kumpulan puisi. Isinya adalah 26 stanza dan 49 soneta karangan muridnya yang depresi itu, namun diterbitkan atas namanya sendiri. Dia mengingkari keputusannya sendiri untuk tidak menerbitkan buku lagi. Tapi sialnya, kecurangan itu semakin memantapkan posisinya sebagai pengarang kesohor dan namanya pun kembali melejit bak pijaran api abadi.

*Nanda Winar Sagita S.Pd, kelahiran Takengon 24 Agustus 1994. Alumnus FKIP Sejarah Unsyiah. Sementara ini dipercaya sebagai asisten dosen MKU di Unsyiah

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved