KUPI BEUNGOH

Potret Pemimpin Ideal

kepentingan umum dan rakyat banyak merupakan dua kata kolektif yang menjadi senjata utama bagi seorang pemimpin ideal.

Potret Pemimpin Ideal
GOOGLE+
Muhammad Iqbal M. Gade 

KETIKA merenungkan tulisan ini, saya teringat satu tembang Iwan Fals, “Galang Rambu Anarki”, yang konon judulnya diambil dari nama anaknya sendiri. “Galang rambu anarki anakku, lahir awal Januari menjelang pemilu.” Tidak perlu saya teruskan karena barangkali kita semua hafal dengan liriknya.

Terutama bagi Ibu-Ibu yang baru melahirkan, bulan januari dan menjelang pilkada, lirik lagu ini sangat tepat mengungkapkan harapan sekaligus keprihatinan mereka dengan kondisi Aceh saat ini. Barangkali ada harapan agar anak mereka kelak meneladani sosok pemimpin idaman yang sekarang sedang berusaha mendapatkan tempat di hati rakyatnya, alih-alih memberikan nama yang sama bagi buah hati yang baru lahir.

Saat ini Aceh sedang bergegas membenah diri untuk mengangkat kepala pemerintahan yang baru. Rakyat sedang menaruh harapan setinggi langit kepada sosok pilihannya. Ada juga yang masih galau menentukan siapa yang tepat, tidak sedikit yang berniat golput karena tidak menemukan tokoh yang menurutnya hebat.

Khusus dua golongan terakhir, mari kita fokus dan bersama mencari solusi agar mendapat pencerahan, paling tidak sekedar meningkatkan partisipasi massa untuk meramaikan pesta demokrasi kita. Dan satu lagi but not lease, agar bayi newborn juga tidak kerasukan tabiat buruk akibat salah tafsir sosok idaman sang ibunda.

Dengan menggunakan kacamata Abraham Zaleznik (1924-1928), dalam bukunya The Managerial Mystique, pandangan kita diarahkan untuk melihat sosok pemimpin yang efektif melalui tenaga dalam yang dimiliki. Menurutnya, ketika berhadapan dengan konflik pendapat, para pemimpin yang memiliki tenaga dalam akan menanggulanginya dengan: 1) nyaman menanggapi perbedaan pendapat; 2) lebih mengutamakan kepentingan umum daripada kepentingan sendiri; 3) memecahkan konflik berdasarkan nilai yang dianut; 4) mendorong kerjasama antar pribadi; 5) berkomunikasi dengan tujuan jelas yang hendak dicapai; dan 6) menerima tanggung jawab untuk pemecahan masalah bagi kepentingan orang banyak.

Teori tenaga dalam Zaleknik bukan hal yang absurd dalam menentukan pilihan, apalagi jika dihadapkan pada saat konflik atau kondisi terjepit yang memunculkan perilaku sebenarnya sang tokoh. Karena seperti kata sejarawan Yunani Kuna, Plutarchus: “what we achieve inwardly, will change outer reality.”

Tentu sangat tepat bila kutipan pendapat Plutarchus tersebut menjadi acuan pemikiran dalam usaha mengungkapkan apa yang tidak tampak di balik pola pemerintahan yang dimiliki oleh setiap calon pemimpin kita, tentunya dengan segudang pengalaman yang mereka miliki. Adapun bagi Apa Karya, dibandingkan dengan calon yang lain memang beliau belum pernah menduduki kursi pemerintahan RI, namun segudang pengalamannya di pemerintahan GAM dulu sudah dapat dijadikan acuan tersendiri untuk kemudian dapat kita masukkan dalam kriteria yang sama.

Dalam poin-poin yang disampaikan Zaleznik, kepentingan umum dan rakyat banyak merupakan dua kata kolektif yang menjadi senjata utama bagi seorang pemimpin ideal. Mengenai ciri tersebut, Soedjatmoko, dalam bukunya “Pembangunan dan Kebebasan”, membedakan dua macam “aku” pada dua tingkatan yang saling berkaitan, yaitu “aku individual” dan “aku kolektif”. Dia sangat menekankan “aku kolektif” dalam hubungannya dengan kebebasan bangsa dan pembangunan, yaitu ketika berhadapan dengan “aku kolektif” bangsa sendiri dan “aku kolektif” bangsa lain.

Perhatian terhadap kepentingan umum, dan bukan “aku individual” atau perut sendiri, menjadi sangat urgent terutama sekali ketika tampil dalam berbagai peristiwa di panggung global. Indonesia pernah mengalami “aku kolektif” pada saat Perdana Menteri Jepang, Tanaka, berkunjung ke Jakarta pada 14-17 Januari 1974. Waktu itu Indonesia kian menjadi pasar berbagai produk dan lapangan investasi Jepang.

Para mahasiswa merasa bahwa “aku kolektif” bangsa Indonesia sedang dikuasai oleh “aku kolektif” bangsa Jepang dan karenanya harus berunjuk rasa menolak kedatangan Tanaka. Kejadian tersebut kemudian dikenal dengan Peristiwa Malari. Aceh sendiri pernah mengalami masa-masa puncak “aku kolektif” ketika menuntut hak-hak keadilan dan kemandirian dari pusat yang kemudian memunculkan GAM serta gerakan mahasiswa bersama rakyat kala menyatakan Referendum pada 1999.

Halaman
12
Editor: faisal
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved