SerambiIndonesia/

Tafakur

Generasi Akhirat

Dunia berjalan meninggalkan manusia, sedangkan akhirat berjalan menjemput manusia, dan masing-masing

Generasi Akhirat

Oleh: Jarjani Usman

“Dunia berjalan meninggalkan manusia, sedangkan akhirat berjalan menjemput manusia, dan masing-masing memiliki generasi. Maka jadilah kalian generasi akhirat dan janganlah kalian menjadi generasi dunia. Karena hari ini (di dunia) yang ada hanyalah amal, dan belum dihisab; sedangkan besok (di akhirat) yang ada adalah hisab dan tidak ada lagi amal” (‘Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu).

Kuatnya kita bekerja untuk kepentingan dunia, seakan-akan kita ingin menjadi generasi dunia. Kebanyakan waktu digunakan untuk kepentingan dunia, seperti mengejar kedudukan dan harta benda, tak peduli walaupun harus mengganjal orang lain atau berbuat tak adil. Pada saat yang sama sikap kikir kian menguat, sehingga merasa tak penting menabung untuk kehidupan sendiri di akhirat. Bahkan yang sudah tua pun tak peduli keadaan dirinya. Padahal sahabat Nabi, Ali bin Abi Thalib, pernah mengingatkan bahwa dunia bergerak cepat meninggalkan kita.

Hal itu memang tak sebatas perkataan, tetapi kenyataan. Begitu cepat yang ada di dunia ini berubah, seperti manusia dari anak-anak menjadi remaja, lalu menjadi dewasa, tua, dan menghilang (mati) dari dunia ini. Bahkan sebahagian orang menghilang sebelum tua, dan bahkan sebelum dewasa, atau sebelum remaja. Kita yang masih diberikan kesempatan hidup sebentar lagi pun bisa melihat sendiri betapa banyak orang-orang di ekeliling kita yang telah pergi menuju akhirat. Kalau ini kenyataannya, mengapa kita harus terus menjadi generasi dunia?

Mengapa tak mampu memapah diri sendiri untuk mengubah segala sikap dan perilaku layaknya generasi akhirat? Yaitu generasi yang selalu mempersiapkan diri untuk kehidupan akhirat.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help