Citizen Reporter
Uniknya Budaya dan Pertanian Thailand
KAMIS siang lalu, pesawat yang kami tumpangi dari Medan mendarat mulus di Bandara Internasional Don Mueang
OLEH ABDUL AZIS, Kepala KSPP Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Balitbangtan Aceh, melaporkan dari Bangkok, Thailand
KAMIS siang lalu, pesawat yang kami tumpangi dari Medan mendarat mulus di Bandara Internasional Don Mueang, Bangkok. Penerbangan ke Bangkok ditempuh hanya dalam dua jam. Tujuan saya ke Negeri Gajah Putih ini adalah studi banding Forum Profesional Ilmiah (Forpi) peneliti Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Balitbangtan Aceh ingin melihat kemajuan dan keanekaragaman pertaniannya.
Negeri kerajaan berpenduduk 68 juta jiwa ini mayoritas masyarakatnya menganut agama Budha dan sebagian kecil menganut agama Islam. Mereka sangat mencintai bahasa nenek moyangnya. Anehnya, orang Thai kebanyakan tak mengerti bahasa Inggris. Walaupun sebagian kecil dari mereka ada yang mengerti, namun ketika ditanya mereka tetap menjawab dengan bahasanya sendiri. Bahkan, jika ingin bertransaksi cukup dengan hanya menggunakan kalkulator saja. Heran kan?
Untuk mempermudah komunikasi, kami pun sempat diajarkan guide tour untuk menayakan harga jika ingin belanja. Misalnya, berapa (thaurai), mahal (thenk), minta kurang (letnoi), mau (aung), tidak mau (meong), dan kalau thuk artinya murah. Masyarakat Thai sangat menjunjung tinggi perbedaan peradaban dan penuh toleransi. Konyolnya, kalau menyapa seseorang, di Thailand dikategorikan berdasarkan jenis kelamin menjadi tiga golongan, pria, wanita, dan uniknya ada juga sapaan untuk golongan kaum waria.
Seusai bersantap siang, rombongan kami yang berjumlah 13 orang langsung diajak meninjau model kebun kurma di Samsab Minburi yang sudah dikelola sepuluh tahun terakhir. Walaupun kebun kurma milik warga Thailand, Faruk Farm (32) itu tak begitu luas dan saat kedatangan kami baru siap panen, namun manajemen dan teknologi yang dia terapkan semuanya intensif.
Faruk termasuk pemuda yang memiliki naluri bisnis tinggi. Dalam usianya yang tergolong muda, ia mampu mengelola kebun kurmanya dari hulu hingga hilir melibatkan sepuluh tenaga kerja.
Setelah melihat kebunnya, kami pun dibawa ke showroom dan disajikan hasil olahan kurma dengan berbagai macam jenis makanan dan minuman. Tak lupa pula kami beli hasil produknya untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh. Walau kebanyakan masyarakat Thai tak menguasai bahasa Inggris, namun mereka sangat murah senyum dan selalu bertindak penuh kesabaran. Hal ini tampak dari keseharian mereka, baik dalam menjajakan hasil dagangannya, maupun saat mengemudi.
Di sepanjang jalan Kota Bangkok yang kami lalui nyaris tak pernah terdengar suara klakson mobil, apalagi klakson yang sangat viral di Indonesia saat ini “Om Telolet Om”. Kalaupun ada terdengar klakson, itu karena kondisi yang secara terpaksa dibunyikan.
Masyarakat Thai sangat cinta dan menghargai budaya leluhurnya. Tak heran memang, pemerintahan di bawah Raja Bhumibol yang telah bertakhta selama 70 tahun banyak mendirikan gedung dan pentas seni budaya. Bahkan ada pentas seni khusus di Pattaya yang menampilkan sendratari para kaum waria.
Selama di Pattaya, kami mengunjungi Gedung Museum Art in Paradise yang menampilkan bakat para seniman lukis berkelas dunia. Gedung ini banyak menampilkan lukisan seni budaya dan alam semesta.
Lain lagi halnya dengan kebun kurma, kunjungan wisata ke kebun buah Suphattraland di Ban Khai membuat mulut kami ternganga. Di sini kami sempat tercengang dan terkagum-kagum melihat kebun yang luas dengan aneka buah, termasuk durian Bangkok di dalamnya.
Begitu turun dari bus, kami langsung digiring menggunakan kereta untuk mengelilingi areal kebun. Tanaman buah-buahan di kebun tersebut tumbuh di bawah pengawasan ketat dan teknologi yang diterapkan dengan tidak main-main. Kalau selama ini kita mengenal durian cangkok, namun durian di kebun malah menggunakan teknologi pohon durian akar tiga. Ini suatu hal yang sangguh menakjubkan.
Menurut informasi, alasan Pemerintah Thailand menyerahkan pengelolaan Suphattraland ke pihak swasta karena cepat maju dan berkembang pesat. Sedangkan pemerintah hanya mengurus kebijakannya saja. Tak dapat dipungkiri, Thailand adalah negara yang terkenal dengan buah-buahannya yang super.
Kami pun tidak hanya sekadar melihat, saat usai berkeliling kebun kami juga disuguhi buah-buahan mulai mangga hingga buah naga yang telah diiris-iris dan boleh makan sebanyak-banyaknya secara gratis. Setelah menyantap semua buah-buahan, barulah kami diperkenankan menikmati buah durian dengan ukuran besar dan kecil.
Sayangnya, saya tak bisa menceritakan bagaimana nikmatnya rasa durian tersebut. Sungguh berbeda dengan durian yang pernah saya makan di Aceh. Durian Bangkok sangat khas selain bentuk, warna, dan cita rasanya juga cara belahnya, seperti halnya membelah nangka saja hanya dengan menggunakan pisau kecil yang tajam.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/abdul-azis_20170203_095417.jpg)