Sail Sabang 2017

Menyongsong ‘Sail Sabang 2017’

SABANG menjadi tuan rumah perhelatan “Sail Sabang 2017” yang akan berlangsung pada 28 November-5 Desember 2017

Menyongsong ‘Sail Sabang 2017’

Oleh Fauzi Umar

SABANG menjadi tuan rumah perhelatan “Sail Sabang 2017” yang akan berlangsung pada 28 November-5 Desember 2017 mendatang. Presiden Joko Widodo melalui Menko Kemaritiman RI mengabulkan permohonan Gubernur Aceh terkait kegiatan itu, dengan mengeluarkan Surat Keputusan No.28 Tahun 2016 Tanggal 23 Desember 2016. Keputusan Menko Kemaritiman RI ini dilakukan dengan berbagai pertimbangan, karena ada empat provinsi lainnya juga sangat berminat menjadi tuan rumah event wisata bahari bertaraf Nasional/Internasional tersebut.

Substansi dan spirit yang ingin dicapai melalui event akbar ini adalah membangun dan mengembangkan kembali Kota Sabang sebagai kota wisata bahari dengan bentang lautnya yang indah untuk dikelola dan ditata berkelas dunia guna meningkatkan pendapatan negara dan memberikan kemakmuran bagi rakyat melalui sektor pariwisata. Substansi lain adalah Kota Sabang menjadi icon negara serta berbatasan langsung dengan negara tetangga Malaysia dan Thailand. Selain itu juga kota Sabang dianugerahi letak yang sangat strategis berada dipintu utama (gateway) Selat Malaka dan memiliki pelabuhan alam terbaik seperti halnya pelabuhan Tanjung Priok.

Selat Malaka menjadi sarana transportasi laut tersibuk dan termurah di dunia dan selama ini negara-negara tetangga seperti Malaysia, Thailand dan Singapura yang sangat serius menangkap peluang tersebut dengan membangun fasilitas pelabuhan berkelas dunia. Setiap hari ratusan kapal melintasi selat ini, karena itu tidak mengherankan pelabuhan Singapura setiap hari mampu merapat rata-rata 60 kapal dengan durasi waktu tunggu 2-3 jam. Demikian juga dengan kapal pesiar yang lalu lalang di selat Malaka, pelabuhan Singapura mampu mendatangkan rata-rata 396 call setiap tahun.

Kapal pesiar
Momentum “Sail Sabang 2017” merupakan satu upaya untuk menghidupkan dan meramaikan kembali pelabuhan Sabang, terutama dengan semakin meningkatnya kunjungan kapal pesiar dalam tiga tahun terakhir ini. Pada 2013-2015, pelabuhan Sabang dikunjungi oleh 8 kapal pesiar dan pada 2016 dikunjungi 11 kapal pesiar. Kapal pesiar ini rata-rata membawa 800-1.500 orang penumpang dan membelanjakan lebih dari 5.000 dolar AS per orang di daerah wisata yang dikunjunginya.

Persoalannya uang tersebut tidak banyak dibelanjakan di Sabang, mengingat terbatasnya fasilitas dan akomodasi yang diinginkan. Demikian juga paket wisata maupun paket belanja yang ditawarkan disebabkan waktu singgah sangat singkat rata-rata antara 6 - 10 jam.

Berdasarkan data dan hasil pengecekan baik dari money changer, transaksi pertukaran valuta asing (valas) terjadi antara Rp 15-50 juta, transaksi pada UKM rata-rata Rp 3-5 juta, biaya tambat dan labuh rata-rata lebih dari Rp 100 juta tergantung gross ton kapal per sekali merapat untuk waktu 6-10 jam. Belum lagi jasa pandu yang mencapai hampir 2 kali lipat dari jasa pelabuhan lainnya. Biaya ini belum termasuk jasa pengisian air bersih yang permintaannya hingga 200 ton, bahan bakar minyak 200-400 ton, suplai bahan makanan dan logistik untuk keperluan perjalanan selama di laut.

Dari sisi jumlah kunjungan kapal pesiar dibandingkan dengan wilayah-wilayah lain seperti Singapura dan pelabuhan Benoa Bali kunjungan kapal pesiar ke pelabuhan Sabang masih rendah, namun menunjukkan peningkatan yang signifikan. Pelabuhan Singapura pada 2016 mencapai 398 call atau rata-rata setiap hari ada 2-3 kapal pesiar merapat di pelabuhan Singapura, pelabuhan Benoa 58 call. Sedangkan pelabuhan Sabang baru 11 call hingga akhir 2016 yang sudah masuk dalam schedule timetable kunjungan kapal pesiar dunia.

Keyakinan peningkatan kunjungan kapal pesiar ini semakin bertambah setelah pihak Carnival/Costa Group yang menguasai 48% pangsa kapal pesiar dunia mengunjungi pelabuhan Sabang beberapa waktu lalu untuk rencana pelayaran islami (islamic cruise) berlayar mengharungi lautan lepas sambil beribadah. Kapal pesiar yang direncanakan Costa Victoria ini membawa 2.000 penumpang dan 900 crew berangkat dari pelabuhan Singapura open sea-Langkawi-Penang dan Banda Aceh (via Sabang). Penjelasan yang sama juga disampaikan Mr Lamy --Advisory Cruise Ship Menteri Pariwisata RI yang berkedudukan di Monaco-- pada pertemuan Pelabuhan Cruise Indonesia beberapa waktu lalu di Kementerian Pariwisata RI di Jakarta.

Jika saja ini mampu dikelola secara profesional, terpadu dan berkesinambungan kehadiran kapal pesiar ke Pelabuhan Sabang akan memberikan efek domino dalam pertumbuhan ekonomi Aceh dan efeknya akan menyebar ke daerah-daerah lain di Indonesia. Semakin banyak kapal pesiar yang berlabuh akan memberikan pengaruh besar dan Pelabuhan Sabang akan semakin dikenal kembali, sehingga sejak awal keberangkatan kapal-kapal ini akan mengisi bahan bakar minyak (BBM) dan logistik dan lain-lain akan merapat ke pelabuhan Sabang.

Ini menjadi PR pemerintah, agar kapal-kapal yang lewat dan lalu lalang di Selat Malaka dapat singgah di pelabuhan Sabang. Pembenahan harus dilakukan, terutama Teluk Sabang dijadikan pelabuhan hub pariwisata bahari berkelas Internasional lengkap dengan terminal cruise, serta pembenahan objek-objek wisata termasuk pengembangan twin city tour Sabang-Banda Aceh.

Promosi wisata
Promosi harus dilakukan 2-3 tahun sebelumnya khususnya untuk kapal-kapal pesiar yang berpusat di Amerika Serikat dan Eropa serta 6 bulan sampai 1 tahun untuk kapal-kapal pesiar yang bermarkas di Asia. Singgahnya kapal-kapal yang melewati Selat Malaka akan memberikan efek besar bagi pertumbuhan ekonomi melalui jasa dan bea seperti bea sandar, bea labuh, dan jasa-jasa pelabuhan lainnya dan transaksi bisnis lainnya termasuk industri pariwisata akan menjadi pemasukan besar bagi negara, khususnya bagi Aceh pasca-otonomi khusus (otsus) dan migas yang akan berakhir pada 2025.

Melalui “Sail Sabang 2017” cita-cita untuk menata Kota Sabang, terutama Teluk Sabang menjadi kawasan Sabang Marina Bay dan pengembangan Teluk Sabang menjadi pelabuhan hub wisata bahari berkelas dunia khususnya untuk kapal-kapal cruise dan yacth dapat terwujud. Jika hal ini terwujud maka akan membuka lapangan pekerjaan terutama di bidang industri dan jasa kepariwisataan, seperti pengembangan hotel dan resort, serta penginapan lainnya, jasa transportasi dan guide, rumah makan dan restoran, perbankan dan money changer, antraksi wisata dan lain-lain.

Ini merupakan salah satu solusi bagi ekonomi Aceh mengingat selama mendapatkan dana Otsus dan migas, Aceh belum mampu membangun kemandirian ekonomi dengan industri-industri pengolahan hasil pertanian yang dimilikinya. Sektor pariwisata bahari merupakan solusi yang tepat dan melibatkan langsung peran serta masyarakat, jika pemerintah gagal mengembangkannya, konflik baru pascaotsus dan migas akan terjadi kembali akibat kesulitan kehidupan ekonomi masyarakat. Semoga pemerintah dan masyarakat serius mengembangkannya.

* Fauzi Umar, pegawai pada Badan Pengusahaan Kawasan Sabang (BPKS). Email: fauzi_umar_3@yahoo.co.uk

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved