Kerinduan Ibu pada Anaknya yang Hilang Puluhan Tahun Lalu

WANITA renta bernama Po Hendi (85) ini terbaring lemah di kasur yang dibentang di ruang tamu rumahnya, di Gampong Yub

Kerinduan Ibu pada Anaknya yang Hilang Puluhan Tahun Lalu
PO HENDI (85) terbaring lemah ditemani anaknya, Puteh Cut (45) di rumahnya Gamponh Yub Mee, Kemukiman Kajhu, Kecamatan Indra Jaya, Pidie, Senin (27/2). Kondisi Po Hendi kian memburuk setelah kehilangan anaknya bernama Syukri puluhan tahun lalu. SERAMBI/NUR NIHAYATI 

WANITA renta bernama Po Hendi (85) ini terbaring lemah di kasur yang dibentang di ruang tamu rumahnya, di Gampong Yub Mee, Kecamatan Indra Jaya, Pidie, Senin (27/2). Buruknya kondisi kesehatan ibu lima anak ini semakin menunjukkan bahwa ia memendam siksa bathin dalam waktu cukup lama. Tubuhnya kurus keriput, wajahnya sembab, dan air mata terus menetes dari sudut matanya. Ia pun tak mampu lagi berbicara karena lidahnya telah lama kelu.

Puteh Cut (45) anak ketiga Po Hendi yang kini menemani hari-harinya, menceritakan bahwa ibunya seperti mengalami hilang ingatan, sejak kehilangan seorang anaknya bernama Syukri (adik Puteh Cut). “Syukri hilang waktu usianya baru 1 tahun, terbawa oleh kereta api dari Krueng Geukuh, puluhan tahun lalu,” kisah Puteh Cut.

Waktu itu, Puteh Cut masih berusia 5 tahun. Ia tidak begitu hafal kondisi saat itu. Ia cuma mengenang bahwa ibunya berangkat dari Sigli hendak ke Kuala Simpang naik kereta api. “Ibu berangkat menggendong Syukri yang berusia setahun,” kata Puteh Cut.

Tiba di Krueng Geukuh, Aceh Utara, kereta api itu berhenti di stasiun. Po Hendi yang tak tahan harus segera ke kamar kecil, menitipkan anaknya pada penumpang di sampingnya. Mungkin karena selama dalam perjalanan kedua penumpang kereta api ini telah cukup akrab, ia tak khawatir meninggalkan anaknya di kereta ini.

Di luar dugaannya, kereta api tak berhenti lama, dan melanjutkan perjalanan tanpa mengetahui penumpangnya bernama Po Hendi telah tertinggal. Malang bagi Po Hendi, masinis kereta api itu tak pernah tahu bahwa pemberangkatan kereta api itu telah memisahkan seorang ibu dengan anaknya. Sementara Po Hendi pun mencoba menunggu hingga malam, berharap kereta api itu kembali. Namun usahanya sia-sia. Ia pun pulang ke Lhok Kajhu, Pidie, seorang diri. Meski peristiwa itu terjadi puluhan tahun lalu, namun sampai saat ini Po Hendi terus meratapinya, hingga kondisi tubuhnya makin memburuk.

Kini, hari-hari Po Hendi hanya diisi dengan berbaring di kasur dengan bantuan Puteh Cut yang juga hidup memprihatinkan, dengan ekonomi pas-pasan yang didapatnya dari upah menjadi tukang parkir. Selain harus merawat ibunya, janda dua anak ini juga harus membiayai biaya sekolah anak-anaknya.

“Ibu sangat merindukan Syukri, yang hilang dibawa kereta api puluhan tahun silam. Pernah kami pergi ke salah satu ‘orang pintar’ untuk melihat secara gaib keberadaan Syukri. Menurut ustaz itu, Syukri masih hidup. Namun tidak tahu dimana ia berada,” ujar Puteh Cut.

Menurut Puteh Cut, keluarganya tidak sempat menyimpan foto adiknya itu, Namun ada beberapa tanda yang dimiliki adiknya, yakni bekas luka lecet di belakang telinga kanannya. Lalu, ada tanda lahir warna hitam di punggung belakang sebelah kanan sebesar 2 Cm.

Inilah sepenggal kisah kerinduan seorang ibu yang kehilangan anaknya puluhan tahun lalu. Akankan Sang Ibu bisa bertemu kembali anaknya itu sebelum ajal menjemputnya.(nurnihayati)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved