Opini

Konsensus Politik Baru di Aceh

KOMISI Independen Pemilihan (KIP) Aceh telah mengumumkan hasil pemilihan Gubernur Aceh periode 2017-2022

Konsensus Politik Baru di Aceh
KETUA KIP Aceh, Ridwan Hadi menandatangani hasil rekapitulasi penghitungan suara pemilihan gubernur/wakil gubernur Aceh 2017, di Gedung DPRA, Banda Aceh, Sabtu (25/2 

Oleh Thayeb Loh Angen

KOMISI Independen Pemilihan (KIP) Aceh telah mengumumkan hasil pemilihan Gubernur Aceh periode 2017-2022 pada 15 Februari 2017 lalu. Hasilnya, perolehan suara pasangan Irwandi Yusuf-Nova Iriansyah unggul di atas lima pasangan calon lain. Hitungan ini bisa berubah kalau ada pemilihan ulang. Semoga tidak ada kekacauan apapun karenanya.

Menurunnya suara Partai Aceh (PA) yang berkuasa di parlemen dan calon gubernurnya adalah wakil gubernur petahana merupakan hal mengejutkan banyak pihak. Selain memang karena takdir Allah Ta’ala, ada beberapa penyebab hal itu terjadi. Namun di sini saya tidak ingin menjadi pakar kekalahan orang ataupun kemenangan itu.

Pilkada 2017 adalah pertarungan antara PA dengan Partai Demokrat, pertarungan antara politik berbasis Aceh dan politik berbasis Jakarta. Itu bukanlah pertarungan antara Mualem dengan Irwandi, bukan. Menangnya Irwandi-Nova di Aceh adalah kemenangan politisi yang berbasis Jakarta atas politisi yang berbasis Aceh.

Mari kita bicara tentang hal yang lebih penting yang perlu kita sadari dalam dunia perpolitikan di Aceh, yakni, sebuah konsensus baru setelah jatuhnya suara PA. Apakah partai ini akan mendapatkan suara terbanyak untuk parlemen pada 2019 ataukah Partai Demokrat? Pengamat politik AS, M Boast, pernah menulis dalam buku Change of Power, “Sepanjang enam ribu tahun peradaban manusia, tidak ada satu hari pun keadaan yang dapat disebut kembali normal.”

Tidak akan ada yang kembali sebagaimana sedia kala. Kita tidak akan pernah menyaksikan PA beraroma GAM lagi, walaupun eks kombatan GAM adalah pendirinya, walaupun pengurus dan anggota terbanyaknya pun simpatisan mereka. Semua berubah dan terus berubah.

Malas berpikir
Hasil hitungan Pilkada 2017 di Aceh menunjukkan karakter masyarakat Aceh saat ini. Mereka menilai sesuatu berdasarkan yang dibaca di media massa dan didengar dari pembicaraan di pinggir jalan.

Unggulnya suara Irwandi-Nova bukan berarti masyarakat sudah cerdas atau berpikir logis, tidak sama sekali. Akan tetapi itu pertanda pikiran masyarakat malas berpikir.

Masyarakat memilih mereka karena pengetahuannya berdasarkan berita media massa dan perbincangan di pinggir jalan. Masyarakat seperti ini mengangkat orang tanpa ideologi ke permukaan politik, walaupun kemudian mereka menyesalinya. Nasionalisme Aceh (etno nasionalisme) yang dimunculkan telah terlihat begitu kuat pada 1999-2000, dan sampai 2012 masih terasa, kini telah menghilang.

Hasil hitungan KIP Aceh 2017 menunjukkan bahwasanya masyarakat Aceh memilih calon gubernur dari partai Nasional dan partai lokal pecahan, bukan partai induk yang didirikan pertama kali oleh para eks kombatan GAM. Dan, PA yang menaikkan calonnya bersama Partai Gerindra menandakan bahwasanya kepentingan politik Aceh telah ditinggalkan oleh petinggi partai berwarna merah ini.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help