Citizen Reporter

Isu Poligami di Tengah Lesu Ekonomi

ISU publik yang mencuat di Malaysia saat ini memang tidak terlalu banyak, tapi penting untuk diketahui

Isu Poligami di Tengah Lesu Ekonomi
ROSI MALIA MM 

OLEH ROSI MALIA MM, Direktur Seunagan Energy, melaporkan dari Kuala Lumpur, Malaysia

ISU publik yang mencuat di Malaysia saat ini memang tidak terlalu banyak, tapi penting untuk diketahui bahwa Malaysia saat ini sedang tidak bergairah ekonominya. Kondisi ini dipengaruhi juga oleh harga minyak yang naik turun, di samping nilai tukar ringgit Malaysia (RM) terhadap dolar Amerika Serikat memang sedang jatuh.

Boleh dikata, saat ini perekonomian Malaysia sedang kurang bagus. Segala properti harganya melambung tinggi. Pengangguran juga kian bertambah. Universitas memang makin banyak saja mencetak sarjana, tapi tidak terbuka peluang pekerjaan bagi mereka. Di tengah sulitnya mencari pekerjaan di negeri jiran ini, investor Malaysia masih saja didominasi oleh etnis Cina. Tak beda dengan tetangganya, Singapura.

Di tengah situasi seperti inilah saya berkunjung lagi untuk kesekian kalinya ke Malaysia. Karena masih bulan Februari, masih tergolong awal tahun, saya masih sempat melihat stiker, poster, dan baliho Gong xi fat cai dipasang di mana-mana. Dengung musik barongsai pun masih berkumandang di Airport KLIA 2 Malaysia.

Setelah menginjakkan kaki kembali ke tanah Melayu ini, hawa panas di siang hari begitu terasa. Arus pelancong/turis ke Malaysia terlihat masih saja tinggi, meski negara ini sedang didera kelesuan ekonomi.

Untuk sampai ke hotel yang dituju, saya hubungi Grab agar dapat menjemput saya ke lobi utama bandara.

Sambil jalan, saya sempatkan mengorek sedikit informasi dari si sopir yang seumuran dengan saya. Dia bekerja part time sebagai sopir Grab. Ini dia lakukan jika sudah selesai pulang dari pejabat (istilah kantor atau office di KL).

Timbul pertanyaan dari saya, “Mengapa Anda bekerja part time sebagai sopir? Bukankah Anda bekerja di salah satu pejabat pemerintah?” Lalu dia jawab sambil mengeluhkan tentang kondisi sulit yang saat ini mendera negaranya. Bahwa ekonomi Malaysia sedang tidak baik saat ini dan dipengaruhi juga oleh turunnya harga minyak, serta RM yang sedang jatuh ke harga jual 1 RM dengan harga IDR 2.900.

Uniknya, di balik lesunya perekonomian Malaysia saat ini ada isu menarik di daerah Kelantan, yakni sedang serius digalakkan poligami. Pemerintah Kelantan akan membantu setiap orang yang ingin mempunyai anak lagi dengan cara mempunyai dua, tiga, atau empat istri. Hal ini sangat unik dan menarik, sebab dalam Islam memang dibolehkan menikah sampai empat istri asal sanggup berlaku adil.

Oleh karena itu, otoritas Kelantan tidak merasa hal itu tabu, namun justru dianggap sebagai sikap untuk saling berbagi dan memiliki. Bagaimana dengan di Aceh? Tentunya sangatlah berbeda, dalam menjalankan peran syariahnya.

Dalam sektor pendidikan saat ini Malaysia juga banyak menerima pelajar dari mancanegara. Kebanyakan mahasiswa tersebut berasal dari Afrika. Banyak di antara mereka yang tinggal dan bekerja di Malaysia. Yang sangat menarik sampai dengan hari ini adalah walau Malaysia negeri syariah dan penduduknya mayoritas Melayu dan asalnya juga banyak dari Indonesia, namun culture-nya sangat dapat diambil contoh untuk negara syariah lainnya, di mana di sana tidak adanya perbedaan.

Semua saling menghargai antara pemeluk agama yang berlainan, hingga di sini pun banyak terbangun industri-industri manufacture, otomotif, dan makanan. Malaysia sampai saat ini sangat memberi peluang-peluang investasi dan bisnis, agar negaranya kian maju. Bayangkan kalau Aceh juga demikian?

* Jika Anda punya informasi menarik, kirimkan naskahnya, termasuk foto dan identitas Anda ke email redaksi@serambinews.com

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help