Home »

Opini

Opini

Alquran dan Kemerdekaan Akal

SATU bahasan yang sering diperbincangkan kaum intelektual sejak dulu hingga saat ini adalah akal

Alquran dan Kemerdekaan Akal
Wirda Mansur, Hafizah Alquran 30 juz yang juga putri dari Ustadz Yusuf Mansur memberikan testimoni sebelum Dakwah Jumat yang digelar Pemko Banda Aceh di Taman Sari, Banda Aceh. SERAMBI/M ANSHAR 

Oleh Teuku Zulkhairi

SATU bahasan yang sering diperbincangkan kaum intelektual sejak dulu hingga saat ini adalah akal. Tidak sedikit buku dan kitab yang ditulis yang menyeru kepada penggunaan akal untuk memecahkan berbagai problematika dan “misteri” kehidupan. Intensitas perbincangan seputar akal tentu sangat beralasan karena akal adalah anugerah terbesar dari Allah Swt kepada manusia. Jika akal bisa berfungsi dengan baik, maka manusia akan berjalan dalam cahaya yang terang. Kehidupannya akan berperadaban, berjaya dan bahagia. Sebaliknya, apabila akal tidak difungikan dengan baik, maka manusia akan hidup dalam kegelapan, jauh dari peradaban.

Pertanyaan kemudian, bagaimana posisi akal dalam Islam, atau, bagaimana posisi akal dalam Alquran? Mengajukan pertanyaan ini sangat penting sebelum kemudian kita bergerak pada diskusi selanjutnya, yaitu bagaimana memfungsikan akal dalam mencari solusi dan atau memecahkan berbagai problematika kehidupan? Secara umum, kita akan mendapati dua jawaban atas pertanyaan ini. Pertama, karena ia adalah anugerah Allah Swt, sebagian menganggap akal harus berfikir tanpa batas, ia tidak boleh dibendung oleh sekat-sekat transendental (ilahiyah). Kedua, akal harus difungsikan berdasarkan petunjuk-petunjukilahiyah.

Di lapangan, selain kita akan menemukan dua golongan manusia yang menggunakan akal sebagaimana dibahas di atas, kita juga akan menemukan manusia yang jarang menggunakan nalar (akal), baik dengan cara yang pertama, maupun dengan cara yang kedua di atas. Manusia pada golongan ketiga ini, ia menunggu arahan dari dua kategori manusia di atas.

Andalan utama
Akal bagi manusia golongan pertama harus di atas digunakan tanpa perlu tunduk pada kebijakan-kebijakan ilahiyah. Jika terdapat problematika kehidupan, maka akal adalah andalan utama untuk memecahkannya, tanpa merasa harus tunduk dan patuh pada keterangan teks suci. Alasannya, Alquran saja memerintahkan manusia untuk menggunakan akalnya. Pendapat ini merujuk realitas empiris di mana pencerahan (renaissance) yang dialami bangsa Barat, terjadi tatkala mereka mulai meninggalkan pengaruh agama dari kehidupan mereka. Pada intinya, Barat maju karena meninggalkan agama. Dan inilah yang dikampanyekan kaum kolonialis penjajah ketika mereka menjajah dunia Islam.

Maka kemudian diambil sebuah hipotesis, bahwa jika umat Islam ingin maju, mengikuti jalan yang ditempuh Barat dengan meninggalkan agama adalah sebuah keniscayaan. Lalu, produk-produk pemikiran Barat diimpor ke tengah-tengah umat Islam. Maka kita mengenal ideologi sekuler, liberal, relativitas kebenaran, metodologi tafsir hermeunetika, kesetaraan gender, dan sebagainya. Hasilnya, identitas Islam perlahan-lahan tercerabut dari akarnya. Lahirlah praktik ekonomi yang kapitalistik, pendidikan yang materialistik, politik yang oportunistik, dan berbagai sikap hidup yang hedonistik.

Sementara bagi golongan kedua, akal adalah anugerah Allah Swt yang harus digunakan semaksimal mungkin, namun ia tetap harus tunduk dan patuh pada “kebijakan langit”. Alasannya, meski Alquran memerintahkan umat Islam untuk memfungsikan akal untuk berfikir dan bertadabbur, namun disisi lain, Alquran juga menegaskan aturan yang tidak atau jangan sesekali dilampaui oleh akal manusia. Artinya, Alquran menempatkan akal pada posisinya yang terhormat. Manusia diminta menggunakan akal dimana wujudnya adalah adanya ayat-ayat suci yang didominasi oleh teks yang bersifat dhanni, namun akal diminta untuk tunduk pada ayat-ayat Qath’i untuk menghindari kebimbangan dan keraguan. Pemahaman seperti ini mendapatkan perlawanan keras dari pola fikir manusia golongan pertama di atas. Sebab, ia dianggap menjadi sebab kemunduran umat Islam.

Padahal, sejarah membuktikan, periode keemasan Islam di masa lampau diraih dengan ketundukan akal pada “kebijakan langit”, sekaligus juga memfungsikan akal berdasarkan arahan dari langit melalui ayat-ayat suci. Maka lahirlah peradaban Abbasiyah yang eksis berabad-abad. Lahirlah peradaban Islam di Andalusia Spanyol yang memancarkan cahaya ilmu pengetahuan hingga ke negeri-negeri Eropa yang pada saat itu diliputi oleh awan kegelapan akibat pengaruh gereja yang mengekang kebebasan berfikir. Berikutnya juga lahirlah peradaban Ottoman yang kaya dengan ilmu pengatahuan sehingga mampu memperluas wilayah kekuasaan Islam membentang dari Asia, Eropa hingga Afrika.

Peradaban Islam
Ketika kita membaca sejarah peradaban Islam umat terdahulu, maka ternyata era keemasan mereka diawali dengan ketundukan akal pada perintah Allah Swt. Baik perintah untuk berpikir bagi akal, maupun perintah Allah Swt bagi akal untuk mengikuti ayat-ayat suci. Sepanjang sejarah Islam tidak dijumpai tragedi pengekangan kebebasan berpikir, karena memang Islam begitu menekankan kita untuk berpikir.

Agar kemajuan yang akan (seharusnya) dicapai umat Islam tetap dalam koridor “perintah langit”, bisa menyeimbangkan dunia dan akhirat, maka tekanan Islam untuk berpikir disempurnakan dengan metode yang integratif sehingga umat Islam bisa maju secara duniawi dan tetap selamat dalam pandangan ukhrawi (Teuku Zulkhairi, “Indonesia, Islam dan Kebangkitan”, Serambi, 6/6/2014).

Dan sebaliknya, ketika kita membaca sejarah peradaban Islam, kita juga akan menemukan bahwa ternyata peradaban Islam mulai mundur tatkala akal mengikuti hawa nafsu, meninggalkan petunjuk Allah Swt dalam Alquran. Ketika Alquran tidak lagi menjadi landasan berpikir umat Islam, maka lahirlah penghambaan-penghambaan baru manusia kepada sesama makhluk Allah. Lahirlah praktik syirik dan perdukunan yang membelenggu akal. Lahirlah penghambaan manusia kepada sesama manusia dengan cara mengikuti pikiran-pikiran manusia yang tidak berlandaskan kepada Alquran.

Bukankah saat seorang manusia menolak teks suci berarti ia sedang menghambakan diri kepada sesamanya? Jika bukan, lalu kepada siapakah ia melandasi pikirannya tatkala ia menolak teks suci? Bukankah jelas sekali tidak lagi kepada Allah Swt sebagai sang Pencipta? Dan adanya penghambaan manusia kepada sesama makhluk sehingga tunduk pada nafsu duniawi inilah yang menjadi awal kemunduran peradaban Islam.

Kebebasan akal dalam pandangan Alquran adalah tatkala akal manusia tunduk dan patuh pada Alquran, bukan dengan meninggalkannya. Maka fitrah manusia diciptakan untuk selalu mendekat menuju cahaya dalam beraqidah, dalam berfikir dan dalam setiap dimensi kehidupan lainnya. Dan inilah kemerdekaan akal, yaitu tatkala akal bebas bergerak menuju Allah Swt sebagai sang Pencipta alam semesta.

Sementara meninggalkan Alquran berakibat pada terjadinya penghambaan manusia kepada sesama --atau bahkan juga pada akal dirinya sendiri-- di mana ini merupakan rintangan bagi kemerdekaan akal. Sebab, sesuai fitrahnya, akal merdeka ketika ia menemukan cahaya Ilahi.

* Teuku Zulkhairi, M.A., mahasiswa Program Doktoral PPs UIN Ar-Raniry, Banda Aceh. Sekjend PW Bakomubin Provinsi Aceh. Saat ini bekerja di Humas UIN Ar-Raniry. Email: abu.erbakan@gmail.com

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help