SerambiIndonesia/

Bandara Sinubung Vakum

Operasional Bandara Sinubung, Blangtengulung, Kecamatan Blangkejeren, Kabupaten Gayo Lues

Bandara Sinubung Vakum

* Proses Lelang belum Rampung

BLANGKEJEREN - Operasional Bandara Sinubung, Blangtengulung, Kecamatan Blangkejeren, Kabupaten Gayo Lues (Galus) telah vakum atau tidak beroperasi sejak tiga bulan lalu. Hal tersebut tidak terlepas dari belum rampungnya lelang oleh Kementerian Perhubungan terhadap perusahaan penerbangan yang akan melayani rute Medan dan Banda Aceh.

Berdasarkan informasi yang dikumpulkan Serambi kemarin, pelayanan penerbangan tidak ada lagi sejak awal tahun 2017. Kondisi itu menyebabkan sarana dan prasarana menjadi terbengkalai, seperti rerumputan mulai bertumbuhan di seputaran bandara.

Kepala Dinas Perhubungan (Kadishub) Galus, Drs Ibrahim Saleh, kepada Serambi, Sabtu (11/3) mengakui bandara Sinubung berhenti beroperasi sejak tiga bulan lalu. Dia beralasan akibat belum rampungnya proses pelelangan yang dilakukan oleh Kementerian Perhubungan melalui perwakilan penerbangan di Bandara Rembele, Bener Meriah.

Dia menjelaskan penerbangan di Bandara Sinubung yang dilakukan tiga kali dalam sepekan masih dibawah tanggungjawab penuh pihak Bandara Rembele Bener Meriah. Tetapi, Ibrahim menyatakan akan terus berupaya melakukan koordinasi dengan pihak terkait, baik yang berada di Bandara Rembele maupun petugas perwakilan di Kuala Namu, Medan.

“Pemkab Galus tetap berharap, penerbangan pesawat berbadan kecil jenis Susi Air ini agar dapat kembali beroperasi,” harapnya. Dia juga berharap penerbangan rute Blangkejeren-Kuala Namu dan Banda Aceh tetap sebanyak tiga kali dalam seminggu, seperti sebelumnya.

Sebelumnya, jumlah penumpang pesawat kecil Susi Air dari Bandara Senubung, Blangkejeren, Kabupaten Gayo Lues (Galus) tujuan Medan dan Banda Aceh membludak. Pemkab Galus langsung meminta maskapai itu untuk menambahkan jadwal penerbangan, sehingga tidak ada calon penumpang yang terlantar.

Pemanfaatan layanan penerbangan terhadap warga Galus itu tidak terlepas dari kebijakan Bupati Ibnu Hasim yang menggratiskan tiket dari Galus, tetapi tidak ada dari Medan atau juga Banda Aceh. Program itu berakhir 13 Agustus 2015, sebagai bagian dari sosialisi bandara yang telah rampung dibangun.

Penerbangan perdana untuk melayani rute Blangkejeren-Medan dan Banda Aceh dimulai pada 13 Juni 2015 lalu dan tepat 13 Agustus berakhir. Kepala Dinas Perhubungan dan Infokom Galus, Muhammad Ali SH, kepada Serambi, Jumat (31/7/2015) mengakui jumlah penumpang pesawat Susi Air dari Blangkejeren ke Medan dan Banda Aceh terus meningkat, terutama tujuan dari Blangkejeren.

“Membludaknya jumlah penumpang tidak terlepas dari gratisnya tiket dari Blangkejeren, tetapi harus dibuktikan seusai kebijakan itu berakhir,” jelasnya. Dia mengungkapkan telah meminta maskapai Susi Air untuk menambah jadwal penerbangan, karena dua kali sepekan, setiap hari Kamis dan Sabtu sudah tidak memadai lagi.

Dia menyatakan pihaknya akan terus melakukan koordinasi dengan pihak Susi Air untuk penambahan penerbangan, baik ke Medan dengan tarif tiket Rp 197.500 dan Banda Aceh Rp 265.700/penumpang. Dikatakan, tarif yang ditetapkan telah mendapat subsidi dari pemerintah, sehingga dapat dijangkau seluruh lapisan masyarakat.

Sementara, Susi Air mulai beroperasi melayani jalur Blangkejeren-Banda Aceh dan Medan melalui penerbangan perdana dimulai dari Medan menuju bandara Sinubung, pada Rabu (10/6/2015) dengan membawa 12 penumpang, termasuk pilot dan kru pesawat.

Bupati Ibnu Hasim bersama unsur Muspida plus dan para kepala SKPK menyambut para penumpang saat turun di bandara. Ibnu Hasim sempat menyatakan dengan adanya penerbangan komersil ini, maka urusan masyarakat dan pemerintah bisa cepat, karena tidak lagi harus menghabiskan waktu lama dalam perjalanan darat.(c40)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help