SerambiIndonesia/

The Praak Band Sang ‘Bintang Terang’

BAGI penikmat komedi Aceh, nama The Praak Band tentu tidak asing lagi grup yang telah menelurkan tiga single album

The Praak Band Sang ‘Bintang Terang’
Musisi Aceh "The Praak Band" 

BAGI penikmat komedi Aceh, nama The Praak Band tentu tidak asing lagi. Grup yang digawangi lima anak muda ini kerap mengundang gelak-tawa dalam setiap aksi panggungnya.

Ya, grup yang telah menelurkan tiga single album ini memang menjadi “bintang” panggung yang penampilannya kerap ditunggu-tunggu. Tak heran, komedi lewat celetukan segar khas The Prak Band yang dilontarkan di hadapan penonton menjadi daya pikat yang sulit ditolak. Pun warna-warni aliran musik yang diusung, menjadi daya tarik tersendiri bagi penikmatnya.

“Nama The Praak Band spontan aja dulu terucap pas saya menjadi MC pada 2012. Waktu itu, Bang Ebone kehabisan lagu dan saya minta beliau memainkan musik, beliau tanya mau lagu apa? Saya bilang mainkan aja musiknya, biar saya yang praak,” terang sang vokalis, Pele (28) yang diaminkan oleh pentolan The Praak Band, Ebone (34) saat menyambangi Kantor Serambi, Selasa (14/2).

Seperti lazimnya sebuah grup musik, The Praak Band juga mengalami bongkar pasang personel sebelum formasinya seperti yang sekarang ini. Selain Pele (vokalis) dan Ebone (lead guitar), kini Yuda Setiawan (drummer), Semi (gendang), dan Irvanda Saputra (bassis) sejak 2016 resmi bergabung. Di bawah D2X Management, grup band ini kini tengah mempersiapkan album perdananya. Tiga single album yang telah lebih dulu populer yaitu Duek Dong, Raja Praak, dan Suka-Suka.

Bahkan sang vokalis, Muhammad Isya atau yang lebih dikenal dengan nama Pele turut digandeng dalam penggarapan film Bergek The Movie. Dalam film besutan Halteks Studio tersebut, Pele kebagian peran sebagai pengamen dan membawakan lagu berjudul Susi. Sebuah peran yang tak jauh-jauh dari dunia yang telah membesarkan namanya.

Sementara pentolan grup, Ebone yang punya nama lengkap Martahadi mengemas musik band yang dikenal multi aliran. Sebut saja dalam sebuah tembang, genre rock, dangdut, atau renggae bisa bersanding dalam satu harmoni musik. Lengkap dengan lirik-lirik plesetan yang terinspirasi dari lagu aslinya. Ditambah dengan improvisasi personel saat tampil di atas pentas. Moment yang banyak ditunggu-tunggu oleh para Soe Prak --sebutan untuk fans The Praak Band.

“Tapi mereka nggak mau kalau improvisasinya gitu-gitu aja, makanya sering request juga. Pernah waktu tampil di Meulaboh, seorang bapak memeluk saya dan bilang: saya baru kali ini tertawa hingga orang lain memperhatikan dan tertawa-tawa melihat saya tertawa,” ujar Pele mengenang.

Pengalaman serupa juga dialaminya di Sabang. Diakui The Praak Band, bisa membuat penonton terhibur adalah sebuah pencapaian tersendiri. Konon lagi di Aceh yang kerap dirundung bencana dan konflik. Lain lagi pengalaman sang drummer, Yuda Saputra, ia mengaku alat musik yang dimainkannya pernah dipinjami seseorang. Padahal, pemuda asal Banda Aceh ini sendiri mengaku bahwa itu merupakan barang pinjaman.

Pentolan The Praak Band, Ebone mengaku dalam meng-arasement musik banyak terinspirasi dari penyanyi senior Aceh, Ramlan Yahya dan Rafly (Kande). Sedangkan di tingkat musisi Nasional, raja dangdut Rhoma Irama dan Band Zamrud memberi warna bagi genre musik yang diusung The Praak Band.

“The Praak Band mempunyai kekhasan tersendiri, selain unsur komedi, permainan beberapa genre musik dalam satu lagu itu unik dan tentu tidak mudah. Itu menjadi daya jual The Praak Band yang juga sering tampil menjadi musik pengiring,” imbuh Manajer D2X Management, Dedex KTB.

Melihat kerja keras yang coba dibangun oleh para personel The Praak Band ini, bukan tidak mungkin ke depan mereka akan menjadi bintang yang bersinar terang. “Ke depan kita akan membuat lagu yang di dalamnya terdapat empat bahasa yaitu Arab, Cina, Eropa, dan Hindustan,” ujar Dedex KTB menutup obrolan. (nurul hayati)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help