SerambiIndonesia/
Home »

Opini

Opini

Pesong Politik

PESONG adalah problem sakit psikologis kompleks, meskipun juga bukan Schizophrenia akut

Pesong Politik

Oleh Teuku Kemal Fasya

PESONG adalah problem sakit psikologis kompleks, meskipun juga bukan Schizophrenia akut. Kata pesong ini begitu familiar di telinga saya pada era 1990-an. Saat SMA kami kadang juluki guru yang suka menghukum atau seorang pemuda yang mengamuk di sebuah pabrik sirup di kampung kami dengan sebutan pesong. Di Medan, kata ini sangat lazim digunakan, baik untuk ungkapan normatif gila atau sebutan sarkarsme; mengejek seseorang yang memiliki perilaku tak lazim.

Arafat Nur, penulis realis Aceh yang telah memenangi banyak penghargaan sastra menggunakan kata ini di novelnya, Lampuki (2011). Novel yang mendapatkan penghargaan Khatulistiwa Literary Award itu beberapa kali menggunakan kata pesong untuk menggambarkan kontradiksi figur Ahmadi si Kumis Tebal: tokoh “pejuang rakyat” yang suka membual berlama-lama bak penceramah sekaligus suka mengancam ketika menarik upeti dari masyarakat.

Kepesongan Ahmadi, adalah refleksi kisah nyata di sebuah kampung di Lhokseumawe, termasuk cermin masyarakatnya. Masyarakat yang memuja performa relijiusitas, tapi di saat yang sama mempraktikkan sifat dengki, gosip, dan dusta adalah masyarakat pesong. Istri Ahmadi juga penyelingkuh, sosok perempuan yang sama pesong seperti suaminya.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KKBI) juga terdapat kata pesong. Walaupun awalnya pesong adalah bahasa slang Melayu-Medan, ia telah terserap menjadi bahasa baku. Artinya mencong atau serong. Penjelasan atas adjektiva itu mengambarkan gangguan mental karena beban berat hidup seperti utang menumpuk atau kalah dalam pertarungan politik, sehingga berbuat kacau atau meracau.

Seorang teman saya mantan aktivis mahasiswa pernah menghabiskan waktu berjam-jam setiap hari dengan bermain game online, setelah gagal menjadi anggota dewan. Kehilangannya memang tidak “seberapa”, hanya sekitar seratusan juta. Tapi bagi seorang mantan aktivis 98, apalagi tidak ada usaha tetap, itu akan menjadi godam di otak. Saat itu ia sedang pesong. Bahasa Acehnya disebut jawai.

Sebutan Jawai atau pesong berbeda dengan penggunaan kata pungo dalam bahasa Aceh. Kata pungo lebih dekat dengan arti Schizophrenia, karena kerusakan syaraf akibat gangguan kimiawi di otak. Orang tua yang sudah pikun dan berbuat yang bukan-bukan ke kerabatnya juga sering disebut pesong atau jawai. Kepesongan itu akibat penyakit degeneratif atau kemunduran fungsi syaraf. Secara umum disebut gejala kepikunan atau demensia.

Politik pesong
Dalam politik harian hal ini sering terlihat. Pesong terjadi karena aspek ketidaksadaran (unconsciousness) sering menyergap ketika sedang mengambil kebijakan. Istilah populer dari psikoanalis Perancis, Jacques Lacan, unconsciousness is the discourse of the others. Ketidasadaran adalah wacana bagi orang lain.

Pesong dalam politik adalah gabungan antara gangguan otak dan gangguan bipolar (bipolar disorder) yang menyebabkan perubahan suasana hati sehingga memengaruhi energi dan aktivitas sehari-hari. Hasrat kekuasaan dan kebijakan yang menggelegak ikut menambah eskalasi pesongnya seorang pejabat. Akibatnya kebijakan objektif-rasional-konstitusional tidak hadir. Perilakunya sang pemegang kebijakan semakin sulit ditebak, karena lincahnya suara yang berdengung di kepala yang memengaruhi putusan dibandingkan konsideransi hukum dan perundang-undangan. Pesong politik merugikan bukan hanya sang pejabat, tapi sistem birokrasi dan masyarakat luas.

Kata ini menjadi populer ketika Gubernur Aceh, Zaini Abdullah menyebut rumor mutasi pejabat sebagai pesong (Serambi, 8/3/2017). Ajaibnya hal itu terjadi. Ia memang benar-benar melantik 33 pejabat di lingkungan pemerintahan Aceh. Semakin pesong ketika dikontraskan dengan UU No.10 Tahun 2016 Pasal 71 ayat (2) yang melarang kepala daerah melakukan mutasi di sisa tenggat enam bulan pemerintahannya. Argumentasi bahwa UU Pemerintahan Aceh No.11 Tahun 2006 sebagai basis justifikasi mutasi adalah wujud pesong lain. Patut diduga itu akibat sikap usil sang pembantunya. Pasti parapunakawan di bidang hukumlah yang ikut memberikan masukan.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help