Jalur Alternatif Mulai Bermasalah

Ruas jalan alternatif sebelah utara Jembatan Krueng Tingkeum, tepatnya di Desa Cot Mee, Kecamatan Kutablang

Jalur Alternatif Mulai Bermasalah
Ruas jalan alternatif sebelah utara jembatan Krueng Tingkeum Kutablang, Bireuen tepatnya sebelah timur Krueng Tingkeum ditutup warga selama dua jam sebagai bentuk protes jalan berdebu dan minta diaspal, warga memegang sejumlah karton bertuliskan protes mereka. rABU (15/3). SERAMBI/YUSMANDIN IDRIS 

* Warga Blokir Jalan Selama Dua Jam karena Berdebu

BIREUEN - Ruas jalan alternatif sebelah utara Jembatan Krueng Tingkeum, tepatnya di Desa Cot Mee, Kecamatan Kutablang, Bireuen, diblokir selama dua jam oleh warga setempat mulai pukul 15.00 WIB sampai pukul 17.00 WIB, Rabu (15/3). Pemblokiran dilakukan karena jalan berdebu. Puluhan kendaraan tertahan hingga sepanjang 2 kilometer (Km).

Berdasarkan amatan Serambi, akibat penutupan jalan tersebut, puluhan kendaraan dari arah Banda Aceh ke Medan tertahan sepanjang 2 Km, mulai dari Desa Rancong Kutablang sampai Desa Cot Mee. Penutupan jalan dilakukan dengan meletakkan kursi bambu di badan jalan alternatif tersebut. Juga ada beberapa ban bekas.

Di lokasi tersebut, terlihat sejumlah warga memegang beberapa karton bertuliskan “Anda memasuki kawasan berdebu, mohon segera diaspal”, “Jangan bunuh kami dengan debu”, “Kami butuh jalan diaspal”, dan beberapa tulisan lainnya.

Syarfizal Abdullah, warga setempat mengatakan, aksi itu mereka lakukan karena jalan berdebu. Penyiraman yang dilakukan dinilai asal-asalan. “Setiap saat masyarakat yang bertempat tinggal di sepanjang jalan tersebut menghirup debu jalan. Kami minta disiram setiap jam, dan jalan harus segera diaspal,” kata Syafrizal kepada Serambi, kemarin.

Aksi pemblokiran itu baru berakhir setelah Kapolsektor Kutablang, Aiptu Azharuddin datang dan memberi pemahaman kepada masyarakat. Azharuddin meminta warga membuka jalan karena banyak kendaraan terjebak macet karena tak bisa melintas. Setelah itu, warga bersama Kapolsektor memindahkan perintang jalan.

“Permintaan masyarakat akan disampaikan kepada dinas terkait dan pemerintah daerah. Tapi ruas jalan ini jangan ditutup karena ini kepentingan nasional dan sebagai jalur lintas Banda Aceh-Medan,” kata Kapolsektor Kutablang, Aiptu Azharuddin.

Sementara itu, sejak berkembangnya informasi ruas jalan alternatif sebelah utara ditutup, banyak kendaraan dari arah Banda Aceh langsung masuk ke jalur alternatif sebelah selatan, yang selama ini digunakan untuk pengalihan kendaraan dari arah Medan ke Banda Aceh. Kendaraan masuk dari Simpang Glee Kapai dan tembus ke Kutablang.

Karena jalur alternatif tersebut hanya disiapkan untuk pengalihan kendaraan satu arah, dampaknya jalan tersebut menjadi sangat padat karena dilintasi kendaraan dari dua arah. Namun, setelah aksi pemblokiran jalan berakhir, arus lalu lintas normal kembali.

Di sisi lain, warga Kecamatan Kutablang, Jangka, dan Peusangan, Kabupaten Bireuen, tetap meminta pemerintah membangun jembatan darurat di samping Jembatan Krueng Tingkeum yang sudah mulai dibongkar. Jembatan darurat itu khusus dilintasi sepeda motor untuk memudahkan aktivitas masyarakat setempat.

“Masyarakat tetap meminta dibangun jembatan darurat karena penutupan Jembatan Krueng Tingkeum dilakukan sampai Desember 2017. Sejak jembatan ditutup, antar jemput siswa butuh waktu lama karena harus memutar. Selain itu, omzet pedagang di Kutablang juga menurun drastis,” kata Wakil Ketua DPRK Bireuen, Athaillah M Saleh, kemarin.

Ia menyebutkan, pemerintah daerah harus mencari solusi untuk membuat jembatan darurat tersebut. Athaillah mengatakan, sebagian besar pelajar yang sekolah di beberapa sekolah di sebelah timur jembatan, berasal dari desa-desa di sebelah barat jembatan, begitu juga sebaliknya. Selama ini jarak tempuh ke sekolah hanya 1 kilometer. Tapi sekarang menjadi 8 Km.

Selain itu, sebagian masyarakat dari Jangka dan Peusangan, berbelanja kebutuhan sehari-hari ke Kutablang. Dengan penutupan jembatan, warga harus menempuh jarak yang sangat jauh untuk berbelanja. “Kami akan sampaikan masalah ini secara resmi ke pemerintah pusat, pemerintah provinsi, dan Satker yang menangani jembatan itu,” kata Athillah.(yus)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help