Home »

Opini

Opini

Memulai dengan ‘Basmalah’

AJARAN Islam begitu mulia dan sempurna, bukan hanya mengatur hal-hal yang bersifat pokok

Memulai dengan ‘Basmalah’

Oleh Agustin Hanafi

AJARAN Islam begitu mulia dan sempurna, bukan hanya mengatur hal-hal yang bersifat pokok, tetapi hal-hal kecil pun diperhatikan secara detail dan rinci. Misalnya, setiap pekerjaan harus dimulai dengan basmalah (menyebut nama Allah), kecuali untuk melakukan maksiat, lalu mengutamakan tangan/kaki sebelah kanan, kecuali masuk WC dan beristinja.

Hampir setiap surat dalam Alquran diawali dengan Bismillahir-rahmanir-rahim (Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang. Betapa agung dan indah kalimat ini, sebuah ungkapan yang menunjukkan kelemahan hamba-Nya di mata sang Khalik sebagai pemilik dan pengatur alam semesta ini yang tidak pernah luput dari pantauan dan penguasaan-Nya. Meskipun demikian, sebagian orang merasa kalimat yang penuh makna ini tidak begitu urgens dan mengabaikannya pada setiap aktivitasnya, sehingga apa yang dilakukannya kurang sempurna di mata Allah Swt.

Makna ‘basmalah’
Bismillahir-rahmanir-rahim, kalimat ini sekilas sederhana tetapi sungguh menakjubkan dan mengagumkan bagi yang mau merenungkan dan menghayatinya sehingga menambah keimanan dan kedekatan diri kepada Allah. Secara harfiah, kata bi diterjemahkan “dengan”, atau “memulai”. Dengan demikian, pengucap basmalah berkata, “Dengan (atau demi) Allah saya memulai (pekerjaan ini).” Maka ketika seseorang mengucapkan kalimat ini pada setiap aktivitas dan rutinitasnya, berarti telah memohon keberkahan dan ridha dari Allah Swt, sehingga motivasi dan semangatnya akan berbeda.

Kata bi juga dikaitkan dengan “kekuasaan dan pertolongan”, sehingga si pengucap menyadari bahwa pekerjaan yang dilakukannya terlaksana atas kodrat (kekuasaan) Allah Swt. Ia memohon bantuan-Nya agar pekerjaannya dapat terselesaikan dengan baik dan sempurna. dan Apabila suatu pekerjaan dilakukan atas bantuan Allah maka pasti ia sempurna, indah, baik dan benar karena sifat-sifat Allah “berbekas” pada pekerjaan tersebut.

Dengan permohonan itu, di dalam jiwa si pengucap tertanam rasa ketidakberdayaan di hadapan Allah Swt. Namun pada saat yang sama, tertanam pula kekuatan, rasa percaya diri, dan optimisme karena ia merasa memperoleh bantuan dan kekuatan dari Allah sumber segala kekuatan. Maka ketika berada di darat, laut, udara sekalipun, tidak lagi ada perasaan cemas dan was-was karena semuanya telah diserahkan kepada Allah Swt.

Maka, begitu sampai pada suatu tujuan atau meraih kesuksesan, dia tidak lupa memuji Allah karena menyadari bahwa itu semua tidak terlepas dari campur tangan Allah sehingga tidak membuatnya lupa diri ataupun angkuh dan sombong, begitu juga ketika mengalami sebuah kegagalan atau apa yang diharapkannya tidak mencapai target, dia tidak akan menggerutu, mengucapkan sumpah serapah sebagai bentuk kekecewaan, karena sukses atau tidaknya sebuah pekerjaan tidak luput dari intervensi Allah, sehingga dia menjadi ikhlas dan legowo menerima kenyataan.

Kemudian, ketika seseorang menyebut “nama Allah” otomatis tujuannya adalah untuk kebaikan, maka apapun yang dilakukannya niscaya akan sesuai dengan perintah Allah yang mengharuskan berbuat baik kepada siapapun tanpa memandang status sosialnya. Tidak akan berlaku semena-mena, seperti kecurangan, kezaliman yang dapat merugikan orang lain.

Dalam politik, misalnya, ketika mendapat amanah dari rakyat untuk menjadi seorang pemimpin maka dia akan mengayomi dan melayani rakyat serta berupaya mensejahterakan rakyat, bukan memperkaya diri sendiri dan kelompok. Sekiranyapun gagal memperoleh mandat, maka dia tetap bersyukur dan tidak mencari kambing hitam karena meyakini bahwa itulah ketetapan Allah yang terbaik, dan Allah akan memberikan kedudukan kepada siapa saja yang Dia kehendaki tanpa seorangpun yang dapat menghalanginya.

Demikian pula halnya dalam keluarga, seseorang yang menyebut “nama Allah” ketika mempersunting seorang gadis, berarti dia akan bersikap amanah, penuh tanggung jawab tidak menyia-nyiakan dan mengkhianatinya, akan memperlakukan isterinya secara makruf dan tidak akan memperbudaknya. Begitu juga halnya dengan sang gadis dan walinya, ketika bersedia menerima lamarannya atas “nama Allah” berarti akan jauh dari rasa khawatir terhadap sesuatu yang buruk menimpanya di kemudian hari, dengan demikian akan siap lahir batin untuk hidup bersama, tidak akan berkhianat, bersedia membantu, meringankan beban suaminya demi menggapai keluarga samara (sakinah mawaddah warahmah).

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help