SerambiIndonesia/
Home »

Opini

Opini

‘Qaulan Layyina’ dalam Dakwah Islamiyah

ISLAM sebagai agama komunikatif, dalam perspektifnya komunikasi merupakan bagian yang tak terpisahkan

‘Qaulan Layyina’ dalam Dakwah Islamiyah
SERAMBI/M ANSHAR
Wirda Mansur, Hafizah Alquran 30 juz yang juga putri dari Ustadz Yusuf Mansur memberikan testimoni sebelum Dakwah Jumat yang digelar Pemko Banda Aceh di Taman Sari, Banda Aceh, Jumat (3/3/2017). SERAMBI/M ANSHAR 

Oleh Iswadi Arsyad Laweung

ISLAM sebagai agama komunikatif, dalam perspektifnya komunikasi merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan manusia, karena segala gerak langkah kita selalu disertai dengan komunikasi. Komunikasi dimaksud adalah komunikasi yang islami, yaitu komunikasi yang ber-akhlak al-karimah, yang bersumber kepada Alquran. Dalam proses komunikasi paling tidak terdapat tiga unsur, yaitu: komunikator, media dan komunikan.

Komunikasi Islam adalah proses penyampaian pesan-pesan keislaman dengan menggunakan prinsip-prinsip Islam. Dengan pengertian ini, maka komunikasi Islam menekankan pada unsur pesan (message), yakni risalah atau nilai-nilai Islam, dan cara (how) tentang selekta-kapita komunikasi Islam. Pesan-pesan keislaman yang disampaikan dalam komunikasi Islam meliputi seluruh ajaran Islam. Dalam Alquran ditemukan berbagai panduan agar komunikasi berjalan dengan baik dan efektif. (YS. Gunadi, Himpunan Istilah Komunikasi, 1998).

Landasan teoritis
Salah satu komunikasi Islam dikenal dengan nama qaulan layyina, sebagaimana disebutkan dalam Alquran (QS. Thaha: 44). Ini dapat dipahami dan dimaknai sebagai satu landasan teoritis dalam pengembangan Ilmu Komunikasi Islam. Komunikasi Islam dalam konteks kapita-selekta Alquran adalah qaulan layyinan. Kata layyina dalam kamus al-Munawir adalah bentuk masdar dari kata lana, yang mempunyai arti lunak, lemas, lemah lembut, halus akhlaknya.

Syekh As-Suyuti dan Al-Mahalli, Hasyiyah as-Sawi ‘ala Tafsir Jalalain mengartikannya dengan sahlan latifa, yaitu mudah, lemah lembut. Istilah qaulan layyinan hanya satu kali disebutkan dalam Alquran yang terdapat dalam surat Thaha ayat 44: “Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, Mudah-mudahan ia sadar atau takut.” (QS Thaha: 44).

Syekh Ibn ‘Asyur, al-Tahrir wa al-Tanwir dalam tafsirnya mengenai ayat di atas memaparkan kisah Nabi Musa as dan Harun as ketika diperintahkan untuk menghadapi Fir’aun, yaitu agar keduanya berkata kepada Fir’aun dengan perkataan yang layyin. Asal makna layyin adalah lembut atau gemulai, yang pada mulanya digunakan untuk menunjuk gerakan tubuh. Kemudian kata ini dipinjam (isti’ârah) untuk menunjukkan perkataan yang lembut.

Sementara yang dimaksud dengan qaul layyina adalah perkataan yang mengandung anjuran, ajakan, pemberian contoh, di mana si pembicara berusaha meyakinkan pihak lain bahwa apa yang disampaikan adalah benar dan rasional, dengan tidak bermaksud merendahkan pendapat atau pandangan orang yang diajak bicara tersebut. Dengan demikian, qaul layyina adalah satu metode dakwah, karena tujuan utama dakwah adalah mengajak orang lain kepada kebenaran, bukan untuk memaksa dan unjuk kekuatan (Ibn ‘Asyur, al-Tahrir wa al-Tanwir, (Tunis: Isa al-Babi al-Halabi, 1384 H), Jilid 16, h. 225.).

Sedangkan ulama kontemporer Syekh Wahbah al-Zuhaily menafsirkan ayat tersebut dengan, “Maka katakanlah kepadanya (Fira’un) dengan tutur kata yang lemah lembut (penuh persaudaraan) dan manis didengar, tidak menampakkan kekasaran dan nasehatilah dia dengan ucapan yang lemah-lembut agar ia lebih tertarik. Karenanya ia akan merasa takut dengan siksa yang yang dijadikan oleh Allah melalui lisanmu.” Maksudnya adalah agar Nabi Musa dan Nabi Harun meninggalkan sikap yang kasar (Wahbah Zuhaily, Tafsir Munir, (Beirut: Dar al-Fikr, 1991), Jilid. 15, h. 215.).

Mengapa Musa as harus berkata lembut, padahal Fir’aun adalah tokoh yang sangat jahat? Menurut al-Razi, ada dua alasan: Pertama, sebab Musa as pernah dididik dan ditanggung kehidupannya semasa bayi sampai dewasa. Hal ini, merupakan pendidikan bagi setiap orang, yakni bagaimana seharusnya bersikap kepada orang yang telah berjasa besar dalam hidupnya, dan; Kedua, biasanya seorang penguasa yang zalim itu cenderung bersikap lebih kasar dan kejam jika diperlakukan secara kasar dan dirasa tidak menghormatinya. (Syekh Al-Razi, kitab Mafatih, Jilid 22, h. 51.)

Nabi Muhammad saw juga mencotohkan kepada kita bahwa beliau selalu berkata lemah-lembut kepada siapa pun, baik kepada keluarganya, kepada kaum muslimin yang telah mengikuti Nabi, maupun kepada manusia yang belum beriman. Dalam komunikasi Islam kita harus menghindari kata-kata yang kasar dan suara (intonasi) yang bernada keras dan tinggi.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help