SerambiIndonesia/
Home »

Opini

Opini

Fenomena Warung Kopi

ACEH kerap menjadi buah bibir bagi banyak orang dikarenakan banyak hal istimewa yang tersimpan di Tanah Rencong

Fenomena Warung Kopi
SERAMBINEWS.COM/SENI HENDRI
Salah satu warung kopi di Idi Rayeuk, Aceh Timur, tampak sepi saat masa libur, Minggu (8/5/2016). 

(Yang Jauh Jadi Dekat, yang Dekat Jadi Jauh)

Oleh Ikhsan Drp.

ACEH kerap menjadi buah bibir bagi banyak orang dikarenakan banyak hal istimewa yang tersimpan di Tanah Rencong ini; apakah itu di segi keindahan alamnya, budaya, karakteristik sosial orang Aceh dan masih banyak lagi yang tidak dimiliki daerah lain di Indonesia. Salah satunya, Aceh juga dikenal sebagai negeri Seribu Warung Kopi. Bagaimana tidak, jika kita berkunjung ke daerah paling barat Indonesia ini maka tak heran kita akan melihat pemandangan yang tak lazim seperti di tempat-tempat lain di belahan dunia, dimana-mana kita akan melihat deretan warung kopi yang sangat banyak. Banda Aceh, contohnya, satu daerah yang terdapat jajaran warung kopi yang tidak sedikit jumlahnya.

Dengan bentuk bangunan yang unik-unik dan ketersediaan berbagai fitur seperti Free Wi-Fi, TV, live music dan layar lebar untuk menyaksikan pertandingan sepakbola menjadikan warung kopi sebagai tempat nongkrong yang menjadi rutinitas wajib dalam sehari-hari untuk dikunjungi bagi beberapa kalangan muda dan orang tua.

Banyaknya warung kopi di Aceh dengan kekhasan rasa kopi Aceh sebagai satu rasa kopi terenak di dunia, menjadi satu daya tarik tersendiri bagi banyak orang menjadikan warung kopi sebagai tempat ketiga setelah rumah dan tempat kerja.

Kenyaman yang didapatkan selama di warung kopi menjadikan warung kopi tidak hanya sebagai tempat untuk sekedar menyeruput secangkir kopi lalu pergi, tetapi dengan ciri khas tersendiri menjadikan warung kopi sebagai tempat untuk banyak orang melakukan berbagai macam kegiatan, apakah untuk berbisnis, melakukan transaksi, berjumpa dengan klien, melakukan rapat, atau mengerjakan tugas kuliah bagi mahasiswa. Dalam konteks ini hal yang tidak kalah penting fungsi dari warung kopi adalah sebagai ajang berdiskusi dan proses pertukaran informasi.

Banyaknya ide-ide kreatif yang berawal dari warung kopi. Isu-isu terhangat tentang lingkungan sekitar menjadi pembahasan yang tidak asing di warung kopi. Kebebasan yang didapati dari warung kopi yang secara leluasa menjadikan kita bebas membicarakan apa saja di tempat satu ini. Kita bebas berbicara mulai dari pembahsan ekonomi, budaya, hukum, sosial bahkan sampai ke isu-isu yang berbau politik.

Berbeda dengan era 1674 di London-Inggris, di mana para perempuan harus berkoalisi melakukan aksi protes, lantaran para suami mereka, para lelaki lebih suka dan lebih banyak menghabiskan waktunya di cafe (warung kopi) dibanding di rumah. Bukan hal yang tak biasa jika kita lihat sekarang kaum wanita juga sering menghabiskan waktu di warung kopi. Mereka juga lebih sering menghabiskan waktu di warung kopi di kala mempunyai waktu luang.

Tak pernah sepi
Menurut survei dari penulis sendiri warung kopi di Banda Aceh merupakan sebuah tempat yang tidak pernah sepi oleh pengunjung, banyak orang berdatangan dan pergi berlalu lalang keluar masuk ke warung kopi. Di mana-mana banyak kita lihat warung kopi masih ramai pengunjung sampai pagi hari. Jadi bagi sobat dari luar yang mau ke Aceh bisa saja begadang sampai pagi di warung kopi apabila tidak memilki tempat penginapan. Tempat satu ini juga bisa diistilahkan sebagai hotel yang bermodalkan 5.000 rupiah.

Dengan adanya fitur Free Wi-Fi sehingga banyak orang lupa waktu, ingin berlama-lama di warung kopi, entah hanya sekadar untuk mem-browsing atau menyibukkan diri dengan berbagai media sosial. Memang bukanlah hal aneh, dewasa ini kita mendapati beberapa warung kopi lebih nyaman dan sepi tanpa bisingan celotehan dan tawaan-tawaan canda. Mengapa hal ini bisa terjadi? Keseringan orang-orang lebih senang menjadikan media sosial sebagai sebuah alat untuk melakukan interaksi dengan orang yang mungkin bahkan tidak mereka kenal, ini menjadikan sebuah alasan mengapa hal ini bisa terjadi.

Halaman
12
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help