SerambiIndonesia/

Warga Mulai Gunakan Boat

Sejak Jembatan Krueng Tingkeum, Kutablang, Bireuen ditutup total, sebagian pelajar dan masyarakat di kawasan itu

Warga Mulai Gunakan Boat
SERAMBI/YUSMANDIN IDRIS
Naik boat-Para siswa di Kutablang Bireuen, Jumat (17/3) menaiki bot ke sekolah mereka setelah jembatan Krueng Tingkeum, Kutablang ditutup untuk dibangun baru. SERAMBI/YUSMANDIN IDRIS 

* Ekses Pembongkaran Jembatan Krueng Tingkeum
* Menghemat Biaya dan Waktu

BIREUEN - Sejak Jembatan Krueng Tingkeum, Kutablang, Bireuen ditutup total, sebagian pelajar dan masyarakat di kawasan itu mulai menggunakan jasa boat untuk menyeberangi sungai (krueng) tersebut. Meski berisiko, warga memilih naik boat karena menghemat biaya dan waktu, dibanding melintasi jalur alternatif yang jauh dan berdebu.

Amatan Serambi, Jumat (17/3), satu boat kecil standby di dekat Jembatan Krueng Tingkeum yang sedang dibongkar. Pada pagi hari, boat tersebut mengangkut pelajar di barat jembatan (Krueng Tingkeum Manyang), karena sekolah mereka berada di timur jembatan (Krueng Tingkeum Baroh). Siangnya, boat mengangkut para pelajar yang pulang sekolah.

Selain pelajar, masyarakat juga menggunakan jasa boat ini terutama yang berada di barat jembatan dan hendak berbelanja ke Pasar Kutablang, yang jaraknya hanya beberapa ratus meter arah timur jembatan. Penyedia boat mematok ongkos Rp 2.000 untuk pelajar, dan Rp 3.000 untuk masyarakat umum.

Warga dan pelajar lebih memilih naik boat karena jalur alternatif berdebu. Jika warga di ujung barat jembatan hendak ke Pasar Kutablang, mereka harus menempuh jarak sekitar 8 kilometer, begitu juga para pelajar yang sekolahnya berada di timur jembatan tersebut. Biasanya, mereka hanya menempuh 1 Km untuk ke sekolah, tapi sekarang 8 Km.

Murid kelas IV MIN Kutablang, M Ramadhan (10) mengatakan, ia sudah dua hari naik boat. Ongkos naik boat Rp 2.000. Sedangkan naik bus dari ujung barat jembatan dan melintasi jalur alternatif hingga ujung timur jembatan ongkosnya Rp 3.000. Hal yang sama dikatakan pelajar kelas I MTsN Kutablang, Zakiyul Fahmi (12).

Sementara seorang pedagang, Iswandi mengatakan, sejak jembatan ditutup beragam masalah dirasakan warga mulai dari debu jalan, dan jarak tempuhyang cukup jauh. Omzet pedagang pun dalam seminggu ini turun drastis. Karena itu, warga dan para pelajar menggarapkan pemerintah membangun jembatan darurat yang khusus untuk dilintasi kedaraan roda dua, atau menyediakan boat dan bus gratis untuk pergi dan pulang sekolah.

Belasan orang
Amatan Serambi, satu unit boat milik Yusrizal atau dipanggil Ayi, mampu menampung belasan pelajar. Boat itu ditambatkan di bawah jembatan sebelah timur. Pukul 11.00 WIB, sejumlah pelajar yang pulang sekolah langsung turun ke bawah jembatan dan naik boat bersama sejumlah warga untuk menyeberangi sungai yang luasnya 100 meter lebih.

Pemilik boat langsung berangkat meski arus sungai lumayan deras. Para siswa duduk berjejer dan turun di pinggir sungai Desa Krueng Tingkeum Mayang, lalu menaiki tebing sungai untuk pulang ke rumah masing-masing. Tidak ada tempat khusus untuk lokasi naik dan turun para pelajar dari boat, hingga menyebabkan sepatu mereka berlumpur.(yus)

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help