Cut Mini, Cerita Perjalanan di Dunia Peran

Bagi yang sudah menonton film Athirah, tentu tahu siapa pemeran utamanya. Cut Mini Theo (43), yang berka

Cut Mini, Cerita Perjalanan di Dunia Peran
Cut Mini 

 JAKARTA - Bagi yang sudah menonton film Athirah, tentu tahu siapa pemeran utamanya. Cut Mini Theo (43), yang berkat peran tersebut, berhasil membawa pulang Piala Citra pertamanya untuk Pemeran Utama Wanita Terbaik pada Festival Film Indonesia (FFI) 2016 lalu.

Cut Mini sangat bahagia bisa membawa pulang piala bergengsi itu. Soalnya, selama ini, ia mengaku tak pernah menyangka bahwa kerja kerasnya bisa menuai hasil yang membanggakan. Ia hanya ikhlas dan selalu memberi yang terbaik ketika sedang bekerja.

“Wow, bagi saya, sangat bahagia sekali bisa membawa pulang piala ini. Karena saya bekerja sudah tidak pernah berharap bisa membawa apapun ke depan nantinya seperti Piala Citra ini. Saya hanya bekerja sebaik apa yang saya bisa,” katanya.

Ia tak ingin menjadikan Piala Citra sebagai beban untuk harus selalu berakting baik. Baginya, ada atau tidak ada piala tersebut, ia punya tanggung jawab moral untuk memberikan yang terbaik.

“Enggak boleh jadi beban ya, karena ini bonus hasil kerja saya. Ada atau tidaknya Piala Citra ini, saya harus bekerja lebih baik,” ujarnya usai acara FFI 2016 yang dihelat di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, pada 6 November tahun lalu itu.

Ditemui di kediamannya di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, pekan lalu, Cut Mini tampak santai. Dia pun antusias bercerita tentang berbagai pencapaiannya di dunia seni peran, termasuk beragam pelajaran yang dia petik di tengah perjalanannya itu dan mimpi-mimpinya tentang perfilman Indonesia.

“Untuk pemain film otodidak seperti saya, memerankan Athirah butuh waktu yang banyak untuk belajar. Tidak mudah,” ujar artis berdarah Aceh kelahiran Jakarta, 30 Desember 1973.

Cut Mini memulai semuanya pada 1989, saat menjadi model foto. Ketika itu dia masih sekolah. Sang ibunda menegaskan bahwa dia tidak boleh sekalipun melalaikan tugasnya sebagai pelajar. “Di situ saya belajar mengelola waktu,” tutur Mini.

Perjalanan di dunia model itu mengantar dia merambah dunia-dunia lainnya. Bermain sinetron, menjadi pembawa acara, hingga akhirnya bermain film. Justru berbekal ketidaktahuannya, Mini bisa belajar banyak dari orang-orang di sekitarnya. Gratis pula.

Sampai kemudian namanya melambung berkat perannya di film Arisan! (2004). Selanjutnya Mini turut bermain dalam sejumlah film, seperti Laskar Pelangi (2008), Arisan! 2 (2011), Koala Kumal (2016), Ini Kisah Tiga Dara (2016), dan Athirah (2016).

“Saya paling suka prosesnya. Mulai dari reading, mengatur blocking, menyamakan irama dengan pemain lain. Jika proses itu sudah matang, saat pengambilan gambar akan mengalir begitu saja,” kata putri bungsu T Usman Abdullah dan Cut Dermawan ini.

Dengan setia di dunia seni peran, dia setidaknya bisa berkontribusi dalam memajukan perfilman Indonesia melalui film-film yang baik dan mendidik bagi masyarakat. Athirah, bukan langkah terakhir Cut Mini yang cinta dengan dunia film.

Ia berterima kasih kepada banyak pihak, terutama keluarga Jusuf Kalla dan juga Miles Films yang sudah memberinya kepercayaan dan kesempatan untuk memerankan ibunda JK dalam film Athirah. Film ini juga keluar sebagai peraih Film Terbaik dan sang sutradara, Riri Riza juga keluar sebagai pemenang Sutradara Terbaik.

“Makanya, ayo nonton film Indonesia. Jangan sampai film Indonesia mati lagi gara-gara kita. Bukan gara-gara enggak ada yang bikin, tapi enggak ada yang nonton,” ujar Cut Mini menutup obrolan. (kompas.com/kpl/ask)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help