SerambiIndonesia/
Home »

Opini

KUPI BEUNGOH

"Bundaaa, Ini Fitri"

Tahukah Anda? Waktu itu, satu hari setelah Droe Keu Droe terbit, respons pembaca, luar biasa, bahkan dari luar Aceh

Ns.Lisa Fitriani S.Kep 

"Bundaaa, ini Fitri..."

Kami pun berpelukan. Erat sekali, bagai ingin melelehkan kristal kerinduan bertahun silam. Betul, dulu kami terakhir bertemu pada tahun 2010, itu pun hanya sebuah pertemuan singkat.

Seketika ada yang lintas di benak saya. Nun Juli 2006, Lisa Fitriani, gadis yatim, lulusan SMA Negeri 1 Kaway XVI, warga Gampong Keude Aron, Peureumeu, Kaway XVI, Aceh Barat ini, pernah mengirim surat pembaca ke rubrik Opini Harian Serambi Indonesia.

Ya, sebuah surat pembaca (Droe Keu Droe), yang sengaja saya beri judul Mencari Sang Dermawan. Terus terang sebagai redakturnya, waktu itu, saya turut mempertajam surat tersebut. Tak lain dengan pertimbangan sebagai penumbuh empati pembaca, terhadap masa depan seorang remaja yang sangat berambisi bisa kuliah di Fakultas Kedokteran Unsyiah, Darussalam, Banda Aceh.

Inilahlah petikan surat itu, "Saya memang bersyukur telah lulus UAN, tapi saya terus gelisah dan menangis, memilikirkan bagaimana caranya mendapatkan uang Rp 3 juta untuk mendaftar ulang di Fakultas Kedokteran Unsyiah melalui jalur USMU. Saya pun mencoba mengadukan nasib ini ke instansi-instansi, namun sia-sia saja. Mereka tidak menghiraukan saya. Malahan ada yang tega berkata, kalau mau kuliah harus ada uang sendiri. Masak sih mau kuliah harus minta uang sama orang?! Nggak punya uang jangan kuliah dong!"

Saya masih ingat, surat Fitri memang panjang. Sampai satu layar setengah komputer tabung.  Jika saat itu saya membubuh lagi kisah Fitri yang empat bersaudara, perempuan semua, hidup dari kios di teras rumah, dan sebelum ayahnya meninggal pada Mei 2005 pun, sebenarnya hidup sangat prihatin, lalu pekerjaan ayahnya yang loper koran diteruskan oleh ibundanya, dengan oplah 20 lembar saja, mungkin surat Fitri menjadi empat layar komputer ya?

Ini kutipan yang lain, sebagai bahan renungan kita. "Lewat rubrik Droe keu Droe ini saya sangat berharap ada orang yang mendengar jeritan hati ini! Sejuta rasa malu sudah saya kubur dalam-dalam. Benar, saya sungguh tidak malu menceritakan semua ini. Dengan harapan bisa mengetuk pintu hati saudaraku sekalian. Niat saya benar-benar mau kuliah. Karena saya tumpuan ibunda tercinta, juga ketiga adik saya."

Tahukah Anda? Waktu itu, satu hari setelah Droe Keu Droe terbit, respons pembaca, luar biasa, bahkan dari luar Aceh, kendati ada juga pihak yang mau memanfaatkan situasi.

Kesepakatan kami berdua kala itu, saya dan Fitri akhirnya menyeleksi semua perespons. Mana bantuan yang boleh diterima, mana yang ditolak. Fitri pun akhirnya beroleh orang tua angkat dari Yogyakarta, Medan, Lokseumawe, dan Banda Aceh. Dari mereka inilah sebagian besar biaya kuliah Fitri tertanggulangi.

Suatu kali Fitri mengabarkan kepada saya, bila dia sudah punya sepeda mini perempuan yang berkeranjang, yang memobilisasi dirinya dari tempat kost ke kampus, dan urusan-urusan lain di kampusnya.

Halaman
1234
Penulis: Nani HS
Editor: ariframdan
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help