Home »

Opini

Opini

Nasi, ‘Piasan’, dan Kekuasaan

JUDUL tulisan ini sesungguhnya berasal dari ungkapan Roma klasik. Rawatlah kekuasaan dengan menyediakan dua

Nasi, ‘Piasan’, dan Kekuasaan

Oleh Ahmad Humam Hamid

JUDUL tulisan ini sesungguhnya berasal dari ungkapan Roma klasik. Rawatlah kekuasaan dengan menyediakan dua hal untuk rakyat, pinem (roti) dan circences (sirkus). Istilah nasi yang digunakan di sini tidak lebih untuk lebih mempribumikan ungkapan roti sebagai makanan, menjadi nasi, sehingga dapat dengan mudah dicerna dan dihayati. Kata sirkus sesungguhnya lebih berkonotasi sebagai tontonan, sehingga padanan dalam bahasa Aceh adalah piasan.

Istilah roti dan sirkus ditulis oleh seorang pujangga satire Roma kuno, Juvenile, yang hidup sekitar satu abad menjelang kelahiran Nabi Isa as. Dalam buku IV Satire 10 itu, Juvenile menuliskan sinismenya terhadap cara politisi dan penguasa Roma merawat kekuasaannya dengan menyediakan roti dan tontonan gratis kepada rakyat jelata. Dengan cara itulah rakyat akan kenyang dan terhibur. Jika kedua hal itu tercapai, maka rakyat akan melupakan segala hal yang menyangkut dengan persoalan substantif kenegaraan yang sedang melilit dan mengoyak kehidupan Romawi pada masa itu (Brantlinger, 1986).

Sepanjang kebijakan gandum gratis kepada rakyat Romawi berjalan, sepanjang itu pula para Kaisar Romawi menyediakan hiburan kepada warganya. Bangunan Collesium yang sampai hari ini masih berdiri tegak adalah saksi bisu; bagaimana pentas seni dipersembahkan, dan para gladiator bertarung memilih hidup atau mati sembari menghibur para bangsawan dan rakyat jelata. Adalah anak angkat Julius Cesar, Octavianus Augustus, yang fenomenal dalam sejarah ketika ia mengadakan pertunjukan dengan mengerahkan 10.000 gladiator dalam 26 kali pertunjukan melawan 3.500 hewan liar buas yang dibawa dari Afrika (Sommer, 2007).

Satire Juvenile memang tidak salah, para kaisar Romawi telah mampu membawa negerinya berabad-abad dengan menghibur rakyatnya dengan dua hal, pinem at circenses (roti dan sirkus). Kedua hal itu telah membuat rakyat Romawi kenyang dan terhibur, sehingga mereka melupakan berbagai perilaku rusak penguasa dan politisi Romawi.

Sumber inspirasi
Diskusi politik dan negara modern dalam kaitannya dengan sejarah seringkali merujuk kepada kejadian masa lalu, dan Romawi adalah satu sumber insparasi yang tak pernah habis. Demokrasi, republik, perbudakan, seni, pasar bebas, perang, bahkan makanan sekalipun, selalu menjadi titik masuk dalam membaca dan menganalisa kekuasaan. Romawi selalu menjadi cermin serius, bahkan tak kurang menjadi guru jenaka dalam menggali imajinasi untuk terjemahan masalah kekuasaan kontemporer, betapa pun canggihnya zaman digital yang melilit kita hari ini.

Rugby dan sepakbola di Eropa, bola basket dan football Amerika adalah dua contoh yang paling sering disebut sebagai analogi sirkus yang menjadi industri, tetapi juga sebagai ajang pelampiasan emosi warga Eropa dan Amerika pada setiap akhir pekan. Penulis Amerika Latin sering mengistilahkan strategi pan y futbol (roti dan bola) untuk Presiden Brazil Dilma Rouseff dan Presiden Argentina Christina Kirchner dalam upaya melanggengkan kekuasaan. Perhatian dan energi publik yang seharusnya tertuju untuk isu kelemahan pemerintahan, serta-merta terpindahkan ke arena sepakbola, dan kemudian persoalan serius negara hilang perlahan dan seterusnya sirna ditelan masa. Memang ada catatan sirkus bola Dillma Rousef yang gagal, dan akhirnya di-impeach oleh DPR dan Senat Brazilia.

Contoh paling akhir penggunaan satire Juvenile adalah ungkapan kolumnis kondang Amerika asal India, Fareed Zakaria, host Global Public Square CNN yang menulis tentang Donald Trump di kolom the Washington Post (29 Desember 2016). Dalam eveluasi awal 100 hari pertama Trump, Fareed menyebutkan presiden AS itu sedang bermain sirkus dengan berbagai pernyataan yang mengejutkan, menggelikan, dan bahkan menakutkan. Lebih maju dari kaisar Romawi kuno, Trump sedang menjadikan dirinya sebagai gladiator sekaligus panggung, sambil berharap rakyat Amerika akan senang dengan berbagai kebijakan yang akan dia ambil. Hasilnya tidak ada kemajuan yang berarti, terutama bila dibandingkan dengan para pendahulunya. Minggu-minggu pertama Trump di Gedung Putih telah terlewatkan dengan sia-sia, bahkan terus-menerus menimbulkan kontroversi berkelanjutan. Fareed menyebutkan, Trump benar-benar bermain sirkus.

Bapak bangsa kita, Sukarno adalah seorang politisi ulung yang juga cukup pandai memainkan jurus-jurus sirkus ketika dia berkuasa. Dengan tidak mengurangi segala kehormatan yang sangat pantas ia terima, Sukarno juga tidak luput dari kelemahannya sebagai manusia biasa. Dengan slogan sebagai negara baru yang membutuhkan proses nation and character building, ia berkelana dari satu sirkus ke sirkus yang lain. Ia memainkan jurus “Ganyang Malaysia”, “Nasakom”, “Manipol Usdek”, “Dekrit”, dan berbagai sirkus lainnya yang membuat rakyat terpana. Namun demikian, sirkus Sukarno yang diakui oleh dunia adalah Gerakan Non-Blok yang terus bersinar dan berperan sampai hari ini.

Nasi dan ‘piasan’
Kalaulah ada kajian lebih lanjut contoh positif tentang roti dan sirkus, mungkin Aceh dapat dijadikan satu kasus yang menarik tentang bagaimana sang penguasa bekerja keras memberikan tidak hanya roti dan dan sirkus kepada rakyatnya, tetapi juga pembangunan yang membangkitkan. Almarhum Gubernur Ibrahim Hasan (1935-2007) adalah manusia biasa yang mempunyai banyak kelebihan dan tentu saja kelemahan, namun ia telah berbuat banyak untuk daerah dan rakyat Aceh. Ia adalah seorang ekonom, teknokrat, politisi, ulama, dan juga seorang budayawan. Ia tahu benar, betapa rakyat butuh roti (baca; nasi) dan pada saat yang sama juga butuh sirkus (baca; piasan). Ia menggelorakan pembangunan yang peninggalannya masih sangat terasa sampai dengan hari ini.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help