SerambiIndonesia/

Ribuan Bibit Kopi tak Ditanam

Ribuan bibit kopi robusta bantuan untuk 14 kelompok tani (293 KK) di Kabupaten Abdya tahun 2016

Ribuan Bibit Kopi tak Ditanam
Ketua Komisi B DPRK Abdya, Dedi Suherman dan Ketua Komisi A, Iskandar melihat sejumlah bibit Kopi yang belum ditanam dan ada sebagian bibit kopi sudah mati, Senin (10/3) di Desa Panton, Kecamatan Blangpidie. SERAMBI/RAHMAT SAPUTRA 

* DPRK Sesalkan Pemkab Abdya

BLANGPIDIE - Ribuan bibit kopi robusta bantuan untuk 14 kelompok tani (293 KK) di Kabupaten Abdya tahun 2016 tak ditanam . Bahkan saat ini ada bibit kopi sudah beralih tangan karena tidak dimanfaatkan kelompok tani.

Komisi B DPRK Abdya menyesalkan sikap dinas terkait yang tidak selektif dalam memverifikasi penerima bantuan kopi robusta tersebut. “Sebagian ada yang sudah mati, ini akibat lemahnya pengawasan dinas. Seharusnya setelah memberikan bantuan dinas harus memantau setiap perkembangan bibit tersebut, bukan seperti ini,” kata Ketua Komisi B DPRK Abdya Dedi Suherman kepada wartawan seusai melihat langsung bibit kopi bantuan tersebut kopi kemarin.

Menurutnya dengan adanya temuan ini pihaknya akan memanggil dinas terkait dan ketua kelompok tani untuk mempertanyakan, terkait banyaknya bibit kopi yang menumpuk di rumah masyarakat dan ada yang mati.

“Kita akan panggil kelompok dan dinas mempertanyakan persoalan ini, jangan mubazir seperti ini,” tegas politisi PAN ini dengan nada kecewa. Sementara itu Ketua Komisi A Iskandar dan anggota Komisi D Khairuddin menyesalkan banyaknya bibit kopi yang belum ditanam. Seharusnya jika bibit tersebut bantuan tahun 2016, maka ribuan bibit yang menumpuk di rumah masyarakat tersebut sudah ditanam.

“Ini harus dipanggil kelompok, apalagi yang menumpuk ini adalah kopi yang diberikan cuma-cuma, kok bisa seperti ini,” kata Iskandar. Kekesalan juga diutarakan Khairuddin.

“Ini harus dievaluasi, kalau nggak salah saya jumlah bantuan bibit kopi ini sudah mencapai 181 ribu batang, dengan jumlah tersebut seharusnya (hutan) di Abdya sudah tumbuh kopi semua, tidak ada lagi rumput, saat ini kenapa gunung-gunung masih banyak rumput dan hutan belantara, ini pasti ada yang tidak beres,” katanya.

Khairuddin juga mempertanyakan sikap dinas yang berani menganggarkan kembali pembelian bibit kopi pada tahun 2017 senilai Rp 1,5 miliar seperti yang ditampilkan di LPSE Abdya. “Boleh saja mereka adakan pada tahun 2017, tapi jangan lupa serahkan LPJ-nya dan menyebutkan bibit kopi 2016 lalu sudah ‘meninggal dunia’, kalau itu sudah dilakukan maka boleh-boleh saja,” ujarnya.

Informasi yang diterima Serambi Pemerintah Abdya pada 2016 lalu membagi bibit kopi kepada 293 kepala keluarga petani di Abdya dengan luas lahan 150 hektare (Ha). lahan tersebut tersebar di beberapa kecamatan seperti Lembah Sabil 16 Ha, Manggeng 10 Ha, Tangan-Tangan 20 Ha, Setia 32 Ha, Blangpidie 62 Ha, dan Kecamatan Jeumpa 10 Ha.

Mantan Kepala Bidang Produksi Pengembangan dan Perlindungan Tanaman Dinas Perkebunan Abdya Sukiman yang dikonfirmasi Serambi mengatakan kelompok tani penerima kopi robusta tidak dibolehkan memberikan bibit kopi bantuan tersebut kepada orang di luar dari kelompok.

“Bibit yang kita serahkan, tidak boleh dialihkan ke orang lain, karena yang kita berikan itu sesuai dengan SK bupati. Kalau ada kejadian seperti ini, ketua kelompok ambil kembali bibit tersebut. Karena, setiap petani per hektare diberikan bibit 1.210 batang. Sementara bibit yang ditanam itu 1.110 batang per hektare, sisanya untuk sisipan, mungkin ada yang mati, jadi tidak boleh dibagi ke orang,” kata Sukiman.(c50)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help