Opini

Barus, Suku Mante, dan ‘Acehnologi’

SATU artikel berjudul “Menjenguk Acehnologi” oleh Ramli Cibro (Serambi, 28/3/2017), menjadi tambahan isu-isu (berita)

Barus, Suku Mante, dan ‘Acehnologi’
TAURIS MUSTAFA
Ilustrasi Suku Mante 

Oleh Fazil

SATU artikel berjudul “Menjenguk Acehnologi” oleh Ramli Cibro (Serambi, 28/3/2017), menjadi tambahan isu-isu (berita) di Aceh yang mengajak Aceh melihat masa lalu. Tanpa kebijaksanaan, isu masa lalu ini akan melempar warga Aceh ke masa lalu untuk bergelut dan berkubangan di sana.

Dua isu masa lalu yang mengemuka sebelumnya, lalu berkembang dan hangat diperbincangkan menjadi pro-kontra di Aceh adalah Barus dan suku Mante. Kabar tentang Barus ditetapkan Barus sebagai Titik 0 (Nol) Peradaban Islam Nusantara, mengusik masa lalu romantisme dan sejarah kebanggaan akar diri (identitas) Aceh. Aceh harusnya sebagai titik nol, titik mula Islam nusantara.

Lalu kemudian muncul isu suku Mante. Isu ini menjadi jalan lain melihat masa lalu akar jati diri Aceh. Mante adalah tanda, pintu menuju masa lalu Aceh yang lebih jauh. Melempar Aceh ke 30000-an SM sebagaimana catatan sejarah keberadaan suku Mante.

Mante menjadi tanda, pintu, jalan menuju melihat masa lalu akar jati diri Aceh. Mante adalah isu sejarah tentang akar sejarah keberadaan Aceh kini. Mante melempar Aceh ke masa lalu yang berkali-kali lipat lebih jauh daripada masa lalu nisan-nisan kuno di Barus (dan di Aceh) abad ke-7 Masehi.

Mante dan Barus, dua tanda besar yang mengusik akar jati diri Aceh. Memunculkan keresahan di permukaan/kesadaran/kekinian Aceh. Jika melihat penutup opini artikel “Acehnologi”, ada pesan dari melihat masa lalu. Pesan agar Aceh meuaceh (me-Aceh) dan jangan lupa diri.

“Acehnologi adalah ilmu bagaimana seharusnya menjadi orang Aceh. Bagaimana orang Aceh harus melihat diri, dan bagaimana Aceh mempertahankan identitas di tengah pertarungan materialisme, hedonisme dan globalisme yang semakin mematikan akar-akar keacehan. Acehnologi mengingatkan orang Aceh bahwa untuk bisa maju, orang Aceh tidak perlu menjadi orang lain. Dan untuk bisa disegani dunia, orang Aceh tidak perlu menjadi Amerika.”

Akar sejarah
Maksud identitas (akar sejarah diri) yang dipertahankan dari artikel itu merujuk pada kejayaan Aceh dengan kerajaan Islamnya di abad 16 M. Dari sanalah ruh/spirit/akar diri Aceh tumbuh, dibangkitkan, dieksiskan, dan dipertahankan hingga Aceh mampu maju dan gemilang. Adalah ruh/spirit/akar diri Aceh yang dimaksud artikel itu adalah ruh keilahian (ruh Islam). Sementara Mante tak tersebut dalam artikel Acehnologi, terputus dari akar sejarah diri Aceh.

Jika pesan mengenali akar sejarah jati diri Aceh itu dilempar rujukannya jauh lagi ke masa lalu, jatuhlah pada masa Mante. Mante adalah legenda sejarah yang konon leluhur Aceh, akar Aceh. Maka narasi Acehnologi melihat masa lalu Aceh pada masa Islam masuk ke Aceh, narasi itu akan goyah, bahkan runtuh. Perlu untuk direkonstruksi ulang.

Jika Mante benar fakta sejarah adalah leluhur Aceh, maka, akar sejarah diri Aceh tak dimulai dari abad ke 7 sejak Islam masuk, tapi Aceh berakar dirinya dari Mante. Kitalah mante-mante modern yang mendobrak “kemantean” (primitif, bodoh, terbelakang, jahiliyah, dan segala pelekatan sifat dan perilaku negatif) yang kemudian menerima ruh Islam untuk maju dan disebut beradab pada abad ke-7 M.

Halaman
123
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved