SerambiIndonesia/

Bank Aceh Pacu Penguatan Syariah

Enam bulan setelah konversi sepenuhnya dari sistem konvensional ke syariah, Bank Aceh terus fokus memacu

Bank Aceh Pacu Penguatan Syariah

BANDA ACEH - Enam bulan setelah konversi sepenuhnya dari sistem konvensional ke syariah, Bank Aceh terus fokus memacu program utama penguatan berbagai aspek implementasi syariah, antara lain percepatan proses internalisasi dan trasformasi Sumber Daya Insani (SDI) serta optimalisasi strategi bisnis.

Direktur Utama (Dirut) PT Bank Aceh Syariah, Busra Abdullah melalui Corporate Secretary, Amal Hasan menyampaikan hal ini kepada Serambi, Senin (3/4). “Peningkatan kompetensi SDI dan penyempurnaan sistem teknologi informasi menjadi agenda prioritas saat ini,” kata Amal Hasan.

Amal Hasan mengatakan untuk mendukung itu semua, transformasi budaya kerja secara menyeluruh, assasemen terhadap produk-produk, dan jasa layanan bank yang existing, baik pada produk pendanaan maupun pembiayaan terus dilakukan secara komprehensif. “Kita targetkan dalam satu tahun pertama pascakonversi, kita bisa mencapai format yang ideal dalam mengembangkan bank kebanggaan masyarakat Aceh ini,” ujar Amal.

Amal Hasan juga memastikan pelayanan terhadap nasabah individu maupun korporasi sama sekali tidak terganggu setelah konversi dan telah berjalan sesuai aturan secara syariah. Karena itu, ia berharap masyarakat tak perlu khawatir karena seluruh proses dan aktivitas operasional Bank Aceh Syariah setiap saat diawasi Dewan Pengawas Syariah.

“Implementasi seluruh produk dan jasa layanan bank telah mendapat fatwa Dewan Syariah Nasional (DSN) dan secara internal kita dikawal Dewan Pengawas Syariah, termasuk diawasi langsung oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai regulator,” jelasnya.

Menurut Amal upgrading mindset dan perubahan paradigma layanan serta membangun networking industri perbankan syariah adalah tantangan saat ini dalam rangka meningkatkan kualitas dan pelayanan kepada nasabah. “Dengan dukungan seluruh stakeholder, terutama nasabah, masyarakat, serta Pemerintah Aceh, kita yakin semuanya bisa dikendalikan dengan baik,” katanya.

Amal menambahkan Bank Aceh akan terus sempurnakan berbagai kelemahan, terutama dalam meningkatkan program sosialisasi dan edukasi kepada seluruh lapisan masyarakat dengan melibatkan berbagai pihak sebagai mitra utama, seperti ulama dan kelompok masyarakat di seluruh wilayah kerja bank. “Kita juga akan bersinergi dengan semua pihak, termasuk akademisi dari berbagai Perguruan Tinggi di Aceh dalam mensyiarkan tentang ekonomi Islam dan perbankan syariah,” demikian Amal.

Sementara itu, Anggota Dewan Pengawas Syariah (DPS) PT Bank Aceh Syariah Prof Dr Syahrizal Abbas yang juga guru besar UIN Ar-Raniry, Banda Aceh mengatakan pascakonversi, DPS Bank Aceh Syariah terus melakukan fungsi kontrol dan pengawasan secara rutin. Tujuannya untuk menjamin kegiatan operasional bank sudah mengacu kitab fiqih berdasar Alquran, hadist, dan ijma’, fatwa Dewan Syariah Nasional (DSN) maupun Peraturan Perundang-undangan, Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK), Peraturan Bank Indonesia (PBI), dan Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah (KHES) .

“Dengan adanya pengawasan, kita harapkan kegiatan operasional Bank Aceh, baik dari segi syarat maupun implementasi akan berjalan sesuai prinsip syariah,” ujar mantan Kadis Syariat Islam Aceh ini.

Rektor UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Prof Dr Farid Wajdi Ibrahim, mengatakan proses konversi PT Bank Aceh Syariah menjadi momentum tepat dalam penerapan Syariat Islam secara kaffah di Aceh. Menurutnya, masih ada berbagai tahapan harus dilalui bank milik Pemerintah Aceh ini, sehingga menjadi bank yang dapat memperkuat fundamental ekonomi syariah di negeri syariat ini.

“Dukungan dari semua pihak, seperti pemerintah, ulama, akademisi, dan profesional, serta masyarakat sangat dibutuhkan dalam rangka menjadikan Bank Aceh Syariah menjadi bank kebanggaan masyarakat Aceh yang nantinya akan menjadi pilar utama dalam membangun ekonomi tanpa riba, sehingga hal ini wajib kita dukung bersama,” harapnya.

Menurutnya, setelah bank ini menjadi syariah, tantangan yang menjadi tanggung jawab seluruh pihak saat ini adalah “mensyariatkan” seluruh masyarakat dalam memahami dan menggunakan berbagai produk perbankan syariah agar tidak terjebak dalam stigma negatif bahwa prinsip bank syariah tidak berbeda dengan pola bank konvensional, sekaligus juga agar masyarakat tidak terjebak praktik ribawi. Minimnya literasi masyarakat menurutnya menjadi penyebab munculnya persepsi negatif terhadap perbankan syariah.

“Seolah-olah ekonomi syariah itu adalah sesuatu yang gratis dan tidak boleh mengambil untung. Ini pendapat yang keliru. Selain itu, bank syariah juga memiliki fungsi yang lebih dari sekadar bank. Selain berorientasi pada profit, juga memiliki tanggung jawab sosial yang lebih tinggi dalam pengentasan kemiskinan dan mewujudkan pembangunan berkeadilan,” jelasnya. (sal)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help