Home »

Opini

Opini

Prilaku PLN Menurut Syariat Islam

SATU permasalahan klasik yang terus dialami oleh rakyat adalah pemadaman listrik secara bergilir yang berkelanjutan

Prilaku PLN Menurut Syariat Islam
Tribunnews.com

Oleh Chairul Fahmi

SATU permasalahan klasik yang terus dialami oleh rakyat adalah pemadaman listrik secara bergilir yang berkelanjutan, baik siang maupun pada malam hari. Tidak jarang saat azan Maghrib hendak dikumandangkan, tiba-tiba lampu padam. Ibarat penyakit kanker stadium empat yang sulit sekali untuk diobati, namun terus mengorogoti kenyamanan para pelanggan. Begitulah kira-kira “prilaku” Perusahaan Listrik Negara (PLN), khususnya di Aceh.

Reaksi pelanggan kemudian beranekaragam, ada yang bersabar karena menyakini sebagai takdir, tapi juga tidak sedikit yang mencaci-maki, sumpah serapah dan melaknat. Demonstrasi sudah berkali-kali, namun prilaku suka padam dan memadamkan juga tak pernah berhenti. Kebiasaan buruk ini tidak saja telah terjadi sejak zaman konflik Aceh, namun pasca-MoU Helsinki ada nadanya UUPA sekalipun tidak mengubah kebiasaan lama, listrik padam berkelanjutan.

Apa itu prilaku?
Notoatmojo (2003) menguraikan bahwa prilaku adalah suatu tindakan atau kebijakan subjek hukum baik sebagai personal (natuurlijkpersoon) atau suatu badan hukum (rechtpersoon) terhadap yang lain yang menimbulkan nilai baik dan atau buruk melalui suatu proses interaksi terhadap sesama lainnya.

Dalam konteks ini, PLN adalah suatu badan hukum (rechtpersoon) milik Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang mempunyai otoritas penuh dan absolut dalam memberikan pelayanan listrik berbayar kepada masyarakat di seluruh Indonesia, dan tidak ada persaingan (kompetisi) di dalamnya.

Sementara al-Ghazali mendefinisikan prilaku itu sebagai suatu kemantapan jiwa (perangkat lunak) yang kemudian menghasilkan suatu perbuatan (prestasi) atau pengamalan (kewajiban) yang mudah ditunaikan, tanpa harus di proses secara birokratis yang lama yang kemudian menghasilkan kebaikan baik bagi dirinya, maupun bagi yang lain.

Artinya, konsep prilaku (akhlak) menurut al-Ghazali diawali oleh proses internalisasi diri dengan nilai-nilai yang luhur yang kemudian terpatri dalam bentuk sikap dan perbuatan yang memberikan dampak baik terhadap lingkungan (relasisosial) maunpun universal (transidental).

Dalam konteksteologi, al-Ghazali mengatakan tujuan akhir dari prilaku (akhlak) itu adalah memutuskan diri dari cinta kepada dunia, dan menyerahkannya secara totalitas kepada sang pencipta, maka tidak adalagi sesuatu yang dicintainya selain kerinduan kepada Allah Swt. Kerinduan akan bertemu dengan Tuhannya melalui wasilah syara’ dan akal yang pada akhirnya akan menemukan ketenangan jiwa yang sangat damai.

Sebelum memahami prilaku PLN dan hubungan kerinduan kita dengannya, ada baiknya sedikit kita pahami sejarah dan kedudukan PLN sebagai suatu “makhluk” yang sangat penting di republik ini.

PLN merupakan proyek nasionalisasi dari perubahaan yang dibangun oleh Hindia Belanda yang pertama didirikan pada 1897, dan dikelola sangat baik di bawah manajemen perusahaan ANIEM (Algemeene Nederlandsche Indische Electriciteit Maatschappij), sebelum direbut oleh Jepang dengan mengganti nama menjadi Djawa Denki Djigjo Sja. Pada 25 Oktober 1945 pemerintah Indonesia membentuk Djawatan Listrik dan Gas Bumi, sebagai perusahaan yang mengelola kelistrikan di Indonesia yang pada akhirnya menjadi PLN yang resmi berdiri pada 1 Januari 1961.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help