SerambiIndonesia/
Home »

Opini

Opini

‘E-Seumeungeut dan E-Keunong Peungeut’

TULISAN ini bertujuan merespons keresahan penulis tentang maraknya berita-berita hoax yang baru-baru ini

‘E-Seumeungeut dan E-Keunong Peungeut’

Oleh Zamzami Zainuddin

TULISAN ini bertujuan merespons keresahan penulis tentang maraknya berita-berita hoax yang baru-baru ini sengaja dibuat dan disebarkan melalui media sosial untuk meraup keuntungan melalui Google AdSense. Banyak kalangan awam juga ikut-ikutan menyebarkan berita-berita bohong ini dan secara tidak sengaja telah ikut membantu si pembuat berita meraup keuntungan besar. Sayangnya, penyebar berita-berita bohong ini mulai dari kalangan bawah sampai kalangan terdidik seperti guru dan dosen di perguruan tinggi, mulai dari lulusan Sekolah Dasar sampai lulusan Doktor. Ini menunjukkan bahwa tingkat literasi masyarakat kita dari berbagai kalangan terhadap media digital masih sangat rendah.

Penulis sengaja membuat judul berbahasa Aceh E-Seumeungeut (E-menipu) dan E-Keunong peungeut (E-tertipu), karena orientasi tulisan ini adalah untuk masyarakat Aceh, terutama kelas menengah ke bawah di mana kata hoax mungkin masih dianggap tidak begitu berbahaya dan tidak bermakna negatif. Padahal hoax adalah nama lain dari fitnah dan menipu (seumeungeut). Mungkin kata-kata seperti seumengeut dan keunong peungeut bisa dipopulerkan untuk menggantikan kata hoax pada kalangan awam.

Pembuat berita seumeungeut sengaja mengambil keuntungan dari momen-momen dan isu-isu tertentu. Seperti baru-baru ini berita seumeungeut tentang seorang biksu radikal yang akan datang ke Aceh, Malaysia akan kirim rudal membantu Aceh atau Turki siap membantu Aceh dengan kapal perangnya. Sangat disayangkan, berita-berita bohong seperti ini bahkan hampir saja mengorbankan saudara-saudara kita yang sedang bekerja di Negara tetangga, mereka akan membeli tiket pesawat untuk pulang kampung membela nanggroe.

Rezeki online
Pembuat berita-berita seumengeut seperti ini menggunakan layanan Google AdSense yang merupakan program kerja sama periklanan antara Google dengan si pemilik situs baik website maupun YouTube. Pemilik situs akan memperoleh rezeki online ketika seseorang berkunjung ke situs tersebut dan melakukan klik iklan. Situs-situs yang menggunakan program AdSense ini tentu menggunakan domain berbayar seperti .com, .info, .org, atau .web.id dan bukan domain gratisan seperti .blogspot.com atau wordpress.com.

Pada awal tahun ini, pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) sudah pernah mengeluarkan ancaman akan memblokir seluruh iklan Google AdSense jika menolak keberja sama dalam menangkal berita-berita seumeungeut di media sosial. Permasalahan mencari rezeki online dengan seumeungeut seperti ini bukan hanya terjadi di Aceh dan Indonesia saja, tetapi juga sudah menjadi problematika global.

Abby Ohlheiser menulis dalam The Washington Post (18 November, 2016), tentang bagaimana pembuat berita seumeungeut di Facebook meraup keuntungan besar. Ia menyebutkan bahwa ada pengguna AdSense di Amerika Serikat bisa meraup keuntungan sampai 10.000 dolar (lebih dari Rp 130 juta) perbulan ketika situs berita seumeungeut yang dibuatnya berhasil menjadi viral, dibagikan, dikunjungi banyak orang dan diklik iklannya.

Menjadi pejuang Google AdSense adalah satu alasan banyaknya generasi muda di Aceh menghabiskan waktunya berjam-jam di warung kopi berfasilitas Wi-Fi, berusaha meraup rezeki online (income) tanpa harus banyak bergerak secara fisik. Sekitar lima belas tahun lalu, Prensky (2001) telah memprediksi akan lahir generasi seperti ini yang ia sebut dengan digital natives atau generasi digital. Yaitu generasi yang lahir ketika atau setelah teknologi diciptakan, generasi yang cenderung menghabiskan waktunya lebih dari 50% dalam dunia maya, sehingga terjadi ketidakseimbangan antara kehidupan semu dengan kehidupan dunia nyata. Ia juga menyebutkan bahwa generasi digital ini cenderung menyukai proses instan, pasif dalam bergerak dan tidak lagi sebijak generasi sebelum mereka atau orang tua mereka dulu diumur yang sama. Artinya, kebijaksanaan dan kematangan berfikir generasi digital umur 20 tahun sekarang tidak lagi sebijak dan sematang generasi non-digital pada umur mereka 20 dulu.

Terlepas dari itu, tentu teknologi ibarat dua sisi mata uang (like two sides of a coin), memiliki sisi positif dan negatif. Ketika dipergunakan secara bijak dan edukatif tentu akan bersifat positif, sebaliknya jika salah dipergunakan seperti seumeungeut orang lain, tentu akan bersifat negatif. Begitu juga dengan Google AdSense yang memiliki banyak nilai positif seperti membagikan ilmu yang benar dan bermanfaat kepada orang lain baik melalui blog ataupun video YouTube. Selain akan mendapatkan pahala karena telah berbagi ilmu, informasi dan inspirasi yang benar, juga akan mendapatkan penghasilan halal (income). Namun jika AdSense ini salah dipergunakan, maka penghasilan yang didapat adalah hasil dari e-seumeungeut, tidak jauh berbeda dengan mencari rezeki menipu orang di dunia nyata.

Begitu juga dengan netizen lain yang tidak bermain AdSense, jika ikut menviralkan atau membagikan berita-berita seumengeut tersebut, maka secara tidak langsung juga telah ikut membantu mereka menipu orang dan mendapatkan rezeki secara tidak benar.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help