SerambiIndonesia/

Bayangan Terakhir

HUJAN belum lagi reda, namun aku harus pulang sebelum matahari tenggelam. Melihat setumpuk pekerjaan

Bayangan Terakhir

Karya Dina Triani GA

HUJAN belum lagi reda, namun aku harus pulang sebelum matahari tenggelam. Melihat setumpuk pekerjaan di atas meja, rasanya tak mungkin bisa pergi tanpa meninggalkan beban. Beban pertama, esok pagi aku akan menghadapi wajah kecewa atasanku atas hasil kerja yang tidak maksimal. Beban kedua adalah cibiran dari teman-teman yang masih duduk berkutat dengan laptop mereka untuk menyelesaikan tugasnya masing-masing. Bisa saja aku beralasan bahwa tempat tinggalku lebih jauh daripada mereka. Bahwa aku harus berebut bus, yang jika semenit saja terlewat harus menunggu dua jam kemudian untuk mendapat bus jurusan serupa. Apakah mereka menerima alasan itu? Sebelum aku melontarkannya, aku sudah tahu jawabannya adalah: Tidak! Mengapa? Karena aku laki-laki. Menjadi laki-laki selalu punya beban lebih berat daripada wanita. Laki-laki harus tangguh, bertanggung jawab dan berani. Pulang larut malam, tidak ada orang yang mau perkosa. Jika ada yang mencoba menikam? Ya, tinggal bela diri saja. Mudah bukan?

Aku melirik kopi hitamku yang sudah dingin di dalam cangkir. Mataku kembali menyapu kesekeliling ruangan. Semua rekan-rekanku tampak khusyuk. Kegelisahan mulai meliputiku. Teringat kejadian kemarin malam di jalanan sepi menuju rumahku. Waktu itu bulan bersinar redup. Lampu-lampu di sepanjang jalan tidak mampu menerangi meski hanya seekor Tupai melompati selokan. Pepohonan rimbun di kiri kanan jalan kelihatan menyeramkan. Suara angin menderu-deru. Dan aku mengharapkan ada orang lain selain diriku saat itu.

Tak tampak cahaya lampu lagi dari musala. Tanda bahwa azan isya sudah berakhir tiga jam yang lalu. Kupercepat langkah, tidak perduli sol sepatuku akan hancur kena goresan batu. Namun jantungku tiba-tiba dikejutkan oleh sekelebat bayangan putih. Kulebarkan mataku, mengharap apa yang aku lihat tadi bukan khayalan di tengah keheningan. Dan, bayangan putih itu masih disana. Di ujung persimpangan menuju rumah kontrakanku. Kutelan ludah. Dan aku dapat mendengar suara jantungku yang semakin memburu. Siapakah itu? Tanyaku dalam hati. Manusiakah dia? Atau... Hantu?

Bayangan itu hilang secepat harapanku. Aku tidak ingin percaya bahwa masih ada hantu pada zaman secanggih ini. Seharusnya makhluk-makhlukgaib tidak perlu menakut-nakuti manusia lagi. Bukankah mereka sudah memiliki komunitas sendiri? Mereka tidak punya hak menganggu manusia. Apalagi laki-laki...Aku terus bercoloteh dalam hati untuk melawan sepi hingga kakiku akhirnya sampai juga ke teras rumahku.

“Kok, melamun?” suara Dara mengejutkanku.

Aku menoleh ke arahnya, “Bukan melamun, tapi berpikir.”

Alis Dara bertaut, “Apa bedanya?”

“Ya beda,”jawabku sekenanya.

“Riz,”seru Dara lagi. “Sudah baca koran hari ini belum?”

Halaman
1234
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help