SerambiIndonesia/

Saifannur, Sukses Melawan Stigma ‘Sakit Jiwa’

“Cita-cita saya dulu sederhana saja, cuma ingin punya sebuah rumah permanen,” kata Saifannur (60) mengawali

Saifannur, Sukses Melawan Stigma ‘Sakit Jiwa’
saifannur 

“Cita-cita saya dulu sederhana saja, cuma ingin punya sebuah rumah permanen,” kata Saifannur (60) mengawali bincang-bincang dengan Serambi, siang pekan lalu.

Sejak kecil Saifan tak pernah bercita-cita menjadi pejabat, apalagi menjadi orang nomor satu di Kota Juang itu. Sebagai pedagang pinang, pemuda Saifan cuma bercita-cita memiliki sebuah rumah, tidak lebih. Namun, peruntungan membawanya menjadi kontraktor besar dan tokoh politik. Sebuah rumah nan megah pun berdiri mentereng di pinggiran jalan nasional Banda Aceh-Sumut, tepatnya di Gampong Paya Meuneng, Kecamatan Peusangan, Bireuen. Tak mengherankan jika rumah yang punya kubah laksana masjid ini kerap membuat pendatang atau pelintas yang ingin shalat terkecoh, karena mengira itu masjid.

“Tidak ada yang bisa memprediksi, semua yang saya peroleh ini atas anugerah Allah Swt,” kata dia.

Saifan merangkak karier dari bawah, mulai dari pedagang pinang, menjadi keuchik selama 28 tahun sampai 2012, hingga terpilih sebagai Ketua Partai Golkar di Bireuen. Bersama Dr Muzakkar A Gani SH MSi, Saifan kemudian mendaftar ke Komisi Independen Pemilihan (KIP) sebagai calon Bupati Bireuen pada 21 September 2016.

Namun, perjuangan Saifan tidak mudah. Dia menempuh jalan berliku. Saat uji tes kesehatan di RSUZA Banda Aceh, Saifan dinyatakan tidak lulus, karena tidak memenuhi syarat secara jasmani (neurobehavior). Dia dinyatakan gagal dalam tes kesehatan, hingga dua kali. “Saya disebut kurang bagus ingatan. Timbul pertanyaan, bagaimana mungkin saya bisa memimpin perusahaan dengan ratusan karyawan kalau ingatan saya kurang bagus?” kata anak kelima dari 12 bersaudara pasangan Tgk Keuchik Tjoet Hasan dan Rabiah ini.

Saifan kemudian melakukan tes “bandingan” ke RS Adam Malik Medan dan RS Materna Medan sekaligus menggugat ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN). Lewat perjuangan berliku, MA kemudian mengabulkan gugatan Saifan. Masyarakat Bireuen pun tersentak ketika MA memerintahkan KIP Bireuen untuk membatalkan keputusan sebelumnya dan memasukkan nama Saifannur sebagai calon. Dia kemudian mendapat nomor urut enam. “Saya merasa dizalimi, maka saya menggugat sampai ke titik terakhir, yaitu MA, akhirnya bisa mendaftar dan ikut serta sebagai peserta pilkada Bireuen,” ujar Saifan. Gugatan dilayangkan karena merasa optimis bisa menjadi salah seorang calon dan ternyata sikap yang diyakini dari awal itu benar. Dengan ketetapan KIP pada 23 Desember, maka timses pun berhati lega. Mereka bergerak cepat melakukan kampanye dialogis dan kampanye terbuka pada 11 Februari 2017 sebelum masa tenang.

Rapat pleno KIP kemudian menetapkan pasangan tersebut meraih suara terbanyak di antara lima pasangan calon lainnya, yaitu 74.292 atau 34,89 persen dari jumlah DPT 298.718.

“Meraih suara terbanyak ya biasa saja dan itu merupakan kemenangan rakyat Bireuen,” ujarnya. Meski telah menjadi pemenang, Saifan mengaku tidak bisa bekerja sendiri.

Dia mengajak kelima pasangan calon untuk duduk bersama dan memikirkan bersama untuk memajukan Bireuen.

Namun, kata Saifannur, di setiap rentang pendakian karier, hampir selalu ada rintangan berat yang dihadapinya. Di sepanjang umurnya, Saifan mengaku setidaknya dua kali berjuang dari upaya “penzaliman”. Pertama, saat dia mengerjakan proyek Cot Panglima yang menghabiskan anggaran lebih dari Rp 100 miliar. Pemerintah Aceh ogah membayar, mengingat sebagian proyek bencana itu disebut-sebut tidak melalui mekanisme anggaran pemerintah. Saifan pun kalang kabut. Dia terutang di sana-sini. Namun, sifat pantang menyerah hampir selalu mewarnai sikapnya. Gugatan demi gugatan diajukan, hingga pemegang otoritas lembaga peradilan tertinggi, Mahkamah Agung, memenangkan pria ini pada tahun 2013 dan mewajibkan Pemerintah Aceh membayarnya.

Saat ditanya rahasia suksesnya, Saifannur hanya tertawa. Kata dia, sukses tidak datang tiba-tiba. Terlebih lagi, hidup memang membutuhkan kesabaran ekstra. Ada banyak rintangan dalam kehidupan. “Yang penting berbuat dulu, biar masyarakat yang memutuskan,” kata dia.

Kepada Serambi, Saifannur mengaku setelah dilantik kelak tidak akan menggunakan fasilitas yang diberikan negara kepadanya. “Jika bisa pakai mobil sendiri, mengapa harus memakai punya negara?” kata dia. Saifan mengaku orientasi kekuasaan yang ingin dia raih bukan lagi mengejar harta benda, melainkan sebagai cara untuk membantu orang lain. (yus/sak)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help