SerambiIndonesia/
Home »

Opini

Opini

Jurus Kebal PLN

FENOMENA mati lampu bukanlah hal yang aneh, apa ditempat kita Aceh yang notabanenya pulau paling ujung

Jurus Kebal PLN
Suasana malam di kantor PLN Wilayah Aceh, Jalan Tgk Daud Beureueh, Banda Aceh.SERAMBI/BUDI FATRIA 

Oleh Miksalmina Budiman

FENOMENA mati lampu bukanlah hal yang aneh, apa ditempat kita Aceh yang notabanenya pulau paling ujung Indonesia. Pemadaman bisa terjadi kapan saja, tidak mesti harus ada pemberitahuan terlebih dulu dari pihak terkait, bahkan lebih sering terjadi mati mendadak tanpa diketahui sebab akibat.

Sebagai konsumen yang setia, tentunya kita akan merasa risih dengan perlakuan yang demikian dari pihak PLN. Apa boleh buat, meskipun duka dari pada suka, sebagai pelanggan yang tidak punya alternatif lain untuk menerangi rumah kita di saat gelap, dipaksa untuk menerima bagaimanapun sikap pelayanan yang diberikan.

Tidak sedikit di antara kita yang sadar akan hak dan kewajiban menerima pelayanan pasokan arus listrik yang normal, mengingat kita sebagai pelanggan tidak menerima pelayanan secara gratis, meskipun negara hadir dalam perusahaan tersebut. Tidak sedikit pula di antara kita yang kadang bermasalah pada saat tagihan, bahkan jika tidak mengukuti peraturan pembayaran yang telah ditentukan, kita beresiko pemutusan arus kekediaman kita.

Karena kesadaran itu pula, tidak sedikit di antara kita yang melayang protes atau kritikan terhadapa buruknya palayanan yang diberikan oleh PLN. Berbagai gaya kritik dan protes dari berbagai kelas dan profesi mewarnai sejumlah media sosial saat terjadi pemadaman. Bahkan tidak sedikit yang meluapkan kekesalannya dalam bentuk sempah serapah. Sayang, semua itu tidak terlihat adanya tanda-tanda pelayanan akan normal.

Menjadi rutinitas
Pemadaman listrik bukan lagi hal tabu bagi pelanggan, begitu juga kritikan dan protes dari pelanggan. Mungkin tahun lalu juga terjadi hal sama, bahkan tahun-tahun sebelumnya juga terjadi hal yang demikian. Begitu juga dengan pihak PLN, tahun yang lalu mungkin mereka mengutarakan alasan pemadaman yang tidak jauh berbeda dengan tahun ini, alasan yang sama mungkin juga telah terulang pada tahun-tahun sebelumnya. Sudah menjadi hal yang lumrah, ketika listrik mati, pelanggan beraksi, PLN menyampaikan alasan yang sistematis terkesan sedikit logis dan mengakhiri dengan janji tidak akan ada pemadaman setelah ini.

Persoalan yang sama berulang setiap tahun, sementera pelayanan listrik masih belum dirasakan banyak perubahan. Kurang maksimalnya pelayanan, tentunya akan merugikan dan berefek kepada banyak sector, terutama sektor ekonomi. Mengingat, kebanyakan dari pelanggan yang sudah bergantung kepada listrik dalam beraktivitas sehari-hari. Yang pada ujungnya, penyebab pemadaman dikhawatirkan akan menghambat pertumbuhan ekonomi masyarakat. Secara tidak langsung, kami rasa persoalan ekonomi yang memicu gerahnya pelanggan terhadap pelayanan yang diberikan oleh perusahaan milik negara ini.

Dalam logika awam, yang namanya perusahaan kita akan mebayangkan berjalannya sebuah management bisnis, yang disana ada perhitungan untung ruginya. Jika manegement ini betul-betul berjalan selayaknya sebuah perusahaan, maka bagian marketingnya akan memprediksi jumlah kuantitas dan kualitas yang akan dipasarkan, bahkan profesional, prediksi perjumlahan ini, akan mencukupi dalam jangka waktu yang panjang, sehingga cost yang dikeluar untuk operasonal penambahan akan lebih irit.

Perihal listrik, marketing ini terlalu mudah, karena populasi penduduk yang notabane sebagai pelanggan, tidak penah jauh meleset dari persentase yang prediksikan. Yang menjadi tanda tanya, mengapa setiap tahun selalu ada penambahan daya? Lalu mengapa pemadaman mesti terjadi menjelang bulan puasa? Jika kekurangan anggaran mejadi alasan, sementera pengguna listrik selalu bayar, termasuk rumah ibadah (masjid, meunasah dll).

Kita sadari, mungkin management logika awam ini, masih jauh ketepatannya dengan manajemen yang terstruktur secara sistematis dan terukur secara akademis. Ini muncul karena banyak pengguna listrik yang hanya mengerti manajemen awam ketimbang manajemen berpendidikan. Kebanyakan dari mereka hanya mengetahui, mengapa sudah dibayar tepat waktu, dan bahkan ada membayar sebelum penggunaannya, tapi listrik tidak juga normal? Yang lebih membingungkan lagi setelah membaca judul berita, “PLN: Tidak Ada Pemadaman di Aceh, Aliran Listrik akan Normal 100% Malam Ini” (Serambi, 6/4/2017). Hanya berselang setengah jam listrik kembali mati.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help