Home »

Opini

Opini

Poros Ekonomi Aceh-Penang

SATU pesawat Qantas Airlines take off dari bandara International Pulau Penang menuju Sydney Australia

Poros Ekonomi Aceh-Penang
Kontributor Nunukan, Sukoco
Kapal resmi jurusan Nunukan –Tawau Malaysia di pelabuhan Tunon Taka Nunukan 

Oleh Said Achmad Kabiru Rafiie

SATU pesawat Qantas Airlines take off dari bandara International Pulau Penang menuju Sydney Australia. Penang airport merupakan satu bandara tersibuk di Asia Tenggara yang melayani penerbangan lebih dari 100 negara tujuan. etiap tahunnya 6,5 juta pengunjung international dan domestik berkunjung ke Penang (New Straits Times, 2016), dengan berbagai kepentingan termasuk kunjungan turis dari Aceh. Selain itu, gambaran pelabuhan laut Pulau Penang yang merupakan pelabuhan ekspor tersibuk yang melayani lebih dari 1 juta TEU kargo.

Pulau yang terletak di perairan sibuk Selat Malaka dengan populasi 1,9 juta jiwa ini merupakan satu pusat pertumbuhan ekonomi Malaysia dengan pendapatan per kapita tertinggi Malaysia, serta kota yang memiliki tingkat penganguran terkecil 1,5%. Dengan segala pertumbuhan ekonominya, kota ini dijuluki Silicon Valley in the east (pusat pertumbuhan ekonomi timur) karena merupakan rumah bagi industri-industri berat, elektronik,kimia, dan jasa Malaysia.

Sejak akhir abad ke 17-18, Pulau Penang telah menjadi pusat transit perdagangan dan Haji di kawasan Asia Tenggara yang juga dibangun oleh tangan-tangan ulet saudagar-saudagar Aceh. Sebuah kawasan bazar dibangun oleh para pembisnis Aceh termasuk didalamnya mesjid tertua pulau Penang 1808 yang dibangun Tengku Syed Hussain Al-Aidid. Warisan ini menjadi saksi sejarah ketangguhan saudagar Aceh di kawasan Asia Tenggara.

Awal abad ke-20 dan Perang Dunia II (1939-1945) segalanya berubah, saudagar Aceh hilang pengaruhnya dan seiring dengan masuknya 3.000 perusahaan manufaktur dan perusahaan multinasional dunia termasuk Dell, Sony, Hitachi, Intel, AMD, Chevron, Altera, Motorola, Agilent, Renesas, Osram, Bosch dan sederatan perusahaan international lainnya membuka pabrik dan cabangnya di kawasan khusus Free Industrial Zone Bayan Lepas, Pulau Penang.

Banyaknya perusahaan dan pabrik di pulau penang menjadikan pulau penang pusat investasi yang paling dilirik investor, sehingga 45% pertumbuhan ekonomi pulau Penang disumbangkan oleh sektor manufaktur. Pemerintah membangun Free Industrial Zone Penang semacam kawasan Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (Kapet) yang ada di Sabang-Aceh sejak 1998 melalui Keppres No. 171 Tahun 1986, namun kini seperti matisuri.

Hubungan sejarah
Mengingat hubungan sejarah perdagangan antara Aceh dan Pulau Penang masa lalu, menarik untuk dikaji tentang pembangunan poros bisnis baru antara Aceh dan Pulau Penang. Hal ini bertujuan untuk mentransformasikan pembangunan ekonomi di Aceh menjadi satu pusat perekonomian di Asia Tenggara.

Untuk mindset Aceh masa depan, kita perlu memahami ekonomi Aceh masa lalu. Menurut catatan sejarah, Aceh merupakan satu pelabuhan ekspor-impor tersibuk di kawasan Asia Tenggara pada abad ke-16 (1509) dikutip dari (Ito Takeshi dan Anthony Reid, 2015) - Aceh Sultanate: State, Sociesty, Religion and Trade.

Pelabuhan Aceh menjadi tempat transit pedagang dari Arab, Persia, Turki, India, Cina, dan Eropa untuk melakukan traksaksi bisnisnya. Yang kedua ialah sektor pertanian merupakan urat nadi perekonomi Aceh sebagai sentral produksi beras dan lada di kawasan Asia Tenggara (Om Prakash, 1998), The Trading world of India and Souheast Asia in Early Modern period.

Mengingat sejarah ekonomi Aceh masa lalu sebagai pusat dagang dan pusat pertanian dikawasan Asia Tenggara. Konsep Pembangunan Poros Ekonomi Aceh Penang ini menjadi relevan untuk dibangun melalui pendekatan A Cluster-Based Approach to Inner City Economic Development yang paparkan oleh Profesor Michael E Porter (2011), ahli strategi bisnis dari Harvard University.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help