Home »

Opini

Opini

Melindungi Anak Disabilitas

FENOMENA anak-anak disabilitas pernah diulas Muakhir Zakaria dalam tulisannya d Aceh Institute bebarapa tahun lalu

Melindungi Anak Disabilitas
Mensos RI, Khofifah Indar Parawansa menerima lukisan yang diserahkan oleh salah seorang penderita disabilitas di sela-sela acara penyerahan bantuan sosial Program Keluarga Harapan (PKH) di Gedung Olah Seni (GOS), Kota Takengon, Sabtu (14/1). SERAMBI/MAHYADI 

Oleh Azmi Abubakar

FENOMENA anak-anak disabilitas pernah diulas Muakhir Zakaria dalam tulisannya d Aceh Institute bebarapa tahun lalu. Muakhir ingin menyadarkan kita betapa anak-anak disabilitas dikarunia bakat ilmu yang luar biasa. Dimana ketika tumbuh besar nantinya akan menjadi ilmuwan atau pakar yang hebat. Mesir misalnya anak-anak disabilitas tanpa campur tangan negara telah berusaha mandiri, mereka berkembang dalam keadaan mencintai ilmu dan mengembangkannnya.

Mesir telah memberi contoh yang cukup elegan kepada kita; bagaimana anak-anak disabilitas ini terus mengembangkan kualitas keilmuwannnya hatta menjadilah ia sebagai alim ulama atau pakar keagamaan. Universitas Al Azhar, Kairo, memiliki para ulama yang tak mampu melihat secara dhahir namun memiliki ketajaman ilmu yang luar biasa yang justru membuka mata hatinya untuk menerangi manusia-manusia ilmu.

Fakta yang terjadi di ranah lokal berbanding terbalik. Miris kita melihat di pinggir jalan anak-anak mengemis. Perilaku ini tak lepas dari praktik orang tuanya lalu diwariskan secara turun temurun. Padahal anak-anak disabilitas ini jika diorbitkan akan menjadi anak yang luar biasa apalagi jika dipumpun dalam ilmu keagamaan; menghafal Alquran misalnya.

Muakhir pernah menyebut sebuah penelitian dimana orang-orang buta itu dikarunia daya hafal yang tajam, sayang di Aceh ruang ini tak dimanfaatkan secara sempurna. Begitu pula jauh-jauh hari imam Algahzali telah menggolongkan manusia kepada empat golongan. Pertama manusia yang tahu bahwa ia punya ilmu, lalu memberikan kepada manusia lain. Kedua manusia yang tahu bahwa ia tak mempunyai ilmu lalu ia menggali ilmu.Ketiga manusia yang yang tidak tahu bahwa ia mempunyai ilmu. Yang keempat manusia yang tidak tahu bahwa ia tak mempunyai ilmu.

Anak disabilitas harus dipumpun untuk sadar bahwa ia memiliki bakat yang luar biasa, agar mempergunakan ruang itu untuk terus menggali ilmu. Peran keluarga sebagai masyarakat terkecil sangat berpengaruh dalam melindungi lahir dan batin anak-anak disabilitas, ini juga yang selalu diingatkan Fathullah Gulen dalam bukunya Tarbiyatul Aulad. Apa yang terjadi dalam kasus Haikal (Serambi, 2/4/2017) menjadi pelajaran akan tanggung jawab orang tua membina anak disabilitas.

Kehadiran Negara dalam memberi dukungan materi menjadi kesempatan Haikal di masa depan nantinya. Ia mewakili sejumlah anak disabilitas lainnya di Aceh yang harus terus dibina, sehingga anak-anak disabilitas yang berprofesi pengemis sudah tak ada lagi. Perlundungan kepada anak-anak secara normatif telah diatur dalam perundangan-undangan Negara, baik itu undang-undnag perlindungan anak maupun dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI).

Perhatian khusus
Turunnya surah Abbasa tak lepas dari teguran Allah kepada Rasulullah karena mengabaikan seorang sahabat yang tak bisa melihat (Ar-Razi, 1981). Lalu, Rasulullah saw memberi perhatian khusus kepada sahabat Abdulah bi Ummi Maktum, Rasululah menyebut Abdullah bin Ummi Maktum dengan sahabat mulia yang karena engkau aku ditegur Allah.

Narasi kemudian berlanjut tentang bagaimana Abdullah bin Ummi Maktum mampu mengemban tugas-tugas dakwah dengan baik. Ia menjaga kota Madinah ketika kaum muslimin mengikuti perang, ia juga menjadi muazin bersama Bilal bin Rabah. Sejarah kegemilangan Bani Umaiyah dan Bani Abbasiyah juga turut diwarnai oleh pakar-pakar hebat yang ssecara fisik mempunyai kekurangan tetapi secara ruh memancarkan cahaya ilmu yang luar biasa.

Kita perlu menyadari kembali bahwa hakikat manusia ini tak hanya bertumpu pada fisik semata. Bahwa konsep al-insanu hayawanun natiq harus dipahami secara aplikatif. Kesempurnaan manusia terletak pada berpikir yakni pikiran yang selalu bertumpu pada ilmu. Jika upaya berpikir sudah tak eksis lagi, maka manusia sama saja dengan hewan dengan segala aktivitas hewaniyah seperti tidur dan mencari makan.

Sehingga Islam menempatkan usaha pikir dan dimensi jiwa pada tempat yang mulia, sehingga jika dikaitkan dengan fisik sempurna dantak sempurna itu tak berpengaruh apa-apa, karena fokus utama manusia adalah pada pikir dan kualitas jiwanya. Para ulama muktabar yang telah meninggal beberapa abad lalu seolah sampai sekarang masih hidup. Bersebab apa yang hidup itu adalah pemikirannnya. Ini yang perlu dimiliki tak hanya anak disabilitas saja tetapi generasi-generasi normal lainnya.

Islam melalui kajian ushul fiqh telah memberikan ruang besar berupa keringanan mengerjakan perbuatan syara’ dalam hukum wadh’i (rukhsah) kepada kaum disabilitas. Islam adalah agama yang moderat yang menyejajarkan kaum disabilistas dengan kaum normal.

Ahmad seorang remaja disabilitas yang hidup ujung kota Kairo, Mesir, telah membuktikan bahwa dia adalah pribadi yang berkualitas, di saat dua tongkat menggantikan kakinya untuk merangkak melaksanakan perintah shalat Shubuh.

Di Aceh ada Haikal yang minta dibeli Ipad agar bisa leluasa menggeluti ilmu-ilmu pengetahuan. Haikal harus terus disayang dan diawasi agar tak pula terjebak dengan arus teknologi liar. Alangkah baiknya Haikal lebih diakrabkan lagi dengan Alquran, menuntunnya untuk mengahafal baris demi baris ayat-ayat Allah. Melindungi Haikal dan anak-anak disabilitas lainnya, akan mampu menaikkan peradaban Aceh masa depan.

Azmi Abubakar, alumnus Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Saat ini sedang mengikuti pendidikan program pascasarjana bidang Hukum Keluarga, di UIN Ar-Raniry darussalam, Banda Aceh. Email: azmiabubakarmali@gmail.com

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help