SerambiIndonesia/

Bengkel dan Cuci Motor ‘Bisu’ di Pango

SEKILAS tidak ada yang berbeda dengan sebuah usaha cuci motor sekaligus bengkel di Jalan Prof Ali Hasjmy, Pango Raya, Ulee Kareng, Banda Aceh

Bengkel dan Cuci Motor ‘Bisu’ di Pango
SERAMBI/HARI MAHARDHIKA
WARTAWAN Serambi Indonesia, Mawaddatul Husna berbincang dengan pemilik doorsmeer dan bengkel di Jalan Prof Ali Hasjmy, Pango Raya, Ulee Kareng, Banda Aceh, Selasa (11/4).SERAMBI/HARI MAHARDHIKA 

SEKILAS tidak ada yang berbeda dengan sebuah usaha cuci motor sekaligus bengkel di Jalan Prof Ali Hasjmy, Pango Raya, Ulee Kareng, Banda Aceh. Tepatnya di sisi kanan badan jalan dari arah Simpang BPKP menuju jembatan layang yang membelah Krueng Aceh.

Tapi banyak yang kaget saat meminta jasa para pekerja di bengkel ini. Pasalnya, lima dari enam pekerja di bengkel ini, termasuk pemiliknya yaitu Andry Supriadi (27), adalah penyandang disabilitas tuna rungu (gangguan pendengaran). Akibatnya, hampir seluruh transaksi di bengkel “Andri Usaha Motor” ini berlangsung dalam bahasa isyarat.

Namun, Anda yang tidak pandai bahasa isyarat tidak perlu khawatir, karena para pekerja di bengkel ini juga mampu berkomunikasi dengan menggunakan tulisan. Mereka akan langsung mengambil buku tulis dan pulpen jika ada pelanggan baru yang kebingungan untuk mengutarakan keinginannya. Maka, jika mau memperbaiki sepeda motor, Anda tinggal menuliskan apa saja yang harus diperbaiki dari kendaraan Anda.

Selasa (11/4), Serambi berkesempatan untuk ‘berbincang-bincang’ dengan pemilik bengkel tersebut yang bernama Andry Supriadi (27). Ia adalah penyandang disabilitas tuna rungu, tamatan dari SMA LB YPAC 2 yang berlokasi di Desa Santan, Aceh Besar.

Wawancara dimulai sekitar pukul 11.00 WIB, ditemani oleh rekannya, Mubaraq (29), Andry awalnya sempat meminta rekannya saja yang menjawab pertanyaan yang ditulis oleh Serambi pada sebuah buku saat disodorkan kepadanya.

Dengan bahasa isyarat, Andry meminta Mubaraq yang juga penyandang disabilitas tuna rungu untuk menuliskan jawaban dari pertanyaan itu. Namun Mubaraq tetap mempersilakan Andry untuk menjawabnya sendiri. Meskipun begitu, selama wawancara berlangsung, Mubaraq juga ikut membantu Andry untuk menjawab tiap pertanyaan melalui tulisan, dan sekali-kali menggunakan bahasa isyarat.

Melalui tulisan yang terkadang dibantu isyarat tangan, Andry menuturkan usaha doorsmeer dan bengkel itu sudah dirintisnya selama tiga tahun. Berawal dari sang ayah yang menjual rumah dan tanah di Jantho, Aceh Besar kemudian membelikannya tanah di Pango Raya untuk ia buka usaha agar lebih mandiri.

“Andry gak punya apa-apa. Jadi Andry minta tanah sama ayah untuk buka usaha ini. Tahun 2012 saya kerja ada kios tempel ban, sepi ya gak laku. Kalau di sini (usaha cuci motor dan bengkel) laku,” tulis Andry menjawab Serambi.

Usaha itu diberi nama “Andri” yang ditulis pada papan nama dan tertempel pada bangunan setengah permanen tersebut. Di papan merek usaha itu juga tertulis beberapa fasilitas yang disediakan, di antaranya ganti ban, ganti oli, ganti jok, service, tempel ban, air baterai, dan doorsmeer (cuci motor).

Menurut anak kedua dari empat bersaudara ini, ilmu tentang perbengkelan diperolehnya secara otodidak atau belajar sendiri tanpa dibantu seorang pun. Berbekal keahlian itu, Andry membuka usahanya agar benar-benar dapat hidup secara mandiri di tengah keterbatasan yang dimilikinya.

Andry tidak bekerja seorang diri, ia dibantu oleh lima pekerja yang merupakan teman-temannya. Empat orang dari mereka juga penyandang disabilitas tuna rungu, yaitu Muhazirullah (23), Nasrullah (31), dan Sayuti (19) ketiganya dari Pidie, serta Siregar (29) asal Langsa. Satu-satunya pekerja yang mampu mendengar dan berbicara di bengkel ini adalah Khairunnas (32). Pemuda asal Blangkrueng, Aceh Besar ini, baru bergabung dengan bengkel ini sejak Maret 2017.

Meskipun saat ini sudah memiliki satu usaha, namun Andry memiliki impian lainnya yaitu dapat membeli toko dan mengembangkan usahanya agar lebih besar lagi, serta dapat menjadi orang sukses. “Tambah modal lagi, beli toko lagi,” tulis lelaki asal Blang Bintang, Aceh Besar ini yang juga seorang piatu. Sang ibu meninggal pada 2003 karena penyakit asma.

Rekannya, Mubaraq menambahkan melalui pesan yang ditulisnya di handphone dan diperlihatkan ke Serambi. Ia menulis ‘banyak yang tuli ingin bekerja, tapi gak keterima karena cacat. Karena pemerintah gak buka lowongan kerja untuk penyandang disabilitas, dan tunarungu banyak nganggur’.

Nah, itulah sedikit harapan kepada pemerintah dari penyandang disabilitas! (mawaddatul husna)

Menengok Bengkel “Bisu” di Pango

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help