Sabtu, 11 April 2026

Citizen Reporter

Belajar Hebat dari Finlandia

NO child left behind (tidak boleh ada anak yang tertinggal perkembangannya) adalah slogan sangat indah yang digaungkan oleh banyak negara di dunia

Editor: hasyim

FACHRURRAZI MD, alumnus University of Tampere dan guru di Sekolah Sukma Bangsa Bireuen, melaporkan dari Tampere, Finlandia

NO child left behind (tidak boleh ada anak yang tertinggal perkembangannya) adalah slogan sangat indah yang digaungkan oleh banyak negara di dunia. Tetapi secara realitas yang berhasil menerapkannya adalah sebuah negara kecil nan terpencil di sudut Eropa Timur dan secara konsisten terus mengalahkan negara-negara maju lainnya di seluruh dunia dalam hal pelayanan pendidikan dan pelayanan sosial warganya. Negara dimaksud adalah Finlandia.

Finlandia (Suomi) adalah sebuah negara Nordic yang berjarak cuma ribuan kilometer dari kutub utara yang terkenal memiliki air terbersih di Eropa karena memiliki 187.888 danau. Cuaca dingin menusuk di bawah nol derajat adalah sebuah fenomena alam biasa di sini karena jarak ke kutub utara hanya 3.173 km. Saya berkesempatan mengunjungi Finlandia, tepatnya Kota Tampere, 90 km sebelah utara Helsinki, ibu kota negaranya, untuk menyelesaikan studi teacher education saya di University of Tampere.

Sudah sebulan saya berada di Kota Tampere untuk menyelesaikan masa-masa akhir studi teacher education saya di University of Tampere. Kesempatan itu juga saya manfaatkan untuk berkeliling kota melihat situs-situs peninggalan abad pertengahan yang indah dan terawat sangat baik. Sebagian situs tersebut merupakan peninggalan Kerajaan Swedia dan Kerajaan Rusia yang selama ratusan tahun menduduki wilayah Finlandia.

Selain menghadiri kuliah rutin saya di kampus, saya juga berkewajiban mengunjungi beberapa sekolah dan kampus. Sekolah yang saya kunjungi adalah upper secondary school (SMA), lower secondary school (SMP), dan primary school (SD) yang keseluruhannya merupakan laboratory school dari University Tampere.

Selain itu, saya juga mengunjungi beberapa sekolah internasional. seperti The Finnish International School of Tampere (FISTA) di mana kebanyakan siswanya adalah imigran-imigran dari luar Finlandia seperti Swedia, Rusia, Pakistan, Suriah, Irak, Spanyol, Tiongkok, dan Indonesia. Saya beruntung bisa berjumpa dengan beberapa warga asal Indonesia yang sudah lama bermukim di Tampere. Sebagian besar mereka sudah menikah dengan pria Finlandia dan menjadi warga negara Finlandia. Mereka mengatakan bahwa Pemerintah Finlandia sangat peduli akan pendidikan anak-anak. Proses pendidikan dimulai sedini mungkin dari rumah tangga hingga anak-anak terbiasa mandiri dari kecil.

Orang tua juga ikut berpartisipasi dalam mengembangakan putra-putri mereka. Jika mereka berasal dari latar belakang keluarga yang berbeda, maka biasanya mereka bisa berbicara berbagai bahasa seperti Finnish, Inggris, Swedia, Indonesia, Arab, Rusia, Spanyol, Jerman, and Prancis.

Di Finlandia, semua warga terbiasa bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri tanpa tergantung kepada orang lain. Sikap ini ditanamkan sejak kecil oleh semua keluarga, sehingga setiap personal di rumah tangga sudah tahu tanggung jawabnya dan akan melaksanakan hal tersebut secara mandiri.

Lingkungan yang mandiri dan teratur juga membentuk pola hidup yang independen. Masyarakat di Finlandia tidak terbiasa tergantung dengan apa pun. Dalam hal transportasi, misalnya, masyarakat terbiasa menggunakan transportasi umum bersama-sama. Jalanan modern di Finlandia jarang sekali macet. Mobil-mobil pribadi hanya mendominasi sebagian kecil saja jalanan kota, sisanya didominasi oleh bus-bus panjang dan lebar yang mengangkut penumpang ke seluruh sudut kota.

Jikapun warga tidak ingin menggunakan bus umum, maka mereka akan memilih berjalan kaki ke lokasi tujuan. Mereka terbiasa berjalan kaki sekitar 20-40 menit ke tempat kerja atau universitas. Saya juga merasa tertantang untuk menjajal tradisi Nordic walk ini. Saya berhasil mencapai kampus saya dari asrama tempat saya tinggal dengan kaki pegal dan sepatu lecek karena kurang terbiasa berjalan. Itulah sedikit potret tentang mandirinya masyarakat Finlandia.

Yang tak kalah hebatnya adalah budaya kolaboratif yang dipupuk sejak bangku sekolah dasar. Orang Finlandia terbiasa bekerja sama untuk mencapai tujuannya. Semua warga terbiasa berkontribusi aktif tanpa menunggu dikerjakan orang lain lebih dulu. Di Indonesia kita cenderung memakai budaya sebaliknya, yaitu budaya kompetitif di mana kita akan bekerja mati-matian seorang diri agar kita menjadi yang terdepan, terpandai, terkaya dan seterusnya. Sekarang, siswa-siswa Finlandia memang bukan nomor satu lagi setelah dikalahkan siswa-siswa Singapura dalam tes yang dikenal dengan nama PISA (untuk mengukur kemampuan siswa-siwa di bidang sains, membaca, dan matematika). Tetapi siswa-siswa di Finlandia memiliki skor rata-rata terbaik di seluruh dunia. Artinya, meskipun secara kompetitif mereka kalah, tapi secara kolaboratif nilai rata-rata siswa Finlandia nomor satu di dunia. Hal ini menegaskan kembali bahwa filosofi mereka yang mendahulukan nilai-nilai kolaborasi daripada nilai-nilai kompetensi inilah yang menjadikan mereka salah satu negara terbaik di dunia dalam penyelenggaraan pelayanan pendidikan dan sosial bagi warganya.

* Bila Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas Anda ke email: redaksi@serambinews.com

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved