SerambiIndonesia/

Keluarga Temui Nelayan yang Ditahan

Enam nelayan tradisional dari Aceh Barat yang ditahan Polisi Pengairan (Polair) Polda Aceh dalam kasus penggunaan alat tangkap ikan

Keluarga Temui Nelayan yang Ditahan
SERAMBI/RIZWAN
Sebanyak 8 alat tangkap ikan jenis trawl merupakan hasil tangkapan nelayan ketika dimusnahkan dengan dibakar di kawasan Suak Seumaseh, Kecamatan Samatiga, Aceh Barat, Jumat (24/2) sore.SERAMBI/RIZWAN 

* Berharap Kasusnya Diselesaikan Hukum Adat Laot

MEULABOH - Enam nelayan tradisional dari Aceh Barat yang ditahan Polisi Pengairan (Polair) Polda Aceh dalam kasus penggunaan alat tangkap ikan jenis pukat harimau (trawl) bertemu dengan keluarga. Kesedihan dan isak tangis mewarnai pertemuan karena sudah tiga pekan sejak 28 Maret 2017, enam nelayan tersebut berpisah karena ditahan Polda Aceh.

Selain keluarga dari enam nelayan juga hadir para pemilik boat karena sesuai jadwal mereka akan dimintai keterangan oleh Polair Polda Aceh sebagai saksi dalam kasus tersebut. “Kita akan lakukan pendampingan hukum. Kita berharap keenam nelayan yang ditahan segera dilepaskan atau ditangguhkan penahanannya,” kata Ketua Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA) Aceh Barat dan Aceh Jaya Hamdami kepada Serambi kemarin.

Dia sebutkan polisi sejauh ini sudah memintai keterangan untuk keenam nelayan yang ditahan. Permintaan keterangan oleh penyidik juga akan dilakukan kepada para pemilik boat. “Kami ramai-ramai dari Meulaboh. Ada keluarga dari nelayan dan pemilik boat. Kami berharap kasus ini dapat diselesaikan dengan hukum adat laot,” harapnya.

Seperti diberitakan, Direktorat Polisi Pengairan (Polair) Polda Aceh menahan enam nelayan Aceh Barat dalam kasus penggunaan alat tangkap ikan jenis pukat harimau (trawl). Keenam nelayan ditahan polisi pada 28 Maret 2017 setelah sebelumnya ditangkap Satpolair Polres Aceh Barat di perairan laut Meulaboh. Hingga kemarin keenam nelayan tradisional tersebut masih mendekam di sel Polair Polda Aceh.

Mereka dijerat Undang-undang Nomor 31 Tahun 2014 Tentang Perikanan. Penangkapan enam boat nelayan yang diduga menggunakan alat tangkap dilarang atau jenis trawl itu dilakukan Polair Polres Aceh Barat pada 23 Maret 2017 di perairan laut Meulaboh, Aceh Barat. Enam nelayan yang hingga kemarin masih ditahan Polair Polda Aceh tercatat semuanya penduduk Aceh Barat.

Yaitu Surya Adrianto (42) warga Pasi Masjid, Baktiar (37) warga Paya Peunaga, M Mizar (37) warga Ujong Baroh, Aliman (52) warga Padang Seurahet, Yuli Saputra (32) warga Padang Seurahet dan R Din (46) warga Peunaga Baro.

Operasi Penertiban
Trawl Berlanjut
Kapolres Aceh Barat AKBP Teguh Priyambodo Nugroho kepada wartawan kemarin pihak sudah kerap kali mengingatkan kepada nelayan agar dalam beraktifitas menangkap ikan harus menggunakan alat tangkap yang tidak merusak ekosistem laut atau ramah lingkungan.

“Sudah sering dilakukan sosialisasi dan diingatkan kepada nelayan bahwa jangan digunakan alat tangkap yang dilarang,” kata Kapolres. Ia menyebutkan operasi penertiban alat tangkap yang dilarang negara akan terus dilakukan polisi bersama Dinas Kelautan dan Perikanan bersama serta TNI-AL.(riz)

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help